//
you're reading...
Research, Social/Politic

Pilkada Jakarta: Suara Kelas Menengah

JAKARTA, 15 SEPTEMBER 2012: Pilkada DKI Jakarta putaran dua tinggal beberapa hari lagi. Genderang perang kampanye dari dua kandidat yang lolos putaran dua, pasangan Fauzi Bowo – Nachrowi dan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama, telah ditabuh.  Berbagai upaya dilakukan oleh dua kandidat tersebut untuk meraih simpati dan suara sebanyak-sebanyaknya.

Berdasarkan Sensus Penduduk BPS 2010, penduduk Jakarta diperkirakan mencapai 9,6 juta jiwa. Berbeda dengan struktur demografi daerah lain, 73% penduduk Jakarta berusia di bawah 40 tahun. Katakanlah yang memiliki hak pilih adalah yang berusia 17 tahun ke atas, maka pemilih Pilkada DKI sangat didominasi kalangan muda, yaitu 65,6% untuk penduduk yang berusia 17 – 40 tahun.

Dari sisi sosial ekonomi, penduduk Jakarta juga berbeda dengan karakteristik penduduk Indonesia secara umum. Bila GDP perkapita penduduk Indonesia tahun 2011 sebesar US$ 3,542, maka GDP per kapita Jakarta sebesar kurang lebih US$ 10,000. Dengan GDP per kapita sedemikian besar, maka penduduk Jakarta secara strata sosial ekonomi didominasi oleh kelas menengah. Pemilih ini rasional, tidak ideologis, dan cenderung apatis terhadap politik.

Begitu halnya dengan etnis, penduduk Jakarta juga multi etnik, Menurut hasil sensus penduduk BPS tahun 2000, etnis Jawa di Jakarta mencapai 35,16%, Betawi 27,65%, Sunda 15,27%, dan sisanya lain-lain.

Menghadapi putaran kedua Pilkada DKI Jakarta ini, kami melakukan studi terkait dengan aspirasi pemilih muda dan kelas menengah di Jakarta. Studi ini bersifat independen dan tidak dibiayai oleh pihak mana pun. Studi ini dimaksudkan untuk menyuburkan tumbuh kembangnya keilmuan politik berbasis riset di Indonesia.

Survei dilakukan terhadap 250 responden dengan margin of error 6,1%. Responden berusia 17 – 49 tahun dengan tingkat pengeluaran rutin bulanan di luar kredit di atas Rp 1,75 juta. Pelaksanaan wawancara pada tanggal 6 – 12 September 2012.

Temuan survei ini antara lain:

  1. Jokowi unggul di semua indikator yang menentukan pemilih dalam memilih siapa kandidat gubernur.
    Indikator – indikator itu adalah: Candidate Awareness [CA], mengukur seberapa kuat para pemilih mengenal kandidat. Candidate Image [CI], mengukur seberapa baik persepsi pemilih terhadap kandidat. CI diukur berdasar persepsi terhadap kualitas dan kapabilitas kandidat. Candidate Enggagement [CEng], mengukur seberapa kuat kedekatan hubungan antara pemilih dan kandidat. Candidate Electability [CEl], mengukur seberapa kuat keinginan pemilih dalam memilih kandidat tertentu
  2. Berdasarkan empat indikator tersebut terlihat jelas JOKOWI sangat unggul di kelas menengah Jakarta. Dengan menggunakan skala 1 – 6, terlihat bahwa FOKE hanya bisa mendekati JOKOWI di indikator Candidate Awareness [CA]. Sementara di indikator yang lain, rentang nilainya antara FOKE dan JOKOWI semakin tinggi.
  3. Faktor kedekatan kandidat dengan pemilih menjadi faktor kunci kemenangan seorang kandidat dalam Pilkada DKI Jakarta. Dari grafik di samping terlihat bahwa indikator Candidate Enggagement [CEng] memiliki pengaruh tertinggi (74,1%) terhadap tingkat elektabilitas (CEl) kandidat gubernur dibanding dua indikator lainnya. Dari data ini saja kita bisa melihat bahwa kunci keunggulan JOKOWI adalah dia lebih berhasil  membangun simpati, kedekatan, dan hubungan yang hangat dengan pemilih di bandingkan dengan FOKE
  4. Survei ini juga menemukan bahwa sebagian besar pemilih kelas menengah sudah menentukan siapa yang akan dipilih pada 20 September mendatang. Artinya suara mengambang pada Pilkada DKI putaran kedua ini hanya 7,77% pemilih yang belum menentukan siapa yang akan di pilih pada tanggal 20 September nanti.
  5. Tingkat elektabilitas perolehan suara JOKOWI di kelas menengah Jakarta juga lebih unggul di banding FOKE, yakni 51,81 untuk JOKOWI dan 40,41 untuk FOKE.
  6. Melihat kecenderungan data ini maka kami memprediksi  hasil Pilkada Jakarta putaran kedua nanti kemungkinan JOKOWI akan mengungguli FOKE dengan rentang  6% – 12%, dengan perkiraan perolehan suara JOKOWI antara 53% – 56% dan FOKE 44% – 47%

Secara umum, persaingan antara FOKE dan JOKOWI di putaran kedua ini semakin ketat. Masing-masing kandidat masih memiliki peluang untuk menang, perbedaan perolehan suara di prediksi akan tipis. FOKE juga masih punya peluang meski kecil, segala kemungkinan masih bisa terjadi sebelum pemilih memasuki TPS pada tanggal 20 September mendatang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

%d bloggers like this: