Pernahkah kita mengamati secara seksama perilaku paradoks yang terjadi di anak-anak muda di kota-kota besar Indonesia. Anak muda yang hampir sepanjang hari hidup bersama layar, sore atau malam harinya berganti pakaian olahraga. Ada yang berlari di GBK, masuk gym di mall-mall, bermain padel, ikut pilates, atau sekadar berjalan sambil mengejar target sepuluh ribu langkah. Ponsel tetap ada di tangan. Earphone tetap terpasang. Smartwatch tetap menyala. Mereka tidak meninggalkan dunia digital ketika berolahraga. Dunia digital justru ikut berlari bersama mereka.
Selama ini kita sering membayangkan kehidupan digital dan kehidupan sehat sebagai dua kutub yang berseberangan. Semakin lama seseorang menatap layar smartphone, semakin sedikit tubuhnya bergerak. Semakin aktif seseorang di media sosial, semakin besar kemungkinan hidupnya sedentary. Gambaran itu tidak sepenuhnya salah, tetapi tampaknya tidak lagi cukup untuk menjelaskan perilaku anak muda Indonesia hari ini.
Data Alvara memperlihatkan betapa dalam dunia digital telah masuk dalam kehidupan Gen Z. WhatsApp digunakan oleh 86,3 persen Gen Z, Instagram 78,5 persen, dan TikTok 76,5 persen. Mereka adalah generasi yang tumbuh bersama internet, media sosial, algoritma, video pendek, dan notifikasi. Batas antara kehidupan online dan offline semakin kabur bagi mereka.
Yang menarik, pada saat bersamaan, data Alvara juga menunjukkan 81,7 persen Gen Z melakukan aktivitas olahraga. Angka Milenial juga tinggi, mencapai 72,9 persen. Jadi kita menghadapi sebuah generasi yang sangat digital, tetapi ternyata juga mempunyai keinginan kuat untuk bergerak.
Fenomena serupa terlihat dalam berbagai survei terbaru. Herbalife Asia Pacific Wellness Culture Survey 2026 mencatat 72 persen Gen Z Indonesia mengaku lebih sering melakukan aktivitas kesehatan dan kebugaran dibandingkan tiga tahun sebelumnya. Aktivitasnya semakin beragam, mulai dari lari, gym, padel, pickleball, pilates, futsal hingga hiking.
Survei Voice of the Consumer 2026 dari PwC memberikan gambaran yang senada. Sebanyak 61 persen konsumen muda Indonesia rutin melakukan aktivitas fisik, lebih tinggi dibandingkan kelompok konsumen yang lebih tua yang sebesar 43 persen. Bahkan 31 persen konsumen muda bersedia mengeluarkan uang untuk keanggotaan gym, kelas kebugaran, atau personal trainer, hampir tiga kali kelompok usia lebih tua yang hanya 11 persen.
Dulu olahraga terutama diasosiasikan dengan kebugaran. Orang berlari agar tubuh sehat. Pergi ke gym untuk menurunkan berat badan atau membentuk otot. Hari ini fungsi itu tetap ada, tetapi lapisannya bertambah. Running club sekaligus menjadi tempat bertemu teman baru. Padel menjadi arena olahraga sekaligus ruang bersosialisasi. Hiking memberikan kebugaran sekaligus pengalaman. Gym menjadi rutinitas, tetapi juga bagian dari gaya hidup.
Olahraga perlahan bergerak dari activity menjadi lifestyle, kemudian menjadi identity.
Itulah sebabnya sepatu lari, smartwatch, pakaian olahraga, tumbler, makanan berprotein tinggi, hingga catatan kilometer di Strava tidak lagi sekadar perangkat pendukung olahraga. Semuanya bisa menjadi simbol tentang bagaimana seseorang ingin menjalani hidup dan bagaimana ia ingin dilihat oleh lingkungannya.
Menariknya, teknologi bukan musuh dari perubahan ini. Teknologi justru menjadi salah satu penggeraknya.
PwC menemukan 90 persen konsumen muda Indonesia telah menggunakan aplikasi kesehatan atau perangkat wearable. Teknologi digunakan untuk memantau tidur, aktivitas olahraga, kesehatan mental, hingga rutinitas kesehatan lainnya.
Artinya, hubungan antara digitalisasi dan kesehatan ternyata jauh lebih kompleks daripada anggapan kita selama ini.
Smartwatch mengubah gerakan tubuh menjadi data. Strava mengubah aktivitas individual menjadi pengalaman sosial. YouTube menyediakan latihan gratis. TikTok memperkenalkan tren olahraga baru. Instagram membuat komunitas lari berkembang lebih cepat. Aplikasi menghitung langkah kaki, kalori, detak jantung, kualitas tidur, bahkan waktu pemulihan.
Tubuh kita pun menjadi semakin digital.
Generasi muda akhirnya tidak harus memilih antara menjadi manusia digital atau manusia yang aktif secara fisik. Mereka menjalani keduanya sekaligus.
Saya kira di sinilah kita perlu mulai melihat munculnya gaya hidup phygital, perpaduan antara physical dan digital. Dunia fisik dan dunia digital tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Aktivitas fisik menghasilkan data digital, sementara informasi digital mendorong aktivitas fisik.
