//
you're reading...
Economy, Social/Politic

Kota Mengepung Desa

Oleh Hasanuddin Ali

Akhir tahun lalu saya menghabiskan waktu di kampung halaman di sebuah desa di pantai utara Gresik, tidak seperti biasanya, saya menghabiskan waktu cukup lama, satu minggu saya saya habiskan di Gresik. Sebagai seorang researcher, intuisi saya melihat dan menyaksikan betapa arus perubahan budaya telah masuk ke desa saya.

Kesan saya karakter desa pelan tapi pasti mulai tercerabut, dulu saya biasa menyaksikan setiap malam saya melihat orang bercengkrama di rumah sambil ngobrol tentang kehidupan sehar-hari, desa terasa hidup dan hangat, sekarang baru jam 8 saja jalanan desa sudah sepi, orang-orang udah masuk ke rumahnya masing-masing, suasana desa terasa sepi seperti dijalanan kampung-kampung kota.

Arus penetrasi budaya kota telah masuk ke desa, anak muda sudah enggan menjadi petani dan lebih menjadi buruh pabrik di kota. Televisi juga sangat berperan dalam merubah budaya desa, sinetron yang mempertontonkan keglamoran dan konflik rumah tangga dengan mudah di akses warga desa. Maka jangan heran anak muda desa sekarang sudah fasih bicara “lu” “gue” dalam percakapan sehari-hari.

Dalam konteks Indonesia pergeseran budaya desa – kota ini mungkin sebuah keniscayaan sejarah, pertumbuhan ekonomi yang tinggi memang menggerakkan perubahan struktur ekonomi dari desa kota. Hasil Sensus Penduduk 2010 yang di lakukan BPS menunjukkan proporsi penduduk yang tinggal di kota semakin tinggi, 49,8 penduduk Indonesia tinggal di kota. Bahkan Mckinsey dalam laporan terakhir memprediksi penduduk desa Indonesia tahun 2030 hanya tinggal 20% saja.

Dalam beberapa tahu  kedepan merupakan tahun penting sebagai transisi dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri dan informasi. Tanda-tandanya sudah kelihatan sekarang, 3 tahun yang lalu mungkin masih sedikit masyarakat desa yang menggunakan handphone, sekarang sebagian besar mereka sudah menggunakan handphone, bahkan anak mudanya sudah biasa berselancar di dunia maya dan bersosialisasi menggunakan media sosial.

Bila di kota pertumbuhan pengguna internet sudah mulai mengalami titik kejenuhan, sebaliknya di desa pertumbuhan pengguna internet sedang tinggi-tingginya. Salah satu program pemerintah juga mendorong kesana, Telkom dengan kampanye pemasangan 1 juta Wifi akan semakin memudah koneksi internet masyarakat Indonesia di segala lapisan.

Ada beberapa pihak yang harus kawatir dengan pergeseran desa – kota ini tentu. Pertama, Perusahaan – Perusahaan yang menarget masyarakat desa, pola komunikasi dan pendekatan kepada konsumen juga harus berubah. Kedua, Partai politik yang berbasis masyarakat desa, PDI Perjuangan merupakan partai yang paling terancam dengan pergeseran ini, kalau PDI Perjunangan tidak merubah orientasi perjuanganya dari desa ke kota maka di masa depan Suara PDI Perjuangan akan semakin mengecil.

Ketiga, Ormas berbasis desa. Nahdlatul Ulama (NU) saat ini  pelan-pelan sudah mulai terkena pergeseran desa-kota ini, NU juga harus mulai merumuskan strategi agar dia bisa di terima masyarakat kota.

Akhirnya pergeseran dari desa ke kota bukanlah sesuatu yang harus di takuti dan di hindari, pergeseran itu bila bisa ditangkap dengan baik justru akan menjadi peluang bagi siapa saja yang jeli dan mampu memanfaakannya.

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

%d bloggers like this: