Belajar Dari Anak Muda

Sejak tahun 2015, saya bersama tim riset Alvara Research Center setiap tahun melakukan riset tentang anak muda Indonesia, mulai dari generasi milenial hingga Gen Z yang banyak dibicarakan sekarang. Dari situ saya merekam betapa perubahan itu dari waktu ke waktu semakin cepat, tidak hanya dari sisi perilaku, tapi juga paradigma dan nilai-nilai yang dianut.

Sebagai peneliti, tentu saya terbiasa bekerja dengan angka, grafik, persentase, tren, regresi, atau juga tools-tools statistik yang njlimet. Tetapi semakin lama saya menekuni riset generasi, semakin saya sadar, dibalik angka-angka yang muncul dipermukaan, ada cerita dan juga kegelisahan yang menghinggapi anak muda Indonesia.

Mungkin kesadaran itu muncul karena saya tidak hanya meneliti mereka. Saya hidup bersama mereka. Saya berbincang dengan mereka di kampus-kampus. Saya mendengar beragam cerita mereka diberbagai kanal media sosial. Saya melihat anak-anak muda di rumah tumbuh dengan cara yang sangat berbeda dari generasi saya dulu.

Saya lahir di masa ketika informasi datang dan pergi dengan sangat lamban. Hari ini, mereka lahir di dunia yang tidak pernah sepi notifikasi. Saya tumbuh dengan kompetisi yang jelas, sekolah, kuliah, kerja. Mereka tumbuh dalam kompetisi yang kabur batasnya, karier, personal branding, relasi sosial, bahkan citra diri di media sosial.

Dari kegelisahan dan rasa ingin tahu itulah saya menulis buku Tipologi Anak Muda Indonesia: Eksis, Digital, Santuy yang akan terbit akhir bulan ini. Buku ini bukan sekadar kumpulan hasil survei semata, buku ini adalah upaya saya untuk memahami dan mungkin juga meminta maaf karena generasi saya sering terlalu cepat menilai generasi setelah kami.

Indonesia hari ini berada di jantung bonus demografi. Generasi Z saja jumlahnya hampir 75 juta jiwa. Ditambah Milenial, mereka mendominasi struktur usia produktif. Artinya masa depan negeri ini ada di tangan mereka. Tetapi ironisnya, kita sering berbicara tentang mereka tanpa benar-benar tahu siapa mereka.

Saya sering mendengar kalimat seperti “Anak muda sekarang manja.” Atau, “Generasi sekarang terlalu sensitif.” Kalimat-kalimat itu terdengar akrab. Bahkan mungkin pernah terucap oleh kita semua. Tetapi setiap kali saya kembali ke data dan fakta yang ada, gambaran itu terasa tidak adil.

Dalam riset yang kami lakukan, saya menemukan bahwa anak muda Indonesia hari ini tidaklah satu warna. Mereka tidak homogen. Mereka tidak bisa dipukul rata.
Dari situlah lahir tiga tipologi besar yang saya uraikan dalam buku ini.

Ada yang saya sebut sebagai “Si Paling Eksis”. Mereka aktif, suka tampil, berani berbicara, nyaman memimpin. Di kampus, mereka adalah penggerak organisasi. Di media sosial, mereka membangun jaringan. Mereka ingin terlihat. Bukan semata-mata untuk pamer, tetapi karena mereka ingin punya arti.

Ada pula “Si Digital Banget”. Kelompok ini paling besar. Mereka hidup dalam dunia algoritma. Smartphone adalah kantor, kelas, dan panggung mereka sekaligus. Mereka berpikir tentang karier sejak dini. Mereka belajar sendiri lewat YouTube, membangun portofolio di LinkedIn, berjualan di marketplace, atau membuat konten di TikTok. Mereka tidak menunggu kesempatan datang. Mereka menciptakannya.

Dan ada “Si Santuy Abis”. Mereka sering disalahpahami sebagai tidak ambisius. Padahal mereka hanya mendefinisikan ulang arti sukses. Mereka tidak ingin hidup terburu-buru. Mereka menghargai keseimbangan, kesehatan mental, dan relasi yang hangat. Di tengah dunia yang serba lomba, mereka memilih berjalan lebih perlahan.

Meski demikian, ketiga tipologi ini bukan kategorisasi yang kaku. Banyak anak muda berada di antara dua kecenderungan. Mereka adalah generasi yang sedang mencari bentuk diri mereka sendiri.

Yang sering luput kita lihat adalah tekanan yang mereka hadapi. Mereka hidup dalam dunia yang membuat perbandingan menjadi abadi. Setiap hari mereka melihat orang lain tampak lebih sukses, lebih cantik, lebih kaya, lebih bahagia. Semua terlihat sempurna di layar.

Dalam beberapa survei yang kami lakukan, lebih dari separuh anak muda mengaku cemas memikirkan masa depan. Bukan hanya soal pekerjaan, tetapi soal apakah mereka cukup baik. Cukup pintar. Cukup menarik. Cukup berhasil.

Generasi saya dulu juga menghadapi tekanan. Tetapi tekanannya berbeda. Ia tidak hadir 24 jam di genggaman tangan.

Namun saya tidak melihat generasi ini sebagai generasi yang lemah. Justru saya melihat ketangguhan yang mungkin tidak pernah dimiliki generasi sebelumnya.

Selain sekolah/kuliah meraka juga belajar dari beragam sumber. Mereka membangun usaha kecil-kecilan melaui e-commerce. Mereka bekerja lintas kota tanpa pernah bertemu atasan secara fisik. Mereka berbicara tentang kesehatan mental dengan terbuka. Mereka berani berkata “tidak” pada relasi atau pekerjaan yang merusak diri. Mereka juga berani ”melawan” keadaan yang mereka anggap tidak adil.

Generasi ini tidak hanya mengejar penghasilan. Mereka ingin bekerja di tempat yang nilai-nilainya sejalan dengan hati mereka. Mereka ingin membeli produk yang peduli lingkungan.

Sebagai orang tua dan sebagai bagian dari generasi yang lebih tua, saya melihat kita tidak bisa memimpin mereka dengan pendekatan lama. Otoritas tanpa dialog tidak lagi cukup. Ceramah tanpa empati tidak lagi efektif.

Buku ini saya tulis bukan untuk sekadar memuja anak muda, dan bukan pula untuk mengkritik mereka. Buku ini adalah ajakan untuk melihat mereka lebih utuh.

Bagi pelaku bisnis, memahami tipologi ini berarti memahami pasar masa depan. Loyalitas merek tidak lagi dibangun hanya lewat diskon dan iklan. Jika perusahaan tidak peduli pada isu lingkungan, kesehatan mental karyawan, atau inklusivitas, generasi ini akan pergi.

Bagi pemerintah, bonus demografi tidak otomatis menjadi berkah. Tanpa pendidikan yang relevan dan lapangan kerja yang adaptif, angka besar itu bisa berubah menjadi tekanan sosial.

Bagi orang tua, mungkin yang paling penting adalah anak-anak kita tidak hidup di dunia yang sama dengan dunia kita dulu. Jangan terburu-buru menilai mereka dengan ukuran masa lalu.

Saya menulis buku ini dengan kesadaran bahwa saya sendiri masih terus belajar. Setiap percakapan dengan anak muda membuat saya memperbaiki asumsi saya.
Setiap data baru membuat saya menyadari betapa cepat perubahan terjadi.

Anak muda Indonesia hari ini bukan sekadar angka. Mereka bukan sekadar target pasar atau objek kebijakan. Mereka adalah cermin zaman kita dan penggerak peradaban masa depan.

Karena itu kita juga perlu belajar dari mereka.

Leave a comment

Selamat datang bagi yang suka dengan data dan analisis seputar dunia pemasaran, sosial politik, dan digital

Let’s connect