Ada banyak orang cerdik pandai yang gagap ketika berbicara dengan anak muda. Ada banyak institusi besar yang gagal mendapatkan perhatian dari generasi muda. Ada pula banyak gagasan besar yang akhirnya hanya berputar di ruang seminar, ruang rapat, atau ruang diskusi tanpa pernah benar-benar bisa hidup di tengah anak muda.
Masalahnya sering kali bukan pada kualitas ide dan gagasannya. Masalahnya adalah terletak pada cara gagasan itu disampaikan.
Dalam beberapa tahun terakhir, berdasarkan belasan tahun riset perbedaan antar generasi, pengamatan, dan juga bergaul dengan banyak anak muda Indonesia, saya menyimpulkan untuk bisa diterima oleh Gen Z, seseorang harus memenuhi setidaknya tiga syarat sekaligus, yaitu relevan, relate, dan receh.
Relevan berarti memiliki ide yang benar-benar menjawab anxiety dan desire (kegelisahan dan kebutuhan) anak muda. Relate berarti mampu memahami dunia mereka, berbicara dalam konteks pengalaman mereka, dan hadir sebagai sosok yang terasa dekat. Sedangkan receh berarti mampu mengemas gagasan dalam bahasa yang sederhana, ringan, dan mudah dicerna tanpa kehilangan substansinya.

Tiga hal ini sepintas terlihat sederhana dan terdengar mudah untuk dilakukan, padahal sejatinya tidak, tapi justru di situlah letak tantangannya.
Banyak orang mampu menjadi relevan, tetapi gagal menjadi relate. Banyak pula yang relate, tetapi tidak mampu mengkomunikasikan gagasannya secara receh. Akibatnya, pesan yang sebenarnya penting justru tidak pernah sampai.
Gen Z memang hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Mereka tumbuh dalam era ketika informasi tidak lagi langka. Justru sebaliknya, mereka hidup dalam banjir informasi yang hampir tidak memiliki batas. Setiap hari mereka menerima ribuan pesan, notifikasi, video, komentar, dan konten dari berbagai platform digital.
Dalam kondisi seperti itu, perhatian menjadi komoditas yang sangat mahal.
Karena itulah relevansi menjadi syarat pertama.
Survei global Deloitte terhadap lebih dari 23.000 responden Gen Z dan Milenial di 44 negara menunjukkan bahwa 89 persen Generasi Z menganggap makna dan tujuan hidup sebagai faktor penting dalam kepuasan hidup mereka. Mereka tidak hanya mencari informasi, tetapi mencari sesuatu yang memiliki hubungan langsung dengan masa depan, identitas, dan kehidupan mereka.
Data ini menjelaskan mengapa banyak narasi besar sering kali tidak menarik bagi anak muda. Bukan karena mereka anti terhadap ide besar, tetapi karena mereka tidak melihat hubungan langsung antara ide tersebut dengan realitas hidup mereka.
Anak muda hari ini sedang memikirkan biaya hidup yang semakin mahal. Mereka memikirkan pekerjaan yang semakin kompetitif. Mereka memikirkan kecemasan masa depan, kesehatan mental, akses perumahan, hingga ketidakpastian ekonomi.
Ketika sebuah gagasan tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana, “Apa hubungannya dengan hidup saya?”, maka gagasan tersebut akan dengan mudah dilewati.
Di era digital, relevansi adalah tiket masuk pertama untuk mendapatkan perhatian.
Namun relevansi saja tidak cukup.
Seseorang juga harus mampu menjadi relate.
Di sinilah banyak tokoh, institusi, bahkan organisasi mengalami kesulitan.
Mereka memiliki gagasan yang baik, tetapi gagal membangun kedekatan emosional dengan generasi muda.
Laporan Ipsos Generations Report menunjukkan bahwa Gen Z merupakan generasi yang sangat menghargai autentisitas. Mereka lebih menyukai komunikasi yang terasa nyata, jujur, dan apa adanya dibanding komunikasi yang terlalu formal atau penuh pencitraan.
Mereka juga sangat dipengaruhi oleh rekomendasi komunitas, ulasan pengguna, dan figur yang mereka anggap dekat dengan kehidupan mereka.
Fenomena ini menjelaskan mengapa seorang kreator konten dengan kamera sederhana terkadang mampu mempengaruhi jutaan anak muda, sementara institusi besar dengan sumber daya komunikasi yang jauh lebih besar justru kesulitan mendapatkan perhatian.
Bagi Gen Z, otoritas formal tidak lagi otomatis menghasilkan kepercayaan.
Kedekatan emosional justru menjadi mata uang yang lebih berharga.
Mereka ingin didengar, bukan hanya dinasihati. Mereka ingin dipahami, bukan sekadar diajari. Mereka lebih mudah menerima seseorang yang mau masuk ke dunia mereka dibanding seseorang yang hanya berdiri di atas mimbar dan berbicara dari kejauhan.
Karena itu, sebelum berbicara tentang solusi, seseorang harus terlebih dahulu menunjukkan bahwa ia memahami masalah yang sedang dihadapi generasi muda.
Sebelum berbicara tentang masa depan bangsa, seseorang harus memahami kecemasan mereka tentang biaya hidup. Sebelum berbicara tentang nasionalisme, seseorang harus memahami bagaimana mereka memandang pekerjaan, teknologi, dan kehidupan sehari-hari.
Relate pada dasarnya adalah kemampuan membangun jembatan antara gagasan dan pengalaman hidup audiens.
Namun bahkan relevan dan relate masih belum cukup.
Di sinilah unsur ketiga menjadi penting: receh. Kata receh sering dipahami secara negatif. Seolah-olah receh berarti dangkal, tidak serius, atau tidak bermutu.
Padahal bagi Gen Z, receh justru merupakan bahasa komunikasi yang paling efektif.
Generasi ini hidup di tengah budaya meme, video pendek, komentar singkat, dan konten yang bergerak sangat cepat. Mereka terbiasa mengkonsumsi informasi dalam hitungan detik. Data S&P Global Market Intelligence menunjukkan bahwa Gen Z menghabiskan rata-rata lebih dari lima jam per hari di media sosial.
Sementara berbagai survei Pew Research dan juga Alvara Research Center menunjukkan bahwa TikTok, Instagram, YouTube, dan platform digital lainnya telah menjadi sumber utama informasi, hiburan, bahkan berita bagi generasi muda.
Di ruang seperti itu, perhatian manusia bekerja dengan cara yang berbeda.
Yang pertama kali menang bukanlah konten yang paling dalam. Yang pertama kali menang adalah konten yang paling mudah menarik perhatian.
Karena itu, banyak ide besar hari ini harus melewati pintu masuk yang terlihat receh.
Kita bisa melihat bagaimana isu kesehatan mental dibicarakan melalui meme. Isu ekonomi dijelaskan melalui video TikTok berdurasi satu menit. Isu politik dikemas melalui satire, humor, dan potongan video pendek.
Bukan karena substansinya hilang, melainkan karena format komunikasi harus menyesuaikan dengan cara konsumsi informasi generasi baru.
Deloitte menemukan bahwa mayoritas Gen Z mengaku mendapatkan rekomendasi konten yang lebih relevan dari media sosial dibanding berbagai kanal konvensional. Algoritma bekerja dengan menyajikan informasi yang terasa dekat dengan minat dan kehidupan mereka.
Artinya, hari ini, ide yang tidak mampu disederhanakan akan kalah sebelum sempat dipahami.
Banyak pemimpin, organisasi, dan institusi sering kali terjebak. Mereka merasa bahwa karena isu yang dibicarakan sangat penting, maka ia harus disampaikan dengan bahasa yang berat. Padahal yang dibutuhkan Gen Z bukan penyederhanaan substansi, melainkan penyederhanaan bahasa.
Mereka tidak anti terhadap pemikiran yang kompleks. Mereka hanya tidak menyukai komunikasi yang rumit.
Albert Einstein pernah mengatakan bahwa jika seseorang tidak mampu menjelaskan sesuatu secara sederhana, mungkin ia belum benar-benar memahaminya.
Dalam konteks Gen Z, prinsip itu menjadi semakin relevan.
Karena pada akhirnya, kemampuan menerima sebuah ide tidak hanya ditentukan oleh kualitas isi, tetapi juga oleh kualitas penyampaiannya.
Kita hidup dalam era ketika meme bisa lebih viral dibanding pidato. Potongan video 30 detik bisa lebih berpengaruh dibanding presentasi satu jam. Seorang kreator konten bisa memiliki daya pengaruh lebih besar dibanding banyak institusi formal.
Fenomena ini sering membuat sebagian orang pesimis. Seolah-olah generasi muda semakin dangkal.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Gen Z tetap peduli pada isu sosial, lingkungan, pendidikan, ekonomi, bahkan politik. Mereka hanya mengkonsumsi dan memproses isu-isu tersebut dengan cara yang berbeda. Mereka ingin sesuatu yang bermakna, tetapi tetap mudah dipahami. Mereka ingin sesuatu yang serius, tetapi tidak harus selalu disampaikan secara serius.
Karena itu, tantangan terbesar berbagai institusi hari ini bukan lagi menghasilkan ide besar. Banyak organisasi, pemerintah, kampus, maupun komunitas sebenarnya memiliki gagasan yang baik.
Tantangannya adalah bagaimana membuat ide tersebut relevan dengan kehidupan anak muda, disampaikan oleh orang yang mampu relate dengan mereka, dan dikomunikasikan dengan cara yang cukup receh untuk memenangkan perhatian mereka.
Sebab di era Gen Z, kemenangan sebuah gagasan tidak lagi ditentukan oleh seberapa besar ide yang dimiliki.
Ia ditentukan oleh seberapa relevan gagasan itu bagi kehidupan audiens, seberapa dekat penyampainya dengan pengalaman mereka, dan seberapa sederhana cara mengkomunikasikannya.
Karena pada akhirnya, ide yang hebat bukanlah ide yang hanya dipahami oleh segelintir orang.
Ide yang hebat adalah ide yang mampu hidup, bergerak, dan diterima oleh banyak orang.
Termasuk oleh Gen Z.




Leave a comment