Ada satu pemandangan yang mudah kita temukan di mana pun anak muda berkumpul hari ini, wajah menunduk ke layar, earphone menempel di telinga, jempol sibuk menggulir layar. Dunia hiburan, musik, dan gaya hidup tak lagi berputar di sekitar televisi, radio, atau bahkan bioskop seperti dulu. Gen Z telah menciptakan cara baru menikmati dunia, cara yang tak lagi menunggu jadwal siaran atau antrean tiket. Semuanya dalam kendali mereka, on demand, dan langsung di genggaman tangan.
Survei Alvara Research Center tahun 2025 menunjukkan bahwa 61,6 persen Gen Z menonton film atau serial melalui platform streaming seperti Netflix, Vidio, atau WeTV. Angka ini jauh melampaui Milenial yang hanya 47,8 persen. Sebaliknya, televisi yang dulu menjadi jendela utama hiburan kini hanya menarik 23,3 persen Gen Z, sementara masih digemari oleh 44,9 persen Milenial. Perbedaan cara menonton ini menunjukan cara pandang terhadap waktu dan kebebasan. Bagi Gen Z, jadwal bukan sesuatu yang harus diikuti, merekalah yang menentukan kapan dan bagaimana menonton. Televisi dengan siaran terjadwal kini terasa terlalu kaku untuk generasi yang tumbuh bersama konsep personalization dan choice.

Namun menariknya, bioskop belum sepenuhnya mati. Sekitar 11,3 persen Gen Z masih gemar menonton di layar lebar, lebih tinggi dibanding Milenial yang hanya 5,1 persen. Fenomena ini menunjukkan bahwa bagi Gen Z, menonton di bioskop bukan semata menikmati film, tapi sebuah pengalaman sosial, bertemu teman, membagikan stories, dan menjadi bagian dari momen.
Hal yang sama terjadi dengan musik. Hampir seluruh Gen Z (98,4 persen) mendengarkan musik secara online melalui Spotify, Joox, atau YouTube Music. Musik kini bukan lagi koleksi yang disimpan di harddisk atau diputar lewat CD player, melainkan aliran tanpa batas di dunia digital. Bandingkan dengan Milenial yang sedikit lebih rendah, 91,3 persen, namun masih ada sebagian kecil yang mendengarkan radio streaming atau radio analog. Bagi Gen Z, mendengarkan musik bukan lagi ritual yang membutuhkan perangkat khusus, melainkan bagian dari keseharian, menemani belajar, bekerja, bahkan tidur.

Musik bagi mereka juga tidak sekadar hiburan. Di tengah tekanan hidup digital dan kompetisi sosial media, musik adalah coping mechanism. Lagu-lagu menjadi pelarian dari kelelahan mental, bentuk ekspresi diri, bahkan medium eksistensi. Banyak Gen Z yang tidak hanya mendengarkan musik, tapi juga menciptakannya lalu mengunggah karya di TikTok atau YouTube, membangun audiens dari nol. Mereka hidup dalam ekosistem digital di mana batas antara pencipta dan penikmat semakin kabur. Di sinilah perbedaan paling mendasar dengan Milenial yang dulu menjadi “konsumen setia” radio dan TV musik, sementara Gen Z menjadi “produser instan” dalam dunia streaming.
Diluar hiburan digital, Gen Z juga membawa pola baru dalam menikmati hiburan langsung (event). Dalam beberapa tahun terakhir, konser musik dan festival menjadi magnet utama bagi anak muda. Sebanyak 66,2 persen Gen Z mengaku gemar menonton konser atau festival musik, sedikit lebih tinggi dari Milenial (64 persen). Bagi mereka, konser bukan hanya soal mendengar musik, tapi juga tentang pengalaman kolektif, energi massa, dan momen untuk tampil. TikTok dan Instagram membuat momen konser tak berhenti di panggung, ia berlanjut di dunia maya sebagai konten dan identitas. Gen Z datang ke konser bukan hanya untuk menonton, tapi untuk “terlihat menonton”.

Selain konser, pertandingan olahraga juga menjadi pilihan hiburan penting bagi Gen Z (48,5 persen). Mereka tidak hanya menonton, tetapi juga mengikuti gaya hidup para atlet, meniru kebiasaan sehat, dan mengaitkannya dengan self-improvement. Bagi banyak anak muda, menonton olahraga kini sejalan dengan tren gaya hidup aktif dan fitness culture yang tumbuh di media sosial. Mereka membentuk komunitas lari, bersepeda, atau sekadar menonton bareng pertandingan besar sambil mengunggah instastory.
Sebaliknya, kegiatan seperti pameran seni, teater, atau stand-up comedy masih menjadi ceruk kecil di kalangan Gen Z. Hanya sekitar 8–13 persen yang aktif dalam kegiatan semacam ini. Milenial justru lebih tinggi dalam minat terhadap pameran seni (27 persen), mungkin karena mereka tumbuh dalam masa ketika seni rupa dan pameran masih menjadi simbol gaya hidup urban. Gen Z lebih digital, mereka menonton seni lewat layar, bukan galeri.
Namun ketika bicara soal berwisata, Gen Z justru menunjukkan semangat petualangan yang khas. Survei menunjukkan bahwa 72,8 persen Gen Z lebih menyukai wisata alam seperti pantai, gunung, hutan, air terjun, dibanding 62,4 persen Milenial. Alam menjadi latar estetika baru: tempat berfoto, membuat konten, tapi juga tempat menenangkan diri dari hiruk pikuk algoritma. Hashtag seperti #healing atau #shortescape menjadi simbol kebutuhan akan keseimbangan antara dunia nyata dan digital.

Berbeda dengan Gen Z, Milenial lebih banyak menggemari wisata kuliner (25,6 persen) dan perkotaan (9,2 persen). Mungkin karena mereka tumbuh dalam era ketika pengalaman baru identik dengan menjelajah kota dan mencoba makanan khas. Sementara bagi Gen Z, wisata kuliner bukan lagi aktivitas utama, melainkan bagian dari narasi perjalanan yang harus estetik di media sosial. Mereka lebih memilih pengalaman yang “instagrammable” ketimbang sekadar enak di lidah. “Makanannya biasa aja, tapi tempatnya keren,” begitu kira-kira kalimat yang sering muncul di antara mereka.
Dari data-data di atas, pola konsumsi hiburan Gen Z bisa diringkas dalam tiga kata, yaitu digital, personal, dan experiential. Digital, karena hampir semua aktivitas menonton, mendengar, hingga mencari ide liburan terjadi di ruang maya. Personal, karena mereka memilih apa yang ingin dinikmati, kapan, dan di mana. Experiential, karena setiap kegiatan, baik offline maupun online, selalu dihubungkan dengan pengalaman yang bisa dibagikan. Mereka tidak hanya menjadi konsumen, tapi juga kurator kehidupan mereka sendiri.
Bagi industri hiburan, pariwisata, dan media, ini bukan sekadar perubahan perilaku, melainkan pergeseran paradigma. Konten yang berhasil memikat Gen Z bukan yang paling mahal atau glamor, tapi yang paling autentik dan relevan. Mereka menolak “iklan” dalam bentuk lama, tapi rela membagikan produk yang sesuai dengan nilai dan gaya hidup mereka. Di sinilah mengapa strategi pemasaran yang berhasil ke Gen Z biasanya berangkat dari community, collaboration, dan content creation, bukan sekadar promosi.





Leave a comment