//
you're reading...
Research

Researcher: Antara Pandito dan Mufassir

“Research is creating new knowledge.”
~ Neil Armstrong

Seorang teman dalam suatu kesempatan pernah bilang ke saya dengan dialek Jawa Timuran yang kental, “Pak, sampean itu kayak pandito, sampean itu gudange informasi, sampean tugasnya memberi pencerahan kebanyak orang”. Apa yang disampaikan teman saya tadi boleh jadi merupakan cerminan dari apa yang seharusnya dipunyai seorang researcher.

Secara profesi, seorang researcher sebenarnya memiliki status dan strata yang sama dengan profesi wartawan terutama dalam hal mengumpulkan informasi. Yang membedakan adalah tugas wartawan berikutnya adalah mengabarkan informasi itu, sementara seorang researcher tugas berikutnya adalah menganalisa informasi baru kemudian disampaikan kepada yang berhak.

Menjadi seorang researcher tidaklah mudah dan juga perlu konsistensi. Sarat utama menjadi seorang researcher adalah mereka harus punya sifat curious, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Kalo menurut Bahasa anak sekarang seorang researcher harus kepo. Dengan rasa kepo yang tinggi, seorang researcher haus akan informasi, memiliki tingkat sensitifitas yang tinggi terhadap informasi yang dia terima.

queriosity_2

Seorang researcher bisa datang dari latar belakang keilmuaan mana saja, asal dia memiliki logika berpikir (logic thinking)  yang baik dia bisa menjadi seorang researcher, memang memiliki kemampuan Ilmu Statistika akan memiliki nilai lebih dan sangat membantu seorang researcher dalam menjelaskan sebuah fenomena secara lebih terukur.

Apalagai di era kekinian ketika arus informasi datang dan pergi begitu cepat, ketika informasi yang benar dan salah semakin susah sekali dibedakan, seorang researcher semakin dibutuhkan kehadirannya. Tugas seorang researcher di zaman ini bukan sekedar mengumpulkan data, ketika data melimpah maka seorang researcher dituntut untuk bisa menjadi “hakim” mana data yang benar dan akurat dan mana data yang “sampah”.

Selain itu apabila seorang researcher sudah mencapai maqom tertinggi maka dia harus mampu menjadi muffasir atas data dan informasi yang ada di publik. Researcher yang sudah mencapai level ini harus mampu menjadi rujukan ketika orang awam bertanya. Data atau angka sebagaimana kitab suci tidak bisa bicara sendiri, angka selalu membutuhkan interpretasi dan penafsiran tergantung situasi dan latar belakang pembacanya. Disinilah pentingnya seorang researcher yang diberi otoritas untuk menafsirkan data secara lebih netral dan tidak berpihak ke manapun.

Karena itu pilihan profesi menjadi seorang researcher adalah pilihan profesi yang mulia, profesi yang apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab akan menjamin kebahagian di dunia dan akhirat. Semoga.

*Sumber Gambar: http://daslab.seas.harvard.edu/queriosity/

Oleh:
Hasanuddin Ali
CEO and Founder
Alvara Strategic Research

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

%d bloggers like this: