Survei Alvara Research Center pada 2025 menunjukkan bahwa 57,2 persen Muslim Indonesia merasa dekat dengan NU, setara dengan sekitar 140 juta jiwa. Angka yang sangat besar. Tetapi ketika kita membaca lebih dalam, muncul sejumlah paradoks. Ikatan terhadap organisasi ternyata lebih lemah dibandingkan dengan kedekatan terhadap nilai dan tradisinya. Afiliasi NU juga menunjukkan kesenjangan antargenerasi, dari 71,4 persen pada Baby Boomers menjadi 51,8 persen pada Gen Z. Ini bukan sekadar persoalan statistik, melainkan sinyal bahwa hubungan antara jamaah dan jam’iyah sedang berubah.
Saya melihat NU sedang berhadapan dengan perubahan zaman yang jauh lebih mendasar daripada sekadar pergantian kepemimpinan atau dinamika internal organisasi. Generasi muda semakin urban dan digital. Otoritas keagamaan tidak lagi hanya dibentuk di pesantren dan majelis taklim, tetapi juga di ruang-ruang digital yang dikendalikan oleh algoritma. Pada saat yang sama, kebutuhan warga semakin konkret. Mereka membutuhkan pekerjaan, pendidikan yang bermutu, layanan kesehatan yang terjangkau, dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup. Tradisi tetap penting, tetapi tradisi saja tidak cukup untuk menjawab seluruh persoalan di masa depan.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, saya menulis whitepaper berjudul “NU 2.0: Dari Kebesaran Menuju Kemaslahatan”. Dokumen setebal 86 halaman ini merupakan ikhtiar untuk membaca kembali anatomi Nahdliyin melalui data, memahami perubahan sosial yang sedang berlangsung, sekaligus membayangkan bagaimana NU seharusnya bergerak di abad keduanya. Saya mencoba mempertemukan perspektif seorang peneliti dengan kegelisahan seorang warga NU yang ingin melihat organisasi ini semakin relevan. Di dalamnya saya menawarkan sejumlah skenario masa depan, termasuk kemungkinan lahirnya NU sebagai kekuatan sosial yang semakin besar kontribusinya dalam pendidikan, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan kehidupan kebangsaan.
Whitepaper ini tentu bukan jawaban final, apalagi resep yang harus diterima oleh semua orang. Saya justru berharap tulisan ini menjadi bahan percakapan, bahkan perdebatan, di antara warga NU yang peduli terhadap masa depan rumah besarnya. Kita patut bangga dengan sejarah dan kebesaran NU, tetapi kebanggaan itu tidak boleh membuat kita berhenti bertanya dan berbenah. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan NU di abad kedua bukanlah seberapa banyak orang yang mengaku sebagai warganya, melainkan seberapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik berkat kehadirannya.
NU tidak cukup hanya menjadi besar. NU harus semakin membawa maslahat.
Selengkapnya whitepaper bisa di download disini




Leave a Reply