Sering kali, seseorang menjadi bagian dari NU bukan karena pilihan yang sepenuhnya mereka sadari. Banyak orang lahir dan besar dalam keluarga NU. Mereka terbiasa dengan tradisi tahlilan, mengenal kiai sejak kecil, belajar mengaji di lingkungan pesantren, dan menjalankan amalan keagamaan yang diwariskan oleh orang tua.
Mereka merasa menjadi warga NU bahkan sebelum benar-benar tahu apa itu NU. Identitas ini muncul secara alami, seperti bahasa ibu atau kampung halaman. Tapi, ada pertanyaan menarik saat seseorang tumbuh dewasa, meninggalkan rumah, kuliah, bekerja, menikah, dan membangun hidup sendiri. Apakah dia akan tetap menjadi NU? Apa yang membuat seseorang tetap memegang identitas agama yang diwariskan kepadanya Sebaliknya, kenapa ada orang yang sebelumnya bukan NU lalu merasa menjadi bagian dari NU, sementara yang lain justru mulai menjauh?
Pertanyaan ini penting saat kita membicarakan masa depan Nahdlatul Ulama. Selama ini, pembicaraan tentang masa depan NU lebih sering membahas jumlah warga, pergantian pemimpin, kekuatan pesantren, hubungan dengan pemerintah, dan perubahan organisasi. Semua itu memang penting. Namun, ada satu masalah utama yang tampaknya belum cukup diperhatikan. Masalah itu adalah bagaimana identitas ke-NU-an terbentuk, dijaga, berubah, atau bahkan ditinggalkan sepanjang hidup seseorang. Kita mungkin sering menghitung berapa banyak orang NU saat ini. Namun, kita belum benar-benar paham mengapa mereka menjadi NU dan apakah mereka
akan tetap menjadi NU di masa depan.
Menjadi NU: Warisan atau Pilihan?
Menjadi NU tidak selalu melalui proses yang sama. Sebagian orang menjadi NU karena lahir dan tumbuh dalam keluarga NU. Sebagian lagi mengenal NU melalui pendidikan pesantren, lingkungan
pergaulan, hubungan dengan kiai, atau pengalaman berinteraksi dengan komunitas Nahdliyin. Ada juga orang yang baru merasa dekat dengan NU setelah dewasa, saat menemukan kecocokan antara pandangan keagamaannya dengan tradisi dan nilai-nilai yang hidup di lingkungan NU. Jadi, menjadi NU bisa menjadi identitas yang diwariskan. Namun, identitas ini juga dapat ditemukan dan dipilih secara sadar.
Perbedaan ini penting karena sesuatu yang didapat melalui warisan belum tentu dipertahankan dengan alasan yang sama. Seseorang bisa menjadi NU karena orang tuanya. Namun, ketika dewasa, ia butuh alasan lain untuk tetap merasa menjadi bagian dari NU. Kedekatan dengan komunitas, kenyamanan dalam menjalankan tradisi, pengalaman
pribadi, atau kepercayaan pada para kiai dapat menjadi alasan yang membuat
identitas tersebut semakin kuat. Di sini kita perlu mulai membedakan antara
proses seseorang menjadi NU dan proses yang membuatnya tetap bertahan sebagai warga NU.
Perubahan struktur keluarga dan mobilitas masyarakat membuat proses pewarisan identitas ini semakin menarik untuk dikaji. Bayangkan seorang anak yang lahir dari keluarga NU di Jawa Timur. Ia bersekolah di lembaga pendidikan umum. Ia kuliah di Jakarta. Kemudian ia menikah dengan pasangan dari Padang yang punya tradisi keagamaan berbeda. Ia lalu membesarkan anaknya di lingkungan perkotaan yang beragam. Tradisi NU mungkin masih ada dalam ingatannya, tetapi belum tentu menjadi bagian dari kehidupan anak-anaknya. Identitas yang dulu diwariskan melalui keluarga, lingkungan, dan lembaga pendidikan kini menghadapi semakin banyak sumber pembentukan identitas lain. Pertanyaannya, seberapa kuat NU bisa
mempertahankan proses pewarisan antargenerasi?
Mengapa Orang Bertahan?
