Mengapa sebagian warga NU sangat dekat dengan jam’iyah, sementara sebagian lainnya merasa cukup menjadi Nahdliyin secara kultural? Mengapa generasi muda tampak memiliki wajah ke-NU-an yang berbeda dengan generasi sebelumnya? Dan bagaimana urbanisasi, media digital, serta perubahan struktur sosial akan memengaruhi NU dalam dua puluh tahun mendatang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi titik awal saya menulis whitepaper ini. Selama ini, pembicaraan tentang Nahdlatul Ulama sering kali berhenti pada besarnya jumlah warga atau dinamika politiknya. Padahal, sebagai organisasi yang telah memasuki abad kedua, tantangan terbesar NU bukan lagi sekadar mempertahankan jumlah, melainkan memahami perubahan yang sedang terjadi di dalam tubuh warganya sendiri.
Melalui survei nasional Alvara Research Center tahun 2025, saya mencoba membaca anatomi Nahdliyin secara lebih mendalam. Tidak semua warga NU memiliki tingkat keterikatan yang sama terhadap amaliah, fikroh, harokah, komitmen kebangsaan, maupun organisasi. Dari sinilah lahir pemetaan tiga lapisan warga NU: Cultural Nahdliyin, Engaged Nahdliyin, dan Core Nahdliyin. Pemetaan ini bukan untuk memberi label, tetapi untuk menyediakan cara pandang baru dalam memahami keragaman internal NU sekaligus merumuskan strategi pengembangannya di masa depan.
Whitepaper ini juga mengajak pembaca melihat bagaimana faktor generasi, urbanisasi, kelas sosial, preferensi terhadap ulama, hingga posisi pesantren sebagai pusat reproduksi manhaj membentuk wajah NU hari ini. Pada akhirnya, saya ingin menunjukkan bahwa kekuatan terbesar NU bukan hanya terletak pada besarnya basis sosial, tetapi juga pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara tradisi dan perubahan.
Saya berharap tulisan ini tidak hanya bermanfaat bagi para pengurus dan aktivis NU, tetapi juga bagi akademisi, peneliti, pengambil kebijakan, serta siapa pun yang ingin memahami dinamika organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan pendekatan yang lebih berbasis data. Saya percaya, keputusan yang baik selalu berangkat dari pembacaan yang jernih terhadap realitas. Semoga whitepaper ini dapat menjadi salah satu ikhtiar kecil ke arah tersebut.
Selamat membaca


Leave a comment