Ada satu kebiasaan yang belakangan semakin sering saya perhatikan dan itu juga terjadi pada saya. Ketika orang-orang seusia saya berbicara dengan teman yang berasal dari daerah yang sama, bahasa daerah biasanya mengalir begitu saja, lancar sekali. Tetapi ketika berbicara dengan anak-anak mereka, bahasanya tiba-tiba berubah menjadi bahasa Indonesia.
Orang tuanya berbicara bahasa Jawa, Sunda, Minang, Bugis, Madura, atau bahasa daerah lainnya. Mereka bercanda dan bahkan mungkin bertengkar dalam bahasa daerah. Tetapi kepada anak-anaknya, mereka lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia.
Saya menduga banyak dari kita pernah menemukan situasi seperti ini. Bahkan mungkin terjadi di keluarga kita sendiri.
Awalnya saya menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Indonesia semakin urban. Perkawinan antardaerah semakin banyak. Mobilitas penduduk semakin tinggi. Anak-anak juga tumbuh dalam lingkungan pendidikan dan digital yang sebagian besar menggunakan bahasa Indonesia.
Sampai saya melihat data penggunaan bahasa daerah tahun 2025 yang dirilis bulan lalu oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Secara nasional, sebenarnya angkanya masih cukup menggembirakan. Sebanyak 73,82 persen penduduk Indonesia berumur lima tahun ke atas masih menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi dengan keluarga dan/atau masyarakat. Artinya tiga dari empat orang Indonesia masih menggunakan bahasa daerah.
Bahasa Kita Ternyata Ikut Menua
Ada pola yang sangat jelas bahwa semakin muda seseorang, semakin rendah penggunaan bahasa daerahnya. Mari kita lihat angka-angkanya
Pada penduduk berusia 75 tahun ke atas, penggunaan bahasa daerah mencapai 86,56 persen. Pada kelompok 65–69 tahun masih 83,10 persen. Kelompok 55–59 tahun sebesar 79,44 persen, sementara kelompok 45–49 tahun berada pada 76,45 persen.
Ketika bergerak menuju generasi muda, angkanya terus turun. Kelompok usia 25–29 tahun berada pada 73,58 persen. Usia 20–24 tahun menjadi 72,19 persen dan remaja 15–19 tahun tinggal 69,50 persen.
Penurunan paling menarik justru terjadi pada anak-anak. Pada kelompok usia 10–14 tahun penggunaan bahasa daerah hanya 66,22 persen, sedangkan anak usia 5–9 tahun tinggal 60,93 persen.
Artinya, terdapat jarak sekitar 25,6 poin persentase antara kelompok penduduk berusia 75 tahun ke atas dengan anak usia 5–9 tahun.
Pola tersebut juga hampir membentuk tangga yang konsisten, semakin muda kelompok umur, semakin rendah penggunaan bahasa daerah. Kita sedang melihat indikasi terjadinya pergeseran bahasa (language shift) antargenerasi. Bahasa daerah masih sangat kuat pada generasi tua, tetapi kemampuan masyarakat untuk mentransmisikannya kepada generasi berikutnya tampaknya mulai melemah.

Membayangkan Piramida Penutur
Sebagai orang yang lama bekerja dengan data, saya terbiasa melihat piramida penduduk. Dari bentuk piramida itu kita bisa memperkirakan seperti apa struktur sebuah masyarakat pada masa depan.
Hal yang sama bisa kita analogikan dengan yang saya sebut sebagai “piramida penutur bahasa”.
Kalau sebuah bahasa ingin terus hidup, bagian bawah piramidanya harus cukup lebar. Artinya, banyak anak dan remaja yang bukan hanya memahami, tetapi juga menggunakan bahasa tersebut.
Masalahnya, data kita menunjukkan arah sebaliknya. Rata-rata nasional penggunaan bahasa daerah adalah 73,82 persen. Kelompok umur yang lebih tua umumnya berada di sekitar atau di atas angka tersebut. Sementara generasi di bawah 30 tahun berada di bawahnya.
Anak usia 5–9 tahun bahkan hampir 13 poin persentase di bawah rata-rata nasional. Bayangkan kalau kecenderungan tersebut terus berlangsung selama dua atau tiga generasi.
Hari ini seorang kakek berbicara bahasa daerah dengan sangat fasih. Anaknya masih fasih, tetapi mulai lebih sering menggunakan bahasa Indonesia. Cucunya memahami bahasa daerah tetapi menjawab dengan bahasa Indonesia. Cicinnya kelak mungkin hanya mengenal beberapa kata.
Pergeseran bahasa sering kali tidak terasa karena berlangsung perlahan.
Dari Jawa Tengah sampai Jakarta
Saya juga tertarik ketika melihat variasi antarprovinsi. Ternyata wajah Indonesia sangat beragam.
Di Jawa Tengah, 96,13 persen penduduk masih menggunakan bahasa daerah. Jawa Timur hampir sama, 95,83 persen. Kepulauan Bangka Belitung mencapai 94,25 persen, Sumatera Barat 93,67 persen, Sumatera Selatan 93,45 persen, Nusa Tenggara Barat 91,76 persen, Kalimantan Selatan 91,72 persen, dan DI Yogyakarta 90,08 persen.

