Sekitar tahun 2006 saya pernah melakukan riset kopi di Indonesia, kala itu belum banyak warung kopi seperti sekarang, gerai kopi dari Amerika, Starbuck, sudah masuk tapi hanya beberapa gerai saja di Jakarta. Saya ingat saat itu coffee shop yang menjual specialty coffee, kopi single origin, di Jakarta salah satunya adala La Tazza, dulu ada di bilangan SCBD, sekarang masih ada di Mall Ambassador, sampai sekarang V60 Aceh Gayo nya masih yang terbaik.
Saat itu para pemain industri kopi “iri” dengan pemain industri teh. Bisa dimaklumi karena memang Indonesia saat itu dikenal sebagai bangsa peminum teh, bukan kopi. Masih ingat salah satu iklan pemain besar teh yang slogannya sangat terkenal, “Apapun makanannya, minumnya Teh Botol Sosro”. Kenapa kita saat itu dikenal sebagai peminum teh masih menjadi perdebatan, ada yang bilang karena kita dimasa lalu punya banyak kesejarahan dengan China dan Jepang, kebetulan dua negara ini juga peminum teh. Ada juga yang bilang karena saat dijajah Belanda, kopi-kopi terbaik kita banyak diangkut ke Eropa.
Namun menariknya dalam 15 tahun terakhir ini terjadi pergeseran yang sangat signifikan terhadap konsumsi kopi dan teh. Keduanya memang sama-sama hadir di meja makan, di warung, di kantor, dan di ruang publik. Namun jalur perkembangan keduanya bergerak ke arah yang berbeda. Data konsumsi menunjukkan bahwa kopi tumbuh agresif, sementara teh cenderung stagnan. Gaya hidup dan perilaku mengkonsumsinya juga ikut berubah.
Kopi yang Berubah Makna
Selama bertahun-tahun, kopi di Indonesia identik dengan fungsi. Ia diminum untuk menahan kantuk, menemani kerja, atau sekadar menjadi rutinitas pagi sebelum berangkat ngantor. Pada awal 2010-an, konsumsi kopi nasional masih relatif rendah. Konsumsi per kapita berada di kisaran 0,8 kilogram per orang per tahun. Kopi tubruk, kopi sachet, dan warung kopi sederhana mendominasi lanskap.
Namun sekitar pertengahan dekade 2010-an, terjadi titik balik. Data dari berbagai sumber internasional seperti International Coffee Organization (ICO) dan asosiasi industri kopi menunjukkan bahwa konsumsi kopi per kapita Indonesia naik menjadi sekitar 1,1 kilogram pada 2015, lalu terus meningkat hingga mendekati 1,5–1,6 kilogram pada 2024–2025. Dalam periode yang sama, total konsumsi kopi nasional melonjak hampir dua kali lipat, dari sekitar 200 ribu ton menjadi lebih dari 350 ribu ton per tahun.

Kenaikan ini tidak bisa dijelaskan semata-mata karena pertumbuhan populasi penduduk Indoensia. Yang berubah bukan hanya jumlah cangkir saja, melainkan makna di baliknya. Kopi keluar dari dapur rumah dan masuk ke ruang publik. Coffee shop tumbuh di mana-mana, dari kota besar hingga kota lapis kedua. Kopi menjadi medium pertemuan, kerja jarak jauh, diskusi, bahkan ekspresi identitas. Bahasa ajakan ”ayo ngopi” berubah makna tidak hanya sekadar ajakan minum kopi, tapi bermakna nongkrong, ketemu teman lama, atau ajakan ngobrolin agak serius soal urusan bisnis.
Bagi generasi muda, Gen Z dan Milenial, perkotaan, secangkir kopi bukan lagi sekadar minuman, melainkan pengalaman. Ada cerita tentang biji kopi, metode seduh, suasana ruang, hingga estetika visual. Kopi menjadi simbol produktivitas, kreativitas, dan gaya hidup urban. Ia bukan hanya diminum, tetapi dipamerkan, dibagikan di media sosial, dan dijadikan bagian dari narasi diri mereka.
Teh Kehilangan Panggung
Berbeda dengan kopi, teh memiliki sejarah yang jauh lebih panjang dan merata di Indonesia. Teh adalah minuman lintas generasi dan lintas kelas status sosial ekonomi. Ia hadir di rumah tangga pedesaan maupun perkotaan, menemani sarapan, makan siang, dan sore hari. Namun justru karena kedekatannya itulah teh jarang diperbarui narasinya.
Data konsumsi menunjukkan bahwa dalam 15 tahun terakhir, konsumsi teh per kapita Indonesia relatif stagnan, bahkan menurun tipis. Dari sekitar 0,6–0,7 kilogram per orang per tahun pada 2010, konsumsi teh kini berada di kisaran 0,5– 0,55 kilogram. Total konsumsi nasional pun turun perlahan dari sekitar 150 ribu ton menjadi sekitar 130 ribu ton per tahun.
Penurunan ini bukan berarti orang Indonesia berhenti minum teh. Teh tetap diminum setiap hari, terutama di rumah. Namun teh semakin jarang menjadi pusat perhatian. