Tidak hanya sekali, bahkan beberapa kali, banyak orang mempertanyakan ke saya hasil survei yang menyebutkan jumlah warga NU diatas 50% dari jumlah populasi muslim di Indonesia. Bahkan yang mempertanyakan itu tidak hanya pihak yang diluar orbit NU, internal NU pun juga menyangsikan angka tersebut.

Tapi hasil survei memang sudah ”ijma” menghasilkan temuan yang hampir sama. Survei Alvara, LSI Denny JA, Indikator, dan lembaga survei lain dari waktu ke waktu menempatkan NU sebagai organisasi dengan jumlah pengikut terbesar di Indonesia.

Survei Alvara Research Center tahun 2025 menunjukkan 57.2 persen Muslim Indonesia mengidentitaskan dirinya sebagai Nahdliyin. Jika kita menggunakan estimasi populasi Muslim Indonesia sekitar 244 juta orang, maka jumlah Nahdliyin secara kasar mencapai sekitar 140 juta orang. Angka ini membuat NU bukan hanya organisasi Islam terbesar di Indonesia, tetapi juga salah satu komunitas keagamaan terbesar di dunia.

Namun, angka besar ini tentu saja menyimpan cerita yang lebih menarik, sebab akan muncul banyak pertanyaan, misalnya apakah dengan jumlah yang besar itu sebagai beban atau modal? Apakah Nahdliyin kelompok yang homogen atau justru banyak fragmentasi di dalamnya? Seorang kawan pernah bilang, ibarat rumah NU itu banyak pintunya, orang bisa keluar-masuk sesuka hatinya.

Karena itu saya melakukan pemetaan kedalaman variasi warga NU dengan menggunakan pengembangan analisa lanjutan (advanced analysis) dari Indeks Ke-NU-an yang dibangun atas lima indikator: amaliah, fikroh, harokah, komitmen kebangsaan, dan ikatan terhadap organisasi.

Hasilnya menunjukkan temuan yang sangat menarik, ternyata komposisi warga NU berlapis-lapis, yaitu Cultural Nahdliyin, Engaged Nahdliyin, dan Core Nahdliyin.

Siapa mereka?

Lapisan pertama adalah NU yang hadir dalam bentuk tradisi. Mereka hadir dalam tahlilan ketika ada tetangga meninggal. Mereka hadir dalam yasinan malam Jumat, atau mereka hadir dalam peringatan Maulid Nabi di langgar kecil di kampung.

Tradisi-tradisi inilah yang membentuk apa yang sering disebut sebagai Islam kultural. Dalam riset kami, kelompok ini merupakan lapisan terbesar Nahdliyin. Saya menyebutnya Cultural Nahdliyin.

Jumlahnya tidak kecil. Sekitar 29,8 persen dari Muslim Indonesia, atau jika diekstrapolasi menjadi sekitar 73 juta orang.

Kelompok ini mungkin tidak selalu mengikuti kegiatan organisasi NU secara formal. Tetapi praktik keagamaannya, nilai-nilainya, dan identitas sosialnya sangat dekat dengan tradisi NU.

Lapisan kedua adalah mereka yang tidak hanya menjalankan tradisi, tetapi juga terlibat dalam aktivitas organisasi. Mereka mengikuti kegiatan pengajian yang diinisiasi NU. Mereka aktif di badan otonom seperti Muslimat, Ansor, atau Fatayat. Mereka hadir dalam kegiatan sosial, pendidikan, atau dakwah yang dilakukan oleh jaringan NU.

Kelompok ini saya sebut sebagai Engaged Nahdliyin.

Jumlahnya sekitar 18 persen dari Muslim Indonesia, atau sekitar 44 juta orang.

Kelompok ini sangat penting bagi kehidupan organisasi. Mereka adalah penghubung antara basis kultural yang luas dengan struktur organisasi NU.

Jika Cultural Nahdliyin adalah tanah tempat NU tumbuh, maka Engaged Nahdliyin adalah batang yang menopang pohon besar itu.

Lapisan ketiga adalah kelompok yang paling kecil, tetapi memiliki peran yang sangat penting. Mereka adalah para penggerak utama NU, para kiai, pengurus organisasi, aktivis pesantren, kader muda, serta mereka yang secara sadar menjaga ideologi Aswaja dan mengembangkan tradisi intelektual NU.

Kelompok ini saya sebut sebagai Core Nahdliyin.

Proporsinya sekitar 9,4 persen dari Muslim Indonesia, atau sekitar 23 juta orang.

Jumlah ini mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan total populasi Nahdliyin. Namun dalam dinamika organisasi, kelompok inilah yang menjadi inti ideologis NU.

Jika NU diibaratkan sebagai pohon besar, maka Core Nahdliyin adalah akarnya.

Lapisan NUPersentase MuslimEstimasi Populasi
Cultural Nahdliyin29,8%≈ 73 juta
Engaged Nahdliyin18%≈ 44 juta
Core Nahdliyin9,4%≈ 23 juta
Total Nahdliyin57,2%≈ 140 juta

Bila dianalisis lebih detail, kita akan menemukan kekhasan masing-masing anatomi warga NU ini. Kita akan menganalisis berdasarkan generasi, strata sosial ekonomi, dan aspek kewilayahan.

  • Secara generasi, terlihat Gen Z cenderung lebih dekat dengan Cultural Nahdliyin, Milenial cenderung lebih dekat dengan Engaged Nahdliyin, sementara Gen X dan juga Baby Boomer lebih dekat dengan Core Nahdliyin.
  • Secara strata sosial ekonomi, Engaged Nahdliyin memiliki kedekatan yang relatif lebih kuat dengan kelas menengah, sementara Core Nahdliyin tidak terkonsentrasi pada kelas atas. Cultural Nahdliyin lebih beririsan dengan kelas bawah.
  • Secara kewilayahan terlihat bahwa Core Nahdliyin relatif lebih kuat di wilayah rural dibanding urban, sementara Cultural Nahdliyin lebih dominan di wilayah urban.

Temuan yang lebih menarik adalah ketika anatomi warga NU ini kita bedah berdasarkan preferensi ulama/ustadz dan tingkat awareness terhadap pesantren.

Lapisan Cultural Nahdliyin cenderung lebih plural dalam memilih figur rujukan. Mereka dapat mengakses dan mengikuti ustadz dengan eksposur publik luas, termasuk figur yang tidak selalu berasal dari tradisi pesantren klasik. Popularitas, gaya komunikasi, dan kehadiran di media menjadi faktor penting dalam membentuk preferensi mereka.

Lapisan Engaged Nahdliyin menunjukkan pola yang lebih seimbang. Mereka tetap terbuka terhadap figur populer, tetapi memiliki kecenderungan lebih kuat untuk merujuk pada tokoh yang memiliki afiliasi atau kedekatan dengan tradisi NU. Ikatan organisasi dan partisipasi struktural membuat mereka lebih selektif dalam membangun rujukan.

Ulama/Ustadz Panutan Berdasarkan Lapisan Nahdliyin

Sementara itu, Core Nahdliyin lebih konsisten merujuk pada figur yang memiliki legitimasi sanad keilmuan dan kedekatan dengan pesantren tradisional. Gus Baha, Gus Mus, dan Gus Iqdam memuncaki ustadz panutan Core Nahdliyin. Bagi mereka, otoritas bukan hanya soal retorika atau popularitas, tetapi kesinambungan tradisi dan kedalaman ilmu. Preferensi ini memperlihatkan bahwa lapisan inti menjaga relasi yang lebih kuat dengan sumber epistemologis NU.

Top Of Mind Pesantren Berdasarkan Lapisan Warga NU

Hasil survei Alvara menunjukkan adanya diferensiasi preferensi pesantren antar-lapisan. Lapisan Core Nahdliyin cenderung memiliki kedekatan lebih kuat dengan pesantren tradisional yang berbasis turats, sanad, dan figur kiai kharismatik, diantaranya Pesantren Lirboyo, Tebuireng, dan Sidogiri. Engaged Nahdliyin mengenali dan menghormati pesantren tradisional, tetapi juga familiar dengan pesantren besar yang memiliki reputasi nasional. Sementara Cultural Nahdliyin lebih mengenali pesantren yang memiliki eksposur publik luas atau simbolik, tanpa selalu memiliki keterikatan langsung dengan tradisi intelektualnya.

Pada akhirnya. struktur Nahdliyin yang berlapis adalah realitas sekaligus peluang. Cultural memberikan luasnya basis. Engaged memberikan gerak organisasi. Core memberikan kedalaman nilai. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan ketiganya dalam konteks generasi baru, urbanisasi, dan transformasi digital.

Masa depan NU tidak ditentukan oleh besarnya angka semata, tetapi oleh kualitas integrasi antar-lapisan. Jika mobilitas antar lapisan berjalan dengan baik dan pesantren tetap menjadi pusat gravitasi ideologi Aswaja yang adaptif, maka NU berpotensi mengalami renaissance peradaban di abad kedua.

Jika tidak, NU tetap akan besar, tetapi mungkin hanya sebagai kekuatan budaya, bukan kekuatan ide dan arah.

Pilihan ada pada strategi dan kesadaran kolektifnya.

Leave a comment

Selamat datang bagi yang suka dengan data dan analisis seputar dunia pemasaran, sosial politik, dan digital

Let’s connect