Angka-angka ini menarik karena mematahkan dugaan sederhana bahwa modernisasi pasti membuat bahasa daerah menghilang.
Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta jelas bukan masyarakat yang terisolasi dari internet, pendidikan, migrasi, dan modernisasi. Tetapi bahasa daerah tetap mempunyai ruang yang sangat kuat.
Bandingkan dengan Jakarta. Di DKI Jakarta penggunaan bahasa daerah hanya 5,94 persen. Kalimantan Utara 19,50 persen, Papua 19,22 persen, Kalimantan Timur 21,58 persen, Papua Barat Daya 26,24 persen, Papua Barat 30,20 persen, dan Kepulauan Riau 30,79 persen.
Perbedaannya ekstrem, dari sekitar 6 persen sampai lebih dari 96 persen.
Saya tentu tidak ingin buru-buru menyimpulkan bahwa provinsi dengan angka rendah berarti tidak peduli pada kebudayaan lokal. Jakarta adalah kota migran. Orang Jawa menikah dengan orang Sunda, orang Batak bertemu orang Minang, orang Bugis bekerja bersama orang Ambon. Dalam situasi seperti itu bahasa Indonesia secara alamiah menjadi titik temu.
Hal serupa bisa terjadi di Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, atau wilayah lain dengan mobilitas penduduk yang tinggi.
Justru data ini menunjukkan bahwa nasib bahasa daerah tidak bisa dilepaskan dari perubahan struktur masyarakat.
Semuanya Dimulai dari Rumah
Menurut saya, bagian paling menarik dari persoalan ini bukan apa yang terjadi di sekolah. Bukan pula apa yang dilakukan pemerintah. Melainkan apa yang terjadi di keluarga. Bahasa biasanya diwariskan melalui sesuatu yang sangat sederhana, dari percakapan sehari-hari.
Seorang ibu memanggil anaknya untuk makan. Seorang ayah menegur anak yang pulang terlambat. Seorang nenek bercerita kepada cucunya. Kakak dan adik bertengkar. Keluarga bercanda ketika berkumpul. Di situlah bahasa sebenarnya diwariskan.
Tetapi struktur keluarga Indonesia sedang berubah. Kita semakin urban. Perkawinan antaretnis semakin biasa. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang semakin heterogen. Bahasa Indonesia menjadi pilihan paling praktis.
Lalu datang dunia digital. Anak-anak kita menonton YouTube dan TikTok, bermain game daring, mendengarkan podcast, mengikuti influencer, dan bercakap dengan orang dari berbagai kota. Ruang sosial mereka jauh lebih luas dibandingkan dengan ruang sosial generasi orang tua mereka.
Akibatnya bahasa daerah semakin kehilangan “jam terbang”. Pada mulanya anak masih bisa memahami bahasa daerah. Ketika orang tuanya berbicara bahasa Jawa, misalnya, ia mengerti tetapi menjawab dengan bahasa Indonesia.
Ini sering dianggap tidak masalah. Toh anak masih mengerti. Padahal kemampuan memahami dan kemampuan menggunakan adalah dua hal berbeda.
Kalau pola tersebut diteruskan, generasi berikutnya mungkin tidak lagi mempunyai kemampuan yang sama.




Leave a comment