Ada satu stereotip yang cukup sering kita lekatkan kepada Gen Z. Mereka dianggap tidak terlalu tertarik membeli rumah, menunda menikah, mudah berpindah pekerjaan, lebih suka menghabiskan uang untuk pengalaman, dan terlihat kurang berambisi mengejar kemapanan seperti generasi sebelumnya.
Bisa jadi ada benarnya. Tetapi saya kira ada pertanyaan lain yang lebih penting. Benarkah Gen Z memang tidak ingin mapan, atau sebenarnya kemapanan itu sendiri yang semakin sulit mereka jangkau?
Pertanyaan ini menarik karena Gen Z justru memiliki beberapa modal yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Mereka lebih terdidik, lebih terkoneksi dengan informasi, lebih akrab dengan teknologi dan semakin memahami dunia keuangan. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026 menunjukkan tingkat literasi keuangan kelompok usia 18–25 tahun mencapai 73,32 persen. Tingkat inklusi keuangannya bahkan 95,69 persen.
Artinya, anak muda hari ini bukan lagi generasi yang buta soal uang. Mereka mengenal dan fasih bicara soal tabungan, investasi, saham, reksa dana, paylater, dana darurat hingga financial freedom.
Data Alvara juga menunjukkan bahwa struktur pengeluaran masyarakat hari ini tidak sesederhana konsumsi versus tabungan. Sekitar 49,1 persen pengeluaran dialokasikan untuk kebutuhan keluarga, 10,9 persen untuk tabungan, 4,2 persen untuk investasi, 10,8 persen untuk cicilan, 5,2 persen untuk asuransi, 7,6 persen untuk telekomunikasi dan internet, dan 6,4 persen untuk hiburan.
Gambaran ini penting. Narasi bahwa persoalan keuangan anak muda terutama disebabkan oleh gaya hidup bisa jadi terlalu menyederhanakan keadaan.
Masalahnya, memahami bagaimana uang bekerja tidak otomatis membuat seseorang memiliki cukup uang untuk membangun kemapanan.
Di sinilah paradoks Gen Z dimulai.
Bekerja Belum Tentu Naik Kelas
Kita kadang terlalu sering melihat persoalan anak muda disederhanakan hanya dengan ”bekerja atau menganggur?”. Padahal, mempunyai pekerjaan belum tentu berarti mempunyai jalan yang jelas menuju kemapanan.
Data Sakernas Agustus 2025 menunjukkan sekitar 146,54 juta penduduk Indonesia bekerja. Tingkat pengangguran terbuka berada pada 4,85 persen dan rata-rata upah buruh sekitar Rp3,33 juta per bulan.
Persoalannya terlihat ketika kita melihat kelompok usia muda. Sekitar 3,84 juta penganggur berasal dari kelompok usia 15–24 tahun, lebih dari separuh total penganggur Indonesia ketika itu.
Bagi mereka yang berhasil masuk pasar kerja, tantangannya pun belum selesai. Dunia kerja semakin cair. Kontrak jangka pendek, outsourcing, freelance, gig economy, side hustle dan perpindahan kerja semakin umum.
Fleksibilitas membawa pilihan, tetapi juga mengurangi kepastian.
Seorang anak muda mungkin telah bekerja tiga tahun. Ia pernah berpindah perusahaan dua kali, sempat menganggur beberapa bulan, mempunyai pekerjaan sampingan, dan belum yakin apakah pendapatannya tahun depan akan lebih baik.
Secara statistik ia bekerja. Secara psikologis, belum tentu ia merasa aman.
Survei Alvara mengenai motivasi dunia kerja memberi konteks menarik. Dari 1.800 responden, 55,3 persen masuk kelompok Pragmatic Worker, yang melihat pekerjaan terutama sebagai sumber penghidupan dan kestabilan. Sekitar 30,9 persen adalah Balanced Aspirer, yang berusaha menyeimbangkan pendapatan, perkembangan diri dan kualitas hidup. Hanya 13,8 persen yang masuk kelompok Idealist Maximizer.
Karena itu persoalan Gen Z bukan hanya sekadar unemployment, melainkan upward mobility. Apakah pekerjaan yang mereka miliki mampu membawa kehidupan mereka lima atau sepuluh tahun ke depan menjadi lebih baik?
Kemapanan yang Semakin Mahal
Generasi sebelumnya, termasuk saya, mengenal jalan hidup yang relatif linear, mulai dari sekolah, kuliah, bekerja, menikah, membeli rumah, mempunyai anak, lalu perlahan membangun aset.
Jalan itu tidak pernah mudah, tetapi setidaknya terlihat jelas.
Bagi banyak Gen Z, jalur tersebut semakin kabur.
Rumah adalah contoh paling mudah. Data Bank Indonesia menunjukkan hampir 70 persen pembelian rumah primer pada triwulan pertama 2026 dilakukan melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Kemampuan membeli rumah sangat tergantung pada kestabilan pendapatan, kemampuan membayar uang muka dan keberanian mengambil cicilan jangka panjang.