Saya pikir alasan seseorang menjadi NU tidak selalu sama dengan alasan ia tetap menjadi NU. Seseorang bisa saja menjadi NU karena orang tuanya, tetapi saat dewasa, ia merasa nyaman dengan tradisi, dekat dengan komunitas, percaya kepada kiai, atau pernah merasakan manfaat dari lembaga-lembaga NU. Identitas yang awalnya diwariskan lalu memperoleh makna baru melalui pengalaman pribadi. Di sini, NU bukan lagi sekadar soal asal-usul, tetapi sudah menjadi bagian dari hidup yang ia pilih untuk dipertahankan.
Studi Pew Research Center yang terbit pada Desember 2025 memberikan sudut pandang yang menarik. Dari survei terhadap 8.937 orang dewasa di Amerika Serikat pada Mei 2025, mereka yang tetap memegang agama masa kecilnya paling sering menyebut keyakinan pada ajaran agama, yaitu 64 persen. Sebanyak 61 persen menyebut kebutuhan spiritualnya terpenuhi, dan 56 persen merasa bahwa agama memberi makna hidup sebagai alasan yang sangat atau cukup penting. Temuan ini bisa menjadi cermin bahwa keberlanjutan identitas keagamaan tidak hanya berkaitan dengan keluarga, kebiasaan, dan keyakinan. Hal ini juga berhubungan dengan makna yang seseorang temukan saat menjalani kehidupan beragamanya.
Dalam konteks NU, masalah ini menjadi lebih menarik karena kita harus membedakan antara identitas budaya, praktik agama, dan keterikatan pada organisasi. Dalam pemetaan Alvara
tahun 2025, kelompok yang terkait dengan NU terbagi menjadi Cultural NU (29,8 persen responden), Engaged NU (18,0 persen), dan Core NU (9,4 persen).
Perbedaan ini menunjukkan bahwa merasa menjadi bagian dari NU dan memiliki keterikatan kuat dengan jam’iyah adalah dua hal yang tidak selalu berjalan
bersama. Seseorang bisa saja memiliki identitas NU yang kuat tanpa pernah aktif
dalam kepengurusan. Sebaliknya, keterlibatan resmi dalam organisasi juga perlu dibedakan berdasarkan seberapa dalam identitas dan pengalaman agamanya.
Ada kemungkinan fenomena lain yang perlu kita perhatikan, yaitu melemahnya peran NU dalam hidup seseorang walaupun identitas NU-nya tidak hilang. Orang masih mengaku NU, masih
membaca Yasin, masih ikut tahlilan. Namun, saat butuh pendidikan mereka memilih lembaga lain. Saat mencari penjelasan agama, mereka lebih percaya pada tokoh yang mereka temui di media sosial. Saat ingin berdonasi, mereka menggunakan platform filantropi di luar NU. Ketika menghadapi masalah sosial, organisasi NU bukan lagi tempat pertama yang mereka pikirkan. Identitas budayanya tetap ada, tapi hubungannya dengan organisasi itu perlahan melemah. NU masih ada dalam ingatan, tapi mungkin perannya tidak sebesar dulu dalam kehidupan sehari-hari.
Mereka yang Perlahan Meninggalkan NU
Bagian lain yang juga penting adalah memahami alasan seseorang meninggalkan NU. Istilah “meninggalkan”
di sini harus dipahami dengan hati-hati. Berhenti menjadi pengurus tidak berarti berhenti menjadi bagian dari NU. Tidak ikut lagi dalam kegiatan organisasi juga tidak langsung membuat seseorang meninggalkan tradisi ke-NU-an.
Bahkan, seseorang bisa tetap menjalankan amaliah yang biasa dikaitkan dengan NU walaupun ia tidak lagi ingin menyebut dirinya sebagai warga NU. Ketiga hal tersebut memiliki makna sosiologis yang berbeda dan sebaiknya tidak dicampur dalam satu kategori.
Saya tertarik pada kemungkinan adanya fenomena silent exit, yaitu ketika seseorang menjauh tanpa pernah secara terbuka menyatakan bahwa dirinya telah meninggalkan NU. Proses ini mungkin tidak terjadi melalui satu keputusan besar. Biasanya, ini terjadi melalui serangkaian perubahan kecil. Misalnya, mulai jarang ikut kegiatan, kehilangan hubungan dengan komunitas, menemukan referensi keagamaan baru, atau merasa identitas NU semakin tidak penting dalam hidupnya. Pada akhirnya, ia merasa tidak lagi butuh keterikatan itu. Bisa jadi organisasi tidak pernah tahu perubahan ini karena orang yang menjauh memang tidak pernah menyampaikan keberatannya.
