Ada satu ironi yang sering kita temui ketika berbincang dengan anak muda hari ini, mereka tampak “hidup” di ruang publik, nongkrong, ngopi, nonton konser, belanja online, tetapi pada saat yang sama mereka juga terlihat jauh lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang. Di permukaan, gaya hidupnya gaul. Di balik layar, kalkulasinya ketat.

Fenomena inilah yang belakangan membuat banyak orang menyebut Gen Z sebagai frugal generation, generasi yang lebih sadar nilai, lebih defensif terhadap risiko finansial, dan lebih rasional dalam membedakan “butuh” dan “ingin”. Namun penting ditegaskan sejak awal bahwa frugal bukan berarti miskin, apalagi pelit. Frugal adalah respons. Dan respons itu lahir dari lanskap ekonomi-sosial yang berbeda total dibanding generasi sebelumnya.

Selama ini, frugal sering dibingkai sebagai pilihan moral atau gaya hidup ideal. Seolah-olah orang menjadi hemat karena tercerahkan, rajin membaca buku keuangan, atau rajin mendengar nasihat. Tetapi dari apa yang saya lihat, frugal Gen Z lebih banyak lahir dari pengalaman langsung.

Data dari survei Inventure dan Alvara Research Center memperlihatkan konteks yang penting. Dalam survei bulan Desember 2025, sekitar sepertiga responden mengaku tabungannya menurun, dan hampir 40 persen menyatakan nilai investasinya ikut menyusut. Angka-angka menunjukan banyak rumah tangga Indonesia sedang kehilangan bantalan finansial.

Dalam situasi seperti ini, wajar jika perilaku konsumsi berubah. Orang tidak berhenti belanja, tetapi mulai menahan diri. Tidak lagi agresif. Tidak lagi impulsif, konsumen yang tetap aktif, tetapi sangat berhitung.

Dalam whitepaper “Gen Z Galau Menatap Masa Depan” yang ditebritkan Alvara Research Center tahun 2024 juga menunjukkan kecemasan yang dihadapi oleh Gen Z Indonesia. Dua hal yang paling dicemaskan oleh Gen Z adalah terkait prospek karir dan pendapatan. Dalam percakapan sehari-hari, kita sering mendengar pertanyaan seperti, “Pekerjaan ini aman berapa lama?” atau “Kalau nanti terjadi apa-apa, saya punya pegangan apa?”

Kecemasan ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Survei global dari Deloitte menunjukkan bahwa hampir separuh Gen Z di dunia tidak merasa aman secara finansial, dan biaya hidup menjadi sumber kekhawatiran utama. Ini memberi konteks penting kehati-hatian Gen Z bukan anomali lokal, melainkan respons generasi terhadap dunia yang makin tidak stabil.

Menariknya, frugal Gen Z jarang terlihat dipermukaan. Mereka tetap rapi, tetap gaul, tetap hadir di ruang sosial. Tetapi jika diperhatikan lebih dekat, cara mereka membelanjakan uang sangat berbeda.

Survei Inventure dan Alvara menunjukkan kecenderungan micro-spending, sekitar 70 persen konsumen lebih memilih membeli produk dalam kemasan kecil. Secara hitungan ekonomi, ini sering kali tidak lebih murah. Tetapi dari sisi psikologis, pengeluaran kecil terasa lebih aman. Lebih terkendali. Lebih bisa diprediksi.

Hal yang sama terlihat dalam sikap mereka terhadap merek. Loyalitas merek melemah. Yang menguat justru loyalitas pada nilai guna. Jika ada produk yang fungsinya cukup, harganya masuk akal, dan tidak memberatkan, mereka pindah tanpa beban emosional. Thrifting, dupe, dan barang bekas bukan lagi pilihan pinggiran, tetapi bagian dari logika konsumsi.

