Beberapa tahun terakhir, kita sering menyebut Gen Z sebagai digital native. Mereka tumbuh ketika internet, smartphone, media sosial, dan video streaming sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka tidak perlu belajar hidup di dunia digital karena sejak awal memang sudah berada di dalamnya. Tetapi ketika kita masih sibuk memahami Gen Z, generasi berikutnya sedang tumbuh dalam lingkungan teknologi yang berbeda. Gen Alpha bukan hanya akan menjadi generasi digital. Mereka berpotensi menjadi generasi pertama yang benar-benar tumbuh bersama artificial intelligence.

Digital native terbiasa mencari informasi, AI native terbiasa meminta jawaban. Generasi saya dahulu mencari informasi dan pengetahuan melalui buku, generasi berikutnya mencari melalui Google. Anak-anak sekarang mulai melakukan sesuatu yang berbeda, mereka bertanya kepada mesin, lalu mesin menjelaskan, merangkum, memberi contoh, bahkan menyesuaikan jawaban dengan kemampuan mereka. Kalau internet memberi kita akses kepada informasi, AI mulai memberi kita akses langsung kepada jawaban yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kita.

Common Sense Media pada tahun 2026 melakukan survei terhadap 1.204 anak usia 9–17 tahun di Amerika Serikat. Hasilnya, 86 persen sudah menggunakan AI dan hampir seperempatnya menggunakan AI setiap hari. Satu dari lima pengguna bahkan mengatakan akan sulit menjalani satu bulan tanpa AI. Tentu data Amerika tidak bisa begitu saja dianggap mewakili anak Indonesia. Tetapi ia memberi gambaran tentang betapa cepatnya AI masuk ke kehidupan generasi muda.

Di Indonesia, arah perubahannya juga mulai terbaca. Survei nasional Alvara Research Center terhadap 1.800 responden pada September 2024 menemukan tiga tipologi kelompok masyarakat dalam menghadapi AI. Kelompok terbesar adalah AI Adopter, yaitu mereka yang mulai menggunakan AI dan percaya pada manfaatnya, sebesar 66 persen. Sebanyak 22 persen masuk kelompok AI Skepticism, sementara 12 persen termasuk AI Enthusiast, yakni mereka yang mempunyai pemahaman lebih baik tentang AI, percaya pada manfaatnya, dan menjadi pengguna awal teknologi ini.

Dari seluruh kelompok AI Enthusiast pada survei 2024 tersebut, 59,7 persen berasal dari Gen Z, jauh lebih besar dibandingkan Milenial 27,3 persen dan Gen X 13 persen. Semakin muda generasinya, semakin terbuka pula mereka terhadap AI. Alvara juga menemukan bahwa ChatGPT menjadi platform yang paling banyak digunakan. Pengguna memanfaatkannya terutama sebagai asisten untuk menulis, menerjemahkan, atau mengoreksi teks sebesar 38,8 persen; mempelajari hal baru sebesar 35,8 persen; membantu pekerjaan sebesar 28,8 persen; serta menjawab pertanyaan tentang berbagai topik sebesar 28,5 persen.

Setahun kemudian, perubahan berlangsung semakin cepat. Survei Alvara 2025 menunjukkan proporsi AI Enthusiast melonjak hampir empat kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Lebih dari separuh Gen Z sudah berada dalam kategori AI Enthusiast. AI mulai bergeser dari teknologi yang sekadar dicoba menjadi teknologi yang digunakan secara rutin untuk bekerja, belajar, mencari informasi, dan mengeksplorasi ide.

Data ini menurut saya penting. Jika Gen Z yang tidak sepenuhnya tumbuh bersama generative AI saja dapat beradaptasi secepat itu, kita bisa membayangkan bagaimana Gen Alpha nantinya akan berinteraksi dengan AI. Mereka akan mengenal AI sejak masa sekolah, bahkan mungkin sejak sebelum masuk sekolah. Bagi mereka, berbicara kepada mesin yang mampu menjawab pertanyaan tidak akan terasa aneh.

Bagi Gen Alpha, AI mungkin kelak tidak terasa sebagai teknologi. Sama seperti anak sekarang, ia tidak mengatakan bahwa ia sedang “menggunakan teknologi internet” ketika membuka YouTube atau TikTok. Mereka hanya menonton, bermain, dan berkomunikasi. AI kemungkinan mengalami proses yang sama. Anak tidak merasa sedang menggunakan artificial intelligence ketika meminta penjelasan matematika, membuat gambar, menerjemahkan bahasa, menyusun cerita, atau meminta ide. AI hanya menjadi bagian biasa dari cara mereka menjalani kehidupan.

Peluangnya tentu sangat besar. Bayangkan seorang anak yang kesulitan memahami fotosintesis. Ia bisa meminta AI menjelaskan dengan bahasa anak berumur sepuluh tahun. Kalau belum paham, ia bisa meminta analogi yang lebih sederhana. Kalau masih sulit, ia dapat meminta dibuatkan ilustrasi atau kuis. Pendidikan yang selama ini cenderung menggunakan satu cara untuk banyak murid berpeluang menjadi jauh lebih personal.

AI juga dapat menurunkan hambatan untuk berkarya. Anak yang belum mampu menggambar dapat menuangkan imajinasinya menjadi gambar. Anak yang belum lancar menulis bisa belajar menyusun cerita. Anak yang penasaran terhadap astronomi bisa mengajukan puluhan pertanyaan tanpa takut dianggap terlalu sederhana. Dalam posisi seperti ini, AI bisa memperbesar rasa ingin tahu.

Tetapi justru di sinilah paradoksnya.

AI bisa membuat anak semakin mudah belajar, sekaligus semakin mudah tidak belajar. Common Sense Media menemukan 70 persen remaja dalam surveinya menggunakan AI untuk pekerjaan sekolah. Di antara mereka yang menggunakan AI untuk keperluan tersebut, 63 persen pernah memakainya untuk memperoleh jawaban atas tugas. Sebanyak 38 persen merasa keberadaan AI membuat mereka menghasilkan lebih sedikit ide sendiri, sementara 39 persen merasa kehilangan sebagian proses belajar ketika AI digunakan untuk menyelesaikan tugas.

Persoalannya bukan semata-mata menyontek. Persoalan yang lebih dalam adalah hilangnya proses bergulat dengan masalah.

Kita sering lupa bahwa belajar tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan jawaban. Ada proses bingung, salah, mencoba kembali, membaca, berdiskusi, lalu perlahan memahami. Semua proses itu memang tidak efisien, tapi justru dari ketidakefisienan itulah kemampuan berpikir tumbuh. Kalau setiap kebingungan dapat diselesaikan oleh mesin dalam beberapa detik, seorang anak mungkin mendapatkan jawaban jauh lebih cepat, tetapi belum tentu mendapatkan kemampuan berpikir yang lebih kuat.

Karena itu, tantangan terbesar AI native bukan apakah mereka mampu menggunakan AI. Hampir pasti mereka mampu. Tantangannya adalah apakah mereka tetap mampu berpikir tanpa AI.

Apakah mereka masih mampu menyusun argumen sendiri? Membedakan informasi yang benar dan salah? Membaca teks panjang sampai selesai? Menciptakan ide dari halaman kosong? Bertahan menghadapi soal sulit selama setengah jam tanpa langsung bertanya kepada mesin?

Pertanyaan semacam ini akan semakin penting karena AI berbeda dengan mesin pencari. Google memberi daftar sumber, kemudian kita memilih dan membandingkannya. AI memberi jawaban yang sudah jadi dan disampaikan dengan bahasa yang sering terdengar sangat meyakinkan. Di sinilah kecakapan baru dibutuhkan. Anak tidak hanya harus pintar menggunakan AI. Ia juga harus mampu meragukan apa yang disajikan oleh AI.

Selama dua dekade terakhir kita banyak berbicara mengenai digital literacy. Anak diajarkan agar tidak percaya kepada semua yang muncul di internet, memeriksa sumber informasi, menjaga data pribadi, dan berhati-hati di media sosial. Era AI membutuhkan lapisan berikutnya, yaitu AI literacy.

Anak perlu memahami kapan AI membantu mereka berpikir dan kapan AI justru mengambil alih proses berpikir. Mereka perlu mengetahui kapan boleh meminta jawaban, kapan harus mencari sumber sendiri, dan kapan sebaiknya menutup layar lalu mencoba menyelesaikan persoalan tanpa bantuan mesin.

Setiap generasi dibentuk oleh teknologi pada zamannya. Generasi radio tumbuh bersama suara. Generasi televisi tumbuh bersama gambar. Generasi internet tumbuh bersama informasi tanpa batas. Generasi berikutnya akan tumbuh bersama mesin yang bukan hanya memberikan informasi, tetapi juga dapat berbicara kembali kepada mereka.

Hasil survei Alvara di atas sudah memperlihatkan tanda-tandanya. Hanya dalam waktu setahun, kelompok AI Enthusiast di Indonesia meningkat sangat cepat dan Gen Z berada di barisan terdepan perubahan tersebut. Gen Alpha kemungkinan akan bergerak lebih jauh lagi. Bagi mereka, AI bukan sesuatu yang perlu diadopsi. AI sudah ada ketika mereka belajar memahami dunia.

Kita dulu khawatir anak terlalu lama menatap layar. Kekhawatiran generasi berikutnya mungkin akan berbeda. Persoalannya bukan lagi berapa lama mereka berada di depan layar, tetapi seberapa banyak proses berpikir mereka yang kita serahkan kepada algoritma.

Gen Alpha mungkin akan menjadi generasi yang paling terbantu oleh teknologi sepanjang sejarah manusia. Tugas kita bukan menjauhkan mereka dari AI. Tugas kita adalah memastikan bahwa ketika mesin menjadi semakin pintar, manusianya juga tetap belajar untuk berpikir dan tidak kehilangan sisi kemanusiaannya.

Leave a comment

Selamat datang bagi yang suka dengan data dan analisis seputar dunia pemasaran, sosial politik, dan digital

Let’s connect