Albert O. Hirschman dalam bukunya Exit, Voice, and Loyalty (1970) menjelaskan bagaimana seseorang merespons ketidakpuasan terhadap suatu organisasi. Ada yang memilih keluar (exit). Ada juga yang menyampaikan kritik dan berusaha memperbaikinya dari dalam (voice). Loyalitas bisa memengaruhi pilihan di antara keduanya. Cara pandang ini penting untuk memahami hubungan warga dengan NU. Kritik keras
terhadap pengurus, misalnya, tidak otomatis berarti seseorang kurang mencintai NU. Kritik justru bisa muncul karena masih ada harapan agar organisasi menjadi lebih baik. Sebaliknya, tidak semua orang yang diam bisa dianggap sangat loyal. Sebagian mungkin sudah tidak peduli lagi.
Membaca Ulang Masa Depan Nahdliyin
Menurut saya, sudah saatnya kajian tentang NU tidak hanya melihat siapa saja warga NU saat ini. Kajian juga perlu menelusuri perjalanan identitas mereka. Setidaknya ada empat kelompok yang menarik untuk dibandingkan. Pertama, mereka yang tumbuh dalam keluarga NU dan tetap menjadi NU. Kedua, mereka yang sebelumnya bukan NU lalu merasa menjadi NU. Ketiga, mereka yang pernah menjadi NU tetapi sekarang tidak
lagi mengidentifikasi diri sebagai NU. Keempat, mereka yang sejak awal tidak memiliki afiliasi dengan NU. Dari kelompok-kelompok ini, kita bisa memahami faktor-faktor yang berkaitan dengan proses masuk, bertahan, dan keluar dari identitas NU.
Pendekatan ini juga membuka kemungkinan untuk melakukan analisis lintas generasi yang lebih bermakna. Ini bukan hanya soal membandingkan berapa persen Gen Z, Milenial,
atau Gen X yang mengaku sebagai warga NU. Kita juga perlu memahami bagaimana
setiap generasi membangun hubungan dengan NU sepanjang hidup mereka. Apakah keluarga masih menjadi faktor utama? Seberapa besar peran pesantren dan komunitas? Bagaimana perpindahan tempat tinggal, pendidikan, pernikahan,
paparan digital, pengalaman pribadi, dan kepercayaan terhadap institusi memengaruhi hal ini? Kita perlu tahu apakah identitas NU makin banyak
dipertahankan karena tradisi atau karena seseorang dengan sadar menemukan nilai dan relevansinya.
Membicarakan masa depan NU pada akhirnya tidak cukup hanya dengan menghitung pertumbuhan penduduk, jumlah pesantren, banyaknya cabang organisasi, atau besarnya warga
yang mengaku NU. Semua itu penting. Namun, masih ada pertanyaan tentang
kelangsungan identitas. NU bisa terus memiliki basis kultural yang besar,
sementara hubungan sebagian warganya dengan organisasi berubah. Sebaliknya, NU juga mungkin mendapatkan keterikatan baru dari orang-orang yang tidak lahir dari keluarga NU, tetapi merasa cocok dengan tradisi dan nilai-nilai NU.
Ada satu pertanyaan yang menurut saya pantas muncul di tengah pembicaraan tentang masa depan NU. Apakah anak-anak yang lahir dari keluarga NU hari ini akan tetap merasa menjadi NU saat mereka dewasa? Apa yang membuat mereka tetap ingin menjadi bagian dari NU?
Jumlah warga yang besar merupakan gambaran tentang NU saat ini. Kemampuan menjaga makna,
kepercayaan, dan keterikatan lintas generasi merupakan persoalan yang berbeda.
Masa depan NU tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak orang yang mewarisi
identitas NU dari orang tuanya. Masa depan NU juga ditentukan oleh berapa
banyak dari mereka yang nanti, saat bebas memilih identitasnya sendiri, tetap memilih untuk menjadi NU.




Leave a comment