Promo dan diskon pun berubah makna. Bukan lagi ajakan belanja spontan, melainkan alat perencanaan. Banyak Gen Z sengaja menunda pembelian, menyimpan barang di wishlist, dan menunggu waktu yang dianggap paling efisien. Impuls tidak dimatikan, hanya dikendalikan.

Bahkan self-reward pun berubah. Ia tidak hilang, tetapi menjadi lebih jarang dan lebih sadar. Bukan lagi pelarian, melainkan hadiah yang sudah “diizinkan” oleh kondisi keuangan.

Survei dari IDN Research Institute tahun 2025 menunjukkan pola yang hampir sama, lebih dari separuh Gen Z Indonesia secara sadar menerapkan gaya hidup hemat atau frugal living. Mereka menunda konsumsi, memprioritaskan tabungan, dan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial.

Sementara itu, survei YouGov menunjukkan paradoks menarik, Gen Z tetap ingin menikmati pengalaman hidup, tetapi pada saat yang sama menyesuaikan konsumsi mereka dengan kondisi ekonomi. Artinya, mereka tidak berhenti hidup, mereka hanya mengubah caranya.

Penting dicatat, frugal Gen Z tidak berhenti pada penghematan. Banyak dari mereka justru aktif mencari tambahan penghasilan. Side hustle, proyek lepas, usaha kecil, atau monetisasi keterampilan digital menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.Mereka tidak sekadar menahan diri sambil menunggu keadaan membaik. Mereka berusaha menyesuaikan diri, meski sering kali harus bekerja lebih keras dan lebih fleksibel.

Di satu sisi, frugal bisa dibaca sebagai kedewasaan baru. Literasi finansial meningkat. Kesadaran risiko tumbuh. Generasi muda menjadi lebih tahan banting. Namun di sisi lain, frugal juga bisa menjadi tanda peringatan. Jika terlalu banyak anak muda menahan konsumsi bukan karena pilihan bebas, tetapi karena ketidakpastian struktural yang berkepanjangan, maka frugal adalah gejala dari masalah yang lebih dalam.

Di level makro, frugal generation mengubah cara permintaan terbentuk. Pertama, konsumsi bergeser dari “banyak transaksi kecil impulsif” menjadi “lebih sedikit transaksi tapi lebih terencana”. Kedua, perang harga dan perang kepercayaan terjadi bersamaan. Gen Z mudah membandingkan harga, tetapi juga sensitif pada reputasi. Brand tidak cukup diskon, brand harus meyakinkan.

Ketiga, model bisnis berbasis subscription, bundling, dan membership punya peluang besar selama memberikan rasa “hemat yang terasa”. Karena bagi Gen Z bukan sekadar murah, mereka ingin merasa cerdas. Keempat, frugal bisa mendorong menguatnya literasi finansial dan ketahanan rumah tangga. Ketika budgeting menjadi budaya, masyarakat punya daya tahan lebih baik terhadap shock ekonomi.

Namun frugal juga bisa menjadi tanda kecemasan struktural. Jika frugal lahir karena upah stagnan, kerja prekariat, dan biaya hidup terbatas, maka frugal bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan sebuah keterpaksaan. Itu sebabnya, membaca frugal Gen Z tidak boleh berhenti pada konten motivasi, ia harus dibaca sebagai sinyal sosial.

Gen Z memang sering disalahpahami, mereka dianggap boros karena gaya hidup digital, atau dianggap rapuh karena mudah cemas. Padahal, di banyak sisi, mereka sedang melakukan satu hal yang sangat rasional yakni mengelola risiko.

Frugal generation adalah generasi yang belajar dari ketidakpastian dan menjadikannya disiplin hidup. Mereka menawar masa depan dengan cara yang paling realistis, menabung, mencari tambahan penghasilan, dan menahan diri dari pengeluaran yang tak perlu.  

Leave a comment

Selamat datang bagi yang suka dengan data dan analisis seputar dunia pemasaran, sosial politik, dan digital

Let’s connect