//
you're reading...
Marketing

Sport Tourism, Primadona Baru Industri Pariwisata Indonesia

20161120200205_img_2040-01Saat berkunjung ke Allianz Arena, stadion markasnya Bayern Munchen, di Munich Jerman bulan lalu, saya ketemu rombongan wisatawan dari Indonesia. Semula saya ragu ini rombongan dari Indonesia atau bukan, tapi begitu melihat salah satu rombongan menggunakan syal Arema, saya yakin mereka pasti dari Indonesia.

Saya langsung nyapa salah satu anggota rombongan, “saking pundi Pak?, Bapak yang saya sapa kaget karena saya nyapa pakai bahasa Jawa, “saking Malang Mas, bolo dewe ternyata”, jawab beliau yang bernama Eko. Pak Eko kemudian cerita, sebagai penggemar berat sepak bola, terutama Bayern Munchen, kalo ke Eropa wajib hukumnya datang ke Allianz Arena, “kesini itu ibarat datang “haji” bagi pendukung Munchen”, katanya. “Tapi hati tetap Arema kan Pak?”, pancing saya, “oh pasti itu, hehe”, jawabnya.

Sekelumit cerita diatas menunjukkan bahwa ternyata obyek wisata itu bukan sekedar alam, kuliner, atau situs bersejarah, sebuah komplek olahraga ketika dikemas dengan baik ternyata bisa juga menjadi obyek wisata yang menarik.

Sport tourism atau pariwisata olahraga, beberapa tahun belakangan memang semakin marak, beberapa negara di Eropa telah menggalakkan sport tourism sebagai salah satu diversifikasi produk pariwisata.

Menurut Gammon and Robinson (2003), sport tourism terbagi menjadi dua, yaitu hard sports tourism, dan soft sports tourism.

Hard sport tourism adalah pariwisata olahraga yang terkait dengan even-even besar reguler seperti Olimpiade, Asian Games, Sea Games, World Cup, dll. Sementara soft sport tourism adalah pariwisata olahraga yang unsur gaya hidupnya besar seperti lari, hiking, golf, biking, dll.

Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan sport tourism saat ini, terutama karena Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games, even olahraga terbesar di kawasan Asia tahun 2018. Asian Games 20018 harus menjadi mementum untuk menggerakkan setiap insan olahraga dan pariwisata mengembangkan lebih serius sport tourism di Indonesia.

Banyak kajian yang membahas adanya korelasi jangka pendek antara penyelenggaraan even olahraga terhadap pertumbuham ekonomi suatu negara, terutama kaitannya dengan pembangunan infrastruktur dan penyerapan tenaga kerja di suatu negara.

Bohlman and van Heerden (2005) dari University of Pretoria Afrika Selatan dalam salah satu kajian simulasinya menyatakan ada pengaruh positif antara kegiatan pre-event piala dunia sepak bola 2010 di Afrika Selatan terhadap pertumbuhan ekonomi Afrika Selatan. Kajian yang  hasilnya kurang lebih sama dilakukan oleh Centre for Regional Economic Analysis (1999) terhadap penyelenggaraan Olimpiade tahun 2000 di Sydney.

Potensi soft sport tourism juga tidak kalah menariknya bagi Indonesia, terutama bagi kegiatan pariwisata di daerah-daerah. Tour de Singkarak adalah salah satu contoh sukses kegiatan olahraga dan pariwasata secara bersamaan, di Banyuwangi ada Tour de Ijen. Kegiatan olahraga lari jarak jauh yang lagi ngetrend saat ini juga mulai banyak dilakukan di daerah-daerah, ada Jakarta Marathon, Bali Marathon, Borobudor Marathon, dll.

Dalam kaitannya dengan soft sport tourism yang perlu diperhatikan adalah keberadaan museum-museum olahraga dan hall of fame tokoh-tokoh olah raga dan atlet-atlet terbaik yang telahmengaharumkan nama Indonesia di pentas olahraga dunia. Indonesia sebenarnya memiliki museum olahraga nasional tapi kondisinya kurang bagus dan letaknya TMII. Museum olahraga sebaiknya berada di komplek Gelora Bung Karno Senayan yang merupakan epicentrum olahraga nasional. Apalagi Gelora Bung Karno juga memiliki nilai sejarah tinggi yang bisa menjadi obyek wisata ditawarkan ke wisatawan.

Selain itu salah satu cabang olahraga yang sudah sangat layak di buatkan museum adalah Bulu Tangkis. Dari sekian olahraga, Bulu Tangkislah yang paling sering membawa harum nama Indonesia di puncak dunia, tengok saja berapa medali emas yang disumbangkan atlit-atlit bulu tangkis kita. Legenda-legenda bulu tangkis kita Rudy Hartono, Cristhian Hadinata, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Susi Susanti layak masuk hall of fame museum dan kalau perlu dibikinkan patung lilin seperti patung lilin di Madame Tussaud

Akhirnya keberhasilan industri sport tourism tergantung dari sinergi seluruh stakeholder, tidak hanya Kementrian Pariwisata atau Kementrian Pemuda dan Olah Raga saja, tapi juga kementrian-kementrian lain, asosiasi-asosiasi olahraga, serta tidak lupa inisiatif dan dukungan dari kepala daerah juga sangat menentukan keberhasilan pariwisata olahraga di Indonesia.

Salam Olahraga..

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

%d bloggers like this: