//
you're reading...
Economy, Social/Politic

Kelas Menengah dan Agenda Perubahan

“Kelas menengah” di Indonesia beberapa tahun belakangan ini menjadi terminologi yang seksi untuk di perbincangkan, Diberbagai media para pengamat berlomba-lomba menganalisa “siapa” dan “apa” karakteristik kelas menengah itu. Riset tekait dengan perilaku kelas ini juga mulai banyak dilakukan

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang baik, rata-rata 6,4%, menjadikan kelas menengah Indonesia tumbuh signifikan. Pendapatan per kapita penduduk Indonesia tahun 2010 mencapai USD 3000, sebuah angka keramat untuk tinggal landas, tahun 2014 di perkirakan pendapatan perkapita Indonesia mencapa USD 5000.

Kebanyakan pengamat mengulas dari sisi ekonomi dan pemasaran, memang beralasan karena kelas menengah memiliki populasi yang besar dan yang lebih penting memiliki buying power yang tinggi. Sebagai contoh lihatlah penjualan mobil yang terus meningkat pesat, penjualan consumer electronic yang rata-rata setiap tahun tumbuh diatas 25%, Handphone hampir setiap 3 bulan sekali pasti ada produk baru yang diluncurkan.

Selain jumlahnya yang besar, aspek penting lain yang penting untuk diperbincangkan adalah apa peran dan kontribusi kelas menengah di kehidupan berbangsa dan bernegara kita, bagaimana pendapat dan aspirasi mereka di politik misalnya, bagaimana dengan korupsi dan isu-isu sosial lainnya.

Sosial media seperti facebook dan twitter kebanyakan menjadi corong kelas menengah dalam menyampaikan aspirasi mereka. Mereka mengomentari apa saja yang mereka lihat dan rasakan, dengan bahasa sarkastis mereka mengkritik berbagai kebijakan publik yang di rasa tidak sesuai dengan rasa keadilan. Namun sayang sekali, mereka hanya berisik di social media, ramai di wacana tapi miskin aksi nyata.

Jangan-jangan sinyalemen Karl Mark bahwa kelas menengah adalah “kelas banci” adalah memang benar. Seperti kita ketahui dalam teorinya Mark hanya mengenal dua kelas pemodal dan kelas pekerja. Namun belakangan kelas pekerja mengalami reduksi makna hanya diidentikan dengan kelompok pekerja “blue collar”, sementara pekerja menengah atas yang lebih dekat dengan kelompok pemodal kemudian dikenal dengan kelompok menengah.

Tentu saja kedepannya kita sangat berharap besarnya jumlah kelas menengah di Indonesia bisa mejadi pendorong kehidupan berbangsa dan bernegara kita, kelas ini harus menjadi yang terdepan dalam memimpin gerakan perubahan kearah lebih baik.

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

%d bloggers like this: