//
you're reading...
Research

Ledakan Data

Anda mungkin pernah suatu kali tiba-tiba dikirimi berbagai penawaran belanja barang-barang elektronik atau tawaran diskon di berbagai restoran terkemuka dari penerbit kartu kredit yang anda pegang saat ini. Mengapa itu bisa terjadi? Sebenarnya yang terjadi dan mungkin tidak anda sadari adalah penerbit kartu kredit tersebut secara “diam-diam” memantau dan menganalisa perilaku belanja anda dari waktu ke waktu, sehingga penerbit kartu kredit mengenal lebih dekat kebiasaan dan perilaku belanja anda.

Kasus diatas adalah sedikit contoh dari bagaimana data dan informasi bisa berpengaruh penting terhadap pengambilan keputusan bisnis suatu perusahaan. Contoh lain adalah bagaimana perusahaan maskapai penerbangan bisa menetapkan harga tiket pesawat yang lebih fluktuatif dan berubah-ubah secara harian atau jam tergantung dari tingkat demand dari tiket pesawat tersebut.

Ada dua film yang menarik perhatian saya ketika berbicara tentang data. Pertama, Moneyball (2011), film yang dibintangi Brad Pitt ini bercerita bagaimana data analysis membantu seorang pelatih baseball merekrut pemain-pemain potensial menggunakan analisa statistik dan matematika yang kita kenal dengan teori Sabermetric. Kedua, HER (2013), film yang dibintangi Joaquin Phoenix, bercerita bagaimana seorang lelaki kesepian menemukan “kekasihnya” di dunia maya, uniknya kekasih yang bernama Samantha ini adalah seorang “wanita maya” yang secara “cerdas” mampu mengartikulasikan bahasa dan konteks lawan bicaranya sehingga bisa diajak komunikasi persis seperti “wanita nyata” pada umumnya.

***

Sebagai seorang peneliti, saya mengamati dalam 2-3 tahun ini banyak pengamat bicara tentang terminologi tentang big data, big data menghias berbagai tajuk majalah-majalah bisnis dan rak-rak buku terbitan terbaru. Lalu sebenarnya apa itu Big Data? Big data adalah sekumpulan data yang sangat banyak dan besar, jutaan record dan field, hingga alat-alat analisis tradisional sudah tidak relevan lagi untuk digunakan sebagai alat analisisnya.

Lalu sebenarnya dari mana data yang banyak itu berasal? Seorang kawan pernah bercerita ke saya bahwa setiap kali kita menulis status di social media, Facebook, Twitter, atau Path itu kita seperti sedang menulis sejarah. Ya sejarah tentang diri kita sendiri atau sejarah orang lain. Secara tidak sadar kita telah meninggalkan “jejak” setiap aktifitas kita di internet, dan jejak itu kemudian menjadi data, jadi kalau anda setiap hari menulis status di Twitter/Facebook, posting foto di Path/Instagram, check in di Foursquare itu berarti anda telah memproduksi data itu sendiri.

Karena saking besarnya big data memerlukan seperangkat tools baru yang lebih canggih dan advance. Tools itu kemudian kita kenal sebagai data analytic. Berbeda dengan data analysis, data analytic lebih menekankan pada bagaimana seorang peneliti mampu melakukan eksplorasi dan analisa data secara simultan dan kemudian mampu menemukan pola yang insightful dan actionable dari data.

Terkait dengan trend big data ini, menurut saya ada tiga tantangan utama seorang peneliti. Pertama, Data Explosion, tantangan peneliti dewasa ini bukan lagi bagaimana menemukan data (data collection) karena data sudah melimpah ruah, justru yang diperlukan adalah data filtering untuk memilah data apa yang relevan dan data apa yang “sampah”.

Kedua, Interconnected and Multitasking Method, untuk menganalisa big data diperlukan kontribusi berbagai disiplin ilmu, disini peran ilmu statistika, ilmu pemrograman, dan data visualization saling terkait. Ilmu statistika berperan sebagai landasan eksplorasi data dan teori pengukuran, Ilmu pemograman berperan memudahkan otomisasi model pengukuran sehingga analisa data lebih cepat dan akurat, data visualization berperan untuk komunikasi data lebih mudah dicerna pengguna data.

Ketiga, Time Pressure, fenomena perubahan yang terjadi semakin cepat menuntut pengguna data juga ingin mendapatkan informasi secepat mungkin, malah kadang mereka ingin informasi secara real time, menyebabkan peneliti dihadapkan pada tantangan bahwa hasil kerja seorang peneliti semakin cepat pula.

Melihat trend big data yang semakin berkembang saat ini maka tidak salah bila majalah Harvard Business Review (HBR) edisi Oktober 2012 pernah menulis “Data Scientist: The Sexiest Job of the 21st Century”. Are You Ready?

Oleh:
Hasanuddin Ali
CEO
Alvara Strategic Research

Advertisements

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Gerakan Berbagi Data: #1Day1Data | Hasanuddin Ali - May 4, 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

%d bloggers like this: