Tidak lama lagi NU akan mengadakan perhelatan besar, Muktamar NU yang rencananya akan diselenggarakan pada awal bulan Agustus 2026. Muktamar sering kali hanya dipersempit agendanya hanya sebatas pemilihan Rois Am dan Ketua Umum PBNU, padahal seharusnya muktamar menjadi momentum strategis untuk menentukan arah Nahdlatul Ulama di tengah perubahan zaman yang bergerak jauh lebih cepat dibanding dekade-dekade
sebelumnya.
NU hari ini tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan klasik organisasi keagamaan, tetapi juga dengan perubahan demografi, disrupsi teknologi, pergeseran budaya generasi muda, polarisasi kehidupan sosial, hingga perubahan cara masyarakat memandang dan mencari otoritas keagamaan.
Dalam konteks seperti itu, pertanyaan paling penting bukan sekadar “siapa yang paling senior”, “siapa yang paling populer”, atau “siapa yang paling kuat secara
politik”. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar yang dibutuhkan adalah siapa yang paling memahami masa depan?
Karena tantangan NU lima sampai dua puluh tahun ke depan sangat berbeda dibanding tantangan NU dua puluh tahun lalu. Maka, ukuran kepemimpinan juga harus berubah. Pemimpin PBNU ke depan tidak cukup hanya menjadi simbol kultural atau penjaga tradisi organisasi. Ia harus menjadi arsitek masa depan NU.
Setidaknya ada tiga kriteria mendasar yang menurut saya harus dimiliki oleh Pemimipin PBNU periode 2026–2030.
Pertama, ia harus memiliki pemahaman mendalam dan sekaligus kesadaran tinggi terhadap tantangan yang akan dihadapi NU di masa depan.
Ini sangat penting karena banyak organisasi besar termasuk NU justru melemah bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena gagal membaca perubahan zaman. Mereka
merasa terlalu besar untuk tergeser, terlalu kuat untuk ditinggalkan, dan
terlalu mapan untuk berubah. Padahal sejarah menunjukkan bahwa tidak ada organisasi yang kebal terhadap perubahan sosial. Dalam konteks bisnis, kita tentu ingat bagaimana brand Nokia atau Blackberry jatuh pada masanya.
NU memang masih menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia. Berbagai survei menunjukkan basis sosial NU tetap sangat besar. Survei nasional Alvara Research Center tahun 2025 menunjukkan sekitar 57,2 persen Muslim Indonesia merasa memiliki kedekatan atau afiliasi dengan NU. Namun di balik angka besar itu, terdapat dinamika yang sangat kompleks dan perlu dibaca dengan jernih.
Basis sosial NU sedang mengalami transformasi demografis yang sangat besar. Indonesia bergerak menuju masyarakat yang semakin urban, semakin digital, semakin terdidik, dan semakin terkoneksi dengan budaya global. Anak muda Muslim hari ini tumbuh dalam
dunia algoritma media sosial, bukan lagi sepenuhnya dalam kultur otoritas tradisional.
Dalam berbagai riset Alvara tentang generasi muda Muslim Indonesia, terlihat jelas bahwa pola keberagamaan anak muda mengalami pergeseran. Otoritas agama tidak lagi sepenuhnya berada pada struktur formal organisasi atau pada ulama yang secara kapasitas ilmu agama tidak perlu diragukan lagi, melainkan semakin cair melalui platform digital. Anak muda kini lebih mudah mengenal ustaz dari TikTok atau YouTube dibanding mengenal struktur organisasi keagamaan atau Pesantren.
Jika NU gagal memahami perubahan besar ini, maka NU bisa tetap besar secara statistik, tetapi perlahan kehilangan relevansi di generasi baru muslim Indonesia.
Di sinilah pentingnya pemimpin yang memiliki kesadaran historis sekaligus juga kesadaran masa depan. Ia harus memahami bahwa tantangan terbesar NU ke depan bukan hanya soal menjaga tradisi, tetapi memastikan tradisi itu tetap relevan dalam peradaban baru.
