//
you're reading...
Social/Politic

NU dan Kaum Sarungan

Siapa orang-orang NU itu? Itu pertanyaan yang sering di tanyakan ke saya oleh teman-teman nongkrong saya, teman-teman saya ini termasuk golongan masyarakat Indonesia yang tidak berafiliasi dengen kelompok dan pandangan tertentu. Saya jawab dengan enteng orang NU itu orang yang biasa sarungan J.

Stigma sebagai kelompok sarungan memang cocok dengan NU, lihat lah di setiap acara NU, seresmi apapun pasti ada yang memakai sarung. Dulu KH Asad Syamsul Arifin Almarhum dari Situbondo ketika menghadap Presiden Soeharto juga memakai sarung.

Itu dulu, lalu apakah stigma ini masih relevan dengan kondisi kekinian? Jangan-jangan sebagian besar warga NU sudah mulai meninggalkan baju kebesaran itu. Melihat data BPS bahwa sekarang jumlah penduduk kota lebih banyak dari penduduk desa bisa jadi sinyalemen itu benar adanya.

Jumlah orang NU di Indonesia berdasarkan klaim atau survei selalu berkisar di antara 40 – 50 juta orang, angka ini didapat berdasarkan ritual-ritual yang mereka lakukan. Jadi kalau orang itu masih tahlilan, haul, ziarah kubur maka mereka digolongkan sebagai orang NU.

Kalau dilihat sebagai jamiyah mungkin jumlah itu benar, tapi kalo di anggap jama’ah bisa jadi angka itu terlalu berlebihan. Bisa jadi mereka memang melakukan ritual-ritual NU, tapi begitu tanya apakah mereka mengidentikkan dengan NU bisa jadi tidak.

NU dalam teori kekinian mungkin bisa juga disebut sebagai komunitas. Sebagai komunitas mestinya setiap orang yang merasa bagian dari komunitas NU harus memiliki purpose (tujuan), values (nilai-nilai), dan Identity (identitas) yang menunjukkan diri sebagai orang NU.

Secara Identitas mungkin sudah bagus, karena identitas orang NU itu jelas, suka tahlilan, ziarah kubur dan hal-hal yang berbau mistik/tasawuf, tapi perihal ciri yang pertama dan kedua masih tanda tanya, Orang NU selalu mengatakan bahwa “ideologinya” adalah Ahlusunnah Wal Jamaah (Aswaja), namun saya yakin hanya sebagian kecil orang NU yang paham 100% Aswaja ala NU itu, apalagi sekarang bertebaran aliran-aliran baru yang mengklaim dirinya Aswaja.

Karena itu menurut saya hal penting yang harus dilakukan oleh Pengurus Besar NU adalah memperkuat basis “Ideologi” ke NU annya agar komunitas NU semakin solid, kalo tidak, NU akan semakin kehilangan makna kehadirannya dikalangan masyarakat Indonesia.

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

%d bloggers like this: