Selama bertahun-tahun, banyak orang percaya bahwa alasan utama seseorang bekerja adalah untuk mendapatkan penghasilan. Gaji dianggap sebagai jawaban atas hampir semua pertanyaan tentang motivasi kerja. Namun, dunia kerja terus berubah. Apa yang dicari orang dari pekerjaan ternyata tidak sesederhana sekadar berapa nominal penghasilan yang diterima setiap bulan.

Survei nasional Alvara Research Center tahun 2024 terhadap 1.800 responden menunjukkan bahwa orientasi masyarakat Indonesia terhadap pekerjaan semakin beragam. Gaji tentu saja masih penting, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan. Lingkungan kerja yang nyaman, hubungan baik dengan rekan kerja, kesempatan berkembang, hingga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi kini ikut menjadi pertimbangan yang tidak kalah penting.

Dengan menggunakan pendekatan data science melalui analisis Principal Component Analysis (PCA), dan analisis faktor K-Means, ditemukan bahwa orientasi kerja masyarakat Indonesia secara umum terbagi ke dalam tiga kelompok besar. Ketiga kelompok ini menggambarkan bagaimana orang memandang pekerjaan dan apa yang sebenarnya mereka harapkan dari dunia kerja.

Kelompok terbesar adalah Pragmatic Worker, yang mencakup sekitar 55 persen responden. Mereka adalah kelompok yang realistis. Bagi kelompok ini, pekerjaan pada dasarnya merupakan sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memperoleh stabilitas. Mereka tentu menghargai lingkungan kerja yang baik dan peluang pengembangan karier, tetapi tidak memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap semua aspek pekerjaan. Selama pekerjaan berjalan baik, penghasilan memadai, dan lingkungan kerja cukup sehat, mereka cenderung merasa puas.

Menariknya, kelompok ini justru mendominasi hampir semua lapisan masyarakat. Mereka lebih banyak ditemukan pada generasi yang lebih senior dan tersebar relatif merata pada berbagai tingkat pendapatan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih melihat pekerjaan secara pragmatis. Pekerjaan dipandang sebagai bagian penting dari kehidupan, tetapi bukan satusatunya pusat kehidupan.

Kelompok kedua adalah Work-Life Seeker yang jumlahnya sekitar 27 persen. Kelompok ini lebih menekankan kualitas hidup. Mereka menghargai fleksibilitas waktu kerja, waktu luang, serta lingkungan yang nyaman dan harmonis. Karier tetap penting, tetapi bukan dengan mengorbankan kehidupan pribadi.

Kelompok ini banyak ditemukan pada generasi milenial. Mereka tumbuh pada masa ketika isu kesehatan mental, keseimbangan hidup, dan kebahagiaan pribadi semakin mendapat perhatian. Pandemi Covid-19 juga ikut mengubah cara pandang terhadap pekerjaan. Banyak orang menyadari bahwa kehidupan tidak hanya berisi target, rapat, dan jenjang karier, tetapi juga keluarga, kesehatan, serta waktu untuk diri sendiri.

Kelompok ketiga adalah Dream Job Seeker yang jumlahnya sekitar 16 persen. Inilah kelompok yang memiliki ekspektasi paling tinggi terhadap pekerjaan. Mereka menginginkan hampir semua hal sekaligus. Gaji yang baik, jenjang karier yang jelas, pekerjaan yang menantang, lingkungan kerja yang positif, hubungan yang baik dengan rekan kerja, fleksibilitas, bahkan perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat.

Bagi kelompok ini, pekerjaan ideal adalah pekerjaan yang mampu memenuhi kebutuhan ekonomi sekaligus memberikan ruang aktualisasi diri. Mereka tidak sekadar mencari tempat bekerja, melainkan mencari tempat yang sesuai dengan nilai dan aspirasi hidup mereka.

Menariknya, kelompok Dream Job Seeker lebih banyak ditemukan pada Gen Z dan kelompok berpendapatan menengah atas. Hal ini menunjukkan bahwa semakin muda usia seseorang dan semakin tinggi tingkat kesejahteraannya, semakin besar pula ekspektasi yang dimiliki terhadap pekerjaan.

Perbedaan orientasi kerja juga terlihat dari karakteristik wilayah tempat tinggal. Segmen Pragmatic Worker tetap menjadi mayoritas baik di pedesaan maupun di perkotaan. Di wilayah rural, proporsinya mencapai sekitar 61,7 persen, sedangkan di wilayah urban sekitar 56 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia, terlepas dari tempat tinggalnya, masih memandang pekerjaan sebagai sarana memperoleh penghidupan dan stabilitas ekonomi.

Proporsi Work-Life Seeker hampir sama antara masyarakat perkotaan dan pedesaan, masing-masing sekitar 27 persen. Artinya, kebutuhan akan keseimbangan hidup, lingkungan kerja yang nyaman, serta waktu luang yang cukup ternyata bukan lagi monopoli masyarakat kota besar. Aspirasi untuk hidup lebih seimbang tampaknya sudah menjadi kebutuhan yang semakin universal.

Perbedaan yang lebih nyata justru terlihat pada kelompok Dream Job Seeker. Di wilayah perkotaan, proporsinya mencapai sekitar 16,8 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah pedesaan yang hanya sekitar 11,1 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa kehidupan perkotaan yang lebih dinamis, akses pendidikan yang lebih tinggi, serta semakin terbukanya berbagai pilihan karier mendorong lahirnya ekspektasi yang lebih besar terhadap pekerjaan. Bagi sebagian masyarakat urban, bekerja tidak lagi sekadar mencari nafkah, melainkan juga mencari makna, tantangan, dan ruang untuk berkembang.

Temuan ini memperlihatkan adanya perubahan mendasar dalam cara masyarakat memaknai pekerjaan. Pada masa lalu, orang cenderung menerima pekerjaan apa adanya. Selama memperoleh penghasilan yang cukup, banyak hal lain dianggap bisa dikompromikan. Kini, pekerjaan semakin dipandang sebagai bagian dari identitas diri dan kualitas hidup.

Perubahan ini juga menunjukkan bahwa motivasi kerja masyarakat Indonesia semakin multidimensi. Faktor ekonomi tetap menjadi fondasi utama, tetapi tidak lagi berdiri sendiri. Lingkungan kerja yang sehat, hubungan sosial yang baik, kesempatan berkembang, serta keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi faktor yang semakin menentukan.

Bagi perusahaan dan organisasi, perubahan ini membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Strategi pengelolaan sumber daya manusia yang hanya berfokus pada kompensasi finansial semakin tidak memadai. Menaikkan gaji memang penting, tetapi tidak selalu cukup untuk mempertahankan talenta terbaik.

Hasil analisis decision tree dalam penelitian ini bahkan menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang saling membantu merupakan salah satu faktor paling penting yang membedakan preferensi pekerja. Temuan ini mengingatkan bahwa budaya organisasi dan kualitas hubungan antarmanusia sama pentingnya dengan sistem kompensasi.

Budaya kerja yang sehat, kepemimpinan yang suportif, kesempatan belajar yang berkelanjutan, dan fleksibilitas dalam bekerja akan semakin menentukan daya tarik sebuah organisasi di masa depan. Orang tidak hanya mencari pekerjaan yang memberikan penghasilan, tetapi juga tempat di mana mereka
merasa dihargai, bertumbuh, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Pekerjaan terbaik mungkin bukan pekerjaan dengan gaji tertinggi atau jabatan paling bergengsi. Pekerjaan terbaik adalah pekerjaan yang mampu menghadirkan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi, kesempatan berkembang, hubungan sosial yang sehat, dan kehidupan yang bermakna.

Karena pada akhirnya, orang bekerja bukan hanya untuk hidup. Orang juga ingin hidup dengan baik melalui pekerjaan yang mereka jalani

Leave a comment