Kedua, Pemimpin PBNU ke depan harus memiliki visi, ide, dan gagasan besar untuk menjawab tantangan tersebut.
Masa depan tidak bisa dijalani hanya dengan romantisme nostalgia kejayaan masa lalu. Organisasi sebesar NU membutuhkan gagasan besar yang mampu menghubungkan nilai-nilai Aswaja dengan realitas baru dunia modern.
Kita sedang hidup di era ketika teknologi artificial intelligence mulai mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan bahkan beragama. Ekonomi digital mengubah
struktur pekerjaan. Urbanisasi mengubah pola kehidupan sosial. Generasi muda
semakin individualistik. Kaum terdidik semakin berpikir rasional. Tetapi pada
saat yang sama mereka juga mencari makna hidup baru.
Dalam situasi seperti itu, NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu melahirkan narasi besar tentang masa depan Islam Indonesia.
NU tidak boleh hanya hadir sebagai organisasi yang sibuk mengelola rutinitas kelembagaan. NU harus menjadi pusat gagasan peradaban. NU harus mampu menjawab pertanyaan besar zaman, bagaimana Islam hadir di era AI Bagaimana pesantren beradaptasi dengan ekonomi digital? Bagaimana dakwah dilakukan di tengah budaya media sosial? Bagaimana menjaga moderasi di tengah polarisasi algoritma?
Pemimpin NU ke depan harus mampu menjadikan organisasi ini bukan hanya besar secara jumlah, tetapi juga besar secara pengaruh intelektual dan peradaban.
Sayangnya, dalam banyak organisasi, visi sering berhenti menjadi slogan. Banyak pemimpin pandai berbicara tentang perubahan, tetapi tidak memiliki peta jalan yang jelas. Padahal NU membutuhkan lebih dari sekadar retorika.
NU membutuhkan pemimpin yang mampu menerjemahkan visi menjadi desain strategis jangka panjang. Bukan hanya berpikir lima tahun ke depan, tetapi juga mempersiapkan NU menuju
2045 atau bahkan 2050.
Ketiga, Pemimpin PBNU ke depan harus memiliki kemampuan eksekusi dan kemampuan menggerakkan sumber
daya organisasi.
Inilah aspek yang seringkali paling sulit. Banyak orang memahami masalah. Banyak pula yang memiliki ide besar. Tetapi tidak semua memiliki kemampuan mengeksekusi.
NU adalah organisasi raksasa dengan struktur yang sangat besar dan kompleks. Ia memiliki jutaan anggota, ribuan pesantren, jaringan hingga desa, badan otonom, lembaga pendidikan, rumah sakit, perguruan tinggi, hingga kekuatan sosial-kultural yang sangat luas.
Namun kekuatan besar tidak otomatis menjadi kekuatan efektif jika tidak mampu diorganisir dengan baik.
Pemimpin NU ke depan harus memiliki kapasitas managerial leadership yang kuat. Ia harus mampu membangun sistem, bukan hanya mengandalkan figur. Ia harus mampu mengorkestrasi sumber daya manusia NU yang luar biasa besar agar bergerak dalam satu arah yang
sama.
Dalam bahasa sederhana, NU membutuhkan pemimpin yang bukan hanya mampu “berbicara tentang
masa depan”, tetapi juga mampu “membangun masa depan”.
Kemampuan eksekusi ini menjadi semakin penting karena tantangan zaman bergerak sangat cepat. Organisasi yang lambat beradaptasi akan tertinggal.
Kita bisa melihat bagaimana banyak institusi besar dunia terguncang karena gagal merespons perubahan digital. Hal serupa bisa terjadi pada organisasi sosial-keagamaan jika terlalu nyaman dengan pola lama.
Karena itu, kepemimpinan PBNU lima tahun ke depan seharusnya tidak lagi dilihat semata sebagai kepemimpinan administratif organisasi, tetapi kepemimpinan transformasional.
Pertanyaannya kemudian, agenda strategis apa yang seharusnya menjadi prioritas NU lima tahun ke depan?
Setidaknya ada tiga agenda besar yang menurut saya sangat penting.
Pertama, transformasi digital dan penguatan ekosistem dakwah generasi muda.
NU harus hadir lebih kuat di ruang digital. Bukan sekadar membuat akun media sosial, tetapi membangun ekosistem digital yang serius, modern, dan terintegrasi.
Generasi muda sekarang hidup di ruang digital. Jika NU tidak hadir secara kuat di ruang itu, maka ruang tersebut akan diisi oleh narasi lain yang belum tentu sejalan dengan nilai Islam moderat.
Transformasi digital NU harus melampaui sekadar publikasi kegiatan organisasi. NU perlu membangun platform pembelajaran digital, ekosistem kreator muda, laboratorium konten dakwah, hingga pemanfaatan AI untuk pendidikan dan dakwah.
NU juga perlu melahirkan lebih banyak talenta muda digital yang mampu menjadi wajah Islam moderat di era media sosial.
Ini penting karena pertarungan masa depan bukan hanya pertarungan organisasi, tetapi juga pertarungan narasi.
Kedua, membangun ekosistem ekonomi warga NU.
Salah satu tantangan terbesar organisasi besar adalah bagaimana mengubah kekuatan sosial menjadi kekuatan ekonomi. Basis sosial NU sangat besar, tetapi kekuatan ekonomi warganya belum sepenuhnya terkonsolidasi.
Padahal di era modern, kemandirian organisasi sangat ditentukan oleh kekuatan ekonominya.
NU perlu bergerak lebih serius dalam membangun ekosistem ekonomi umat berbasis jaringan pesantren, UMKM, ekonomi digital, industri halal, hingga penguatan kelas menengah Nahdliyin.
Dalam banyak survei Alvara, pertumbuhan kelas menengah Muslim Indonesia terus meningkat. Ini adalah peluang besar. Jika dikelola dengan baik, NU bisa membangun jaringan ekonomi yang sangat kuat berbasis solidaritas sosial dan ekosistem komunitas.
NU perlu masuk lebih serius dalam pengembangan startup, ekonomi kreatif, pelatihan digital entrepreneurship, hingga penguatan rantai bisnis internal warga.
Karena organisasi yang besar tetapi tidak memiliki basis ekonomi kuat akan sulit bergerak cepat di era kompetisi global.
Ketiga, penguatan kaderisasi dan kepemimpinan masa depan.
NU membutuhkan investasi serius dalam pengembangan talenta muda. Tidak cukup hanya mengandalkan regenerasi alamiah.
Kaderisasi ke depan harus jauh lebih modern, sistematis, dan berbasis kompetensi. NU harus mulai mempersiapkan generasi pemimpin baru yang tidak hanya memahami kitab
kuning dan tradisi pesantren, tetapi juga memahami teknologi, ekonomi global,
geopolitik, data, dan perubahan sosial modern.
Karena masa depan NU sangat ditentukan oleh kualitas elit mudanya.
NU perlu membangun talent pipeline kepemimpinan nasional, anak-anak muda NU yang kelak mampu menjadi pemimpin di pemerintahan, dunia bisnis, akademik,
teknologi, media, dan masyarakat sipil.
Jika NU berhasil melakukan ini, maka NU tidak hanya akan bertahan sebagai organisasi besar, tetapi juga menjadi kekuatan peradaban yang terus relevan dalam melintasi perubahan zaman.
Sekali lagi, Muktamar PBNU 2026 seharusnya tidak hanya menjadi arena untuk sekadar memilih pemimpin
NU . Ia harus menjadi momentum refleksi besar tentang arah masa depan NU.
Karena tantangan terbesar NU ke depan bukan sekadar bagaimana tetap besar, tetapi bagaimana tetap relevan. Dan relevansi hanya bisa dijaga oleh kepemimpinan yang memahami
perubahan, memiliki visi masa depan, serta mampu mengeksekusinya menjadi
gerakan nyata.
NU membutuhkan pemimpin yang bukan hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga mampu membangun jembatan menuju masa depan.



Leave a comment