Empat belas tahun lalu, ketika Alvara pertama kali berdiri, dunia riset terasa tidak serumit sekarang. Pertanyaannya jelas, metodologi relatif tidak banyak berubah, hasilnya pun angka-angka yang dihasilkan mudah untuk dianalisa. Klien datang dan pergi dengan segala kebutuhannya, kami menjawab dengan data. Ada rasa yakin bahwa angka-angka yang tersaji sudah cukup untuk menggambarkan realitas.

Hari ini, saya melihat semuanya dengan cara yang berbeda.

Bukan karena riset menjadi lebih sulit, tetapi karena Indonesia sendiri berubah dengan cara yang tidak lagi sederhana.

Perubahan itu tidak selalu terlihat di permukaan, tetapi terasa dalam keseharian. Dan sering kali, justru tidak sepenuhnya tertangkap oleh angka.

Di atas kertas, ekonomi Indonesia masih terlihat baik-baik saja. Pertumbuhan stabil di kisaran lima persen. Konsumsi tetap menjadi penopang utama. Berbagai indikator menunjukkan optimisme dengan segala variasinya. Tetapi di balik itu, kita juga melihat sesuatu yang lain. Cara orang membelanjakan uangnya berubah. Kini, cara orang mengambil keputusan menjadi lebih hati-hati.

Mungkin ini yang sering tidak terlihat, ekonomi bisa stabil, tetapi psikologi masyarakat belum tentu sepenuhnya tenang.

Dan saya mulai merasa, riset hari ini tidak cukup hanya menjawab “apa yang terjadi”. Riset harus mulai memahami “mengapa orang merasa seperti itu”.

Perubahan lain yang sangat terasa adalah soal generasi. Kebetulan kami bertahun-tahun sejak 2016 hingga kini secara reguler melakukan riset mendalam tentang generasi di Indonesia dengan segala dinamikanya.

Dulu, membagi pasar berdasarkan demografi seperti kategorisasi umur sering kali sudah cukup. Hari ini, pendekatan itu terasa terlalu sederhana.

Anak muda tidak hanya berbeda usia, tetapi juga berbeda cara hidup. Ada yang sangat aktif secara sosial, ada yang sepenuhnya hidup di dunia digital, ada juga yang memilih hidup lebih santai tanpa terlalu banyak tekanan.

Yang menarik, semuanya hidup berdampingan. Bahkan dalam satu lingkungan yang sama.

Ini membuat Indonesia menjadi jauh lebih berlapis. Tidak bisa lagi dilihat sebagai satu wajah yang seragam. Ada banyak kasus, seakan kita berjalan diarah yang sama tapi kadang dengan logika yang berbeda.

Dan bagi kami di dunia riset, ini berarti satu hal, memahami Indonesia menjadi pekerjaan yang jauh lebih menantang, tetapi juga lebih menarik.
Dunia digital juga semakin merasuk dalam kehidupan kita, bahkan hingga ke ruang privat kita.

Hari ini, sebagian besar masyarakat Indonesia sudah terhubung dengan internet. Aktivitas sehari-hari, berkomunikasi, berbelanja, mencari informasi semakin banyak berpindah ke ruang digital. Bagi dunia riset, ini membuka peluang yang luar biasa. Data menjadi lebih melimpah, perilaku bisa diamati lebih dekat, bahkan opini publik bisa ditangkap hampir secara real time.

Namun, di tengah kelimpahan itu, ada tantangan baru.

Semakin banyak data, tidak selalu berarti semakin mudah memahami.

Justru sebaliknya, kita dihadapkan pada pertanyaan yang lebih mendasar, mana yang benar-benar penting? Mana yang sekadar viral tetapi tidak bermakna? Mana yang mencerminkan realitas, dan mana yang hanya kebisingan?

Di sinilah peran riset berubah. Bukan lagi sekadar mengumpulkan data, tetapi menyaring dan memberi makna.

Perubahan terbesar dalam beberapa tahun terakhir mungkin datang dari perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau AI.

AI membuat banyak hal menjadi lebih cepat. Proses analisis bisa dipersingkat, visualisasi bisa dibuat dengan mudah, bahkan ringkasan laporan bisa dihasilkan dalam hitungan detik. Apa yang dulu membutuhkan waktu berhari-hari, kini bisa dilakukan dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Tetapi di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan baru.

Jika semua orang bisa menghasilkan analisis, di mana letak nilai sebuah lembaga riset?

Saya melihat jawabannya bukan pada sekadar kecepatan, tetapi pada kedalaman dan relevansi. Bukan pada banyaknya output, tetapi pada ketepatan dalam membaca situasi. Dan yang paling penting, pada kemampuan untuk mengajukan pertanyaan yang benar sejak awal.

Karena pada akhirnya, kualitas jawaban sangat ditentukan oleh kualitas pertanyaan yang kita ajukan.

Empat belas tahun perjalanan Alvara, bagi saya pribadi, adalah proses belajar yang tidak pernah benar-benar selesai.
Kami pernah merasa sudah memahami pasar, lalu pasar berubah.

Kami pernah merasa metode yang digunakan sudah cukup, lalu terasa perlu diperbarui.

Kami pernah merasa sudah dekat dengan realitas, lalu menyadari bahwa realitas bergerak lebih cepat dari yang kami bayangkan.

Dan setiap kali itu terjadi, kami belajar lagi.
Mungkin di situlah kuncinya. Bukan pada merasa paling tahu, tetapi pada kesediaan untuk terus memahami.

Ke depan, perubahan akan semakin cepat.
Indonesia akan semakin digital, tetapi juga semakin beragam.

Ekonomi akan tetap tumbuh, tetapi tekanan hidup tidak akan hilang begitu saja.

Generasi muda akan semakin dominan, tapi tidak lama karena akan menua, cara pandang mereka tidak bisa disederhanakan.

Teknologi akan semakin canggih, tetapi kebutuhan akan institusi yang bisa dipercaya justru akan semakin besar.

Dalam situasi seperti ini, saya justru melihat peran riset menjadi semakin penting.

Bukan sekadar untuk menjawab pertanyaan, tetapi untuk membantu melihat dengan lebih jernih.

Dalam berbagai kesempatan saya sering menyampaikan bahwa riset berperan setidaknya dalam tiga hal. Pertama ia harus bisa menyampaikan fakta secara benar dan akurat. Kedua, riset harus mampu menjadi alarm atas perubahan yang akan terjadi, dan ketiga, hasil riset harus menjadi penunjuk arah, menjadi mercusuar bagi mereka yang membutuhkan.

Empat belas tahun Alvara bukan hanya tentang bertahan. Ini adalah perjalanan untuk terus menyesuaikan diri dengan perubahan, tanpa kehilangan pijakan.

Dan mungkin, di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, ada satu hal yang ingin terus kami jaga, yaitu kemampuan untuk memahami manusia dengan segala kompleksitasnya.

Karena pada akhirnya, di balik setiap data dan angka selalu ada cerita.

Dan di situlah riset seharusnya dimulai.

Leave a comment

Selamat datang bagi yang suka dengan data dan analisis seputar dunia pemasaran, sosial politik, dan digital

Let’s connect