Seorang anak muda menemukan komunitas lari melalui Instagram, mendaftar kegiatan lewat aplikasi, berlari dengan smartwatch, merekam rutenya dengan GPS, mengunggah hasilnya ke Strava, lalu membagikannya kembali melalui Instagram. Sebuah aktivitas yang sangat fisik dari awal sampai akhir dikelilingi oleh ekosistem digital.
Ada hal lain yang juga menarik. Olahraga semakin mempunyai dimensi sosial yang kuat.
Di tengah kehidupan urban yang semakin individual dan komunikasi yang semakin banyak terjadi melalui layar, aktivitas fisik justru menciptakan ruang baru untuk bertemu secara langsung. Orang bergabung dalam running club, komunitas sepeda, gym, kelas pilates, badminton, atau padel bukan semata-mata karena ingin berkeringat.
Mereka mencari komunitas.
Survei PwC menunjukkan 25 persen konsumen Indonesia tertarik pada kegiatan sosial, komunitas, dan pengembangan diri sebagai bagian dari perjalanan hidup sehat. Konsumen muda juga hampir dua kali lebih aktif dalam kegiatan wellness berbasis komunitas dibandingkan kelompok yang lebih tua.
Ini menjelaskan mengapa beberapa olahraga tumbuh begitu cepat. Produk yang ditawarkan sebenarnya bukan hanya olahraga. Yang dijual adalah kombinasi antara kesehatan, pengalaman, pertemanan, dan identitas.
Dalam konteks anak muda Indonesia, fenomena ini menarik karena memperlihatkan sesuatu yang sering terlewat ketika kita berbicara tentang Gen Z. Kita terlalu sering mendefinisikan mereka hanya melalui layar. Gen Z disebut generasi TikTok. Generasi scrolling. Generasi yang sulit lepas dari ponsel. Generasi dengan attention span pendek. Semua itu mungkin menggambarkan sebagian kehidupan mereka. Akan tetapi, angka aktivitas olahraga menunjukkan sisi lain yang sama pentingnya.
Mereka juga generasi yang ingin merasa lebih baik terhadap tubuh dan dirinya sendiri.
Tentu kita tidak perlu terlalu cepat menyimpulkan bahwa anak muda Indonesia telah menjadi generasi yang sepenuhnya sehat. Tingginya aktivitas olahraga tidak otomatis berarti pola makan mereka sehat, waktu tidur mereka cukup, kesehatan mental mereka baik, atau screen time mereka terkendali.
Di sinilah paradoksnya.
Seseorang bisa berlari lima kilometer pada pagi hari tetapi menatap layar berjam-jam pada malam hari. Bisa menghitung kalori dengan aplikasi tetapi tidur terlalu larut karena terus melakukan scrolling. Bisa mempunyai smartwatch canggih tetapi tetap kesulitan mengelola stres.
Kesadaran akan kesehatan meningkat, sementara tantangan kesehatan juga berubah bentuk.
Survei PwC bahkan menemukan bahwa 73 persen konsumen Indonesia masih mengalami kesulitan menjaga motivasi untuk hidup sehat dan 67 persen menghadapi keterbatasan waktu. Hanya 35 persen yang secara khusus mengalokasikan anggaran untuk kesehatan dan wellness.
Artinya, ada jarak antara ingin sehat dan mampu mempertahankan hidup sehat.
Bagi dunia usaha, perubahan ini membuka pasar yang sangat besar. Industri kesehatan anak muda di masa depan tidak hanya berisi rumah sakit, obat, atau vitamin. Ekosistemnya meluas ke olahraga, wearable technology, makanan sehat, nutrisi, recovery, mental wellness, komunitas, outdoor activities, hingga aplikasi berbasis AI. Brand yang memahami perubahan ini juga perlu berhenti memisahkan konsumen menjadi “konsumen digital” dan “konsumen olahraga”. Orang yang sama dapat menjadi keduanya.
Bagi pemerintah dan pengelola kota, perubahan ini mengandung pesan lain. Jika anak muda semakin ingin bergerak, apakah kota kita menyediakan cukup ruang bagi mereka untuk bergerak? Trotoar yang nyaman, taman kota, jalur sepeda, lapangan olahraga publik, ruang terbuka, dan transportasi umum pada akhirnya juga merupakan bagian dari infrastruktur kesehatan.
Hidup sehat tidak seharusnya hanya menjadi lifestyle kelas menengah yang mampu membeli sepatu mahal, membership gym, smartwatch, dan menyewa lapangan padel. Kota yang baik seharusnya memungkinkan siapa pun berjalan kaki, berlari, bersepeda, dan berolahraga tanpa harus mengeluarkan banyak uang.
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa ditengah kehidupan yang semakin virtual ini, tubuh seakan mengingatkan akan sesuatu yang sangat manusiawi, yaitu kita tetap perlu bergerak, berkeringat, bertemu orang lain, menghirup udara luar, dan merasakan dunia secara nyata.
Anak muda Indonesia tampaknya tidak sedang meninggalkan dunia digital untuk kembali ke dunia fisik. Mereka sedang mencoba hidup di keduanya sekaligus.
Digital banget, tetapi juga makin ingin sehat.




Leave a comment