Bagi pekerja muda dengan pendapatan beberapa juta rupiah per bulan dan kepastian kerja yang terbatas, mengambil cicilan 15 atau 20 tahun bukan keputusan sederhana.
Di sinilah kita sering terlalu cepat menyimpulkan pilihan hidup Gen Z.
Ketika belum membeli rumah, kita mengatakan bahwa mereka tidak tertarik untuk memiliki aset. Ketika menunda menikah, kita menganggap mereka takut berkomitmen. Ketika membeli kopi, menonton konser, atau traveling, kita menyebut mereka terlalu mementingkan pengalaman.
Padahal bisa saja mekanismenya terbalik.
Mereka bukan memilih pengalaman karena tidak ingin mempunyai rumah. Mereka memilih pengalaman karena rumah terasa terlalu jauh untuk dikejar.
Jika Rp50.000 tidak banyak mengubah peluang seseorang untuk membeli rumah dalam sepuluh tahun mendatang, tetapi cukup untuk membeli kopi dan bertemu teman, konsumsi kecil menjadi rasional secara psikologis.
Kesenangan kecil menjadi kompensasi ketika tujuan besar terasa semakin jauh.
Maturity Gap
Saya melihat fenomena ini sebagai semacam maturity gap, atau kesenjangan kemapanan.
Secara usia, seseorang sudah dewasa. Secara pendidikan, ia sudah lulus. Secara sosial, ia diharapkan mandiri. Secara finansial, ia memahami bagaimana mengelola uang.
Tetapi secara ekonomi, ia belum merasa sepenuhnya menjadi orang dewasa.
Ia masih tinggal bersama orang tua bukan selalu karena tidak ingin mandiri, tetapi karena biaya tempat tinggal tinggi. Ia menunda menikah bukan selalu karena takut berkomitmen, tetapi karena belum mempunyai fondasi finansial. Ia belum membeli rumah bukan karena tidak punya aspirasi, tetapi karena cicilan 20 tahun terasa berisiko ketika masa depan pekerjaannya sendiri belum pasti.
Jika fenomena ini meluas, dampaknya tidak berhenti pada individu. Ia akan memengaruhi usia perkawinan, kepemilikan rumah, pola konsumsi, industri properti, tabungan, mobilitas sosial bahkan struktur demografi Indonesia.
Definisi Mapan Memang Berubah
Kita juga tidak boleh melihat Gen Z hanya sebagai korban keadaan.
Ada perubahan nilai yang nyata.
Bagi sebagian Gen Z, kemapanan tidak lagi semata-mata berarti rumah, mobil dan pekerjaan tetap selama puluhan tahun. Kemapanan juga bisa berarti pekerjaan fleksibel, kualitas hidup yang baik, waktu untuk keluarga, kebebasan memilih tempat tinggal dan kesempatan menikmati pengalaman.
Temuan survei Alvara tentang Balanced Aspirer yang mencapai 30,9 persen memberi petunjuk ke arah ini. Pekerjaan ideal tidak lagi hanya dinilai dari pendapatan, tetapi juga perkembangan diri dan kualitas hidup.
Ada pergeseran dari asset-oriented prosperity menuju experience-oriented prosperity.
Masalahnya, kita perlu membedakan antara pilihan dan adaptasi.
Jika seseorang mampu membeli rumah tetapi memilih menyewa karena ingin fleksibel, itu perubahan nilai.
Jika seseorang mengatakan tidak membutuhkan rumah karena sejak awal merasa mustahil membelinya, itu adaptasi terhadap keterbatasan.
Keduanya terlihat sama dari luar, tetapi makna sosialnya berbeda.
Gen Z bukan generasi tanpa aspirasi. Mereka hidup dalam situasi ketika gambaran tentang kesuksesan hadir setiap detik di layar. Mereka melihat orang seusianya berinvestasi, membangun bisnis, membeli rumah dan mencapai financial freedom.
Aspirasi mereka mungkin justru lebih tinggi.
Yang berubah adalah jarak antara aspirasi dan kemampuan mencapainya.
Karena itu, persoalan Gen Z bukan sekadar bagaimana membuat mereka semakin pintar mengelola uang. Literasi keuangan mereka sudah cukup tinggi. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana menciptakan pekerjaan yang memberikan kesempatan naik kelas, pertumbuhan pendapatan yang sehat dan jalur yang masuk akal menuju kepemilikan aset.
Sebab sebuah generasi tidak akan menjadi mapan hanya karena diajari bagaimana menabung.
Ia membutuhkan ekonomi yang memungkinkan tabungan itu tumbuh untuk bekal masa depan.
Mungkin karena itu kita perlu mengubah pertanyaannya. Bukan lagi, mengapa Gen Z tidak mau hidup seperti generasi sebelumnya?
Pertanyaannya justru, apakah jalan menuju kehidupan mapan seperti yang pernah dilalui generasi sebelumnya masih tersedia bagi mereka?


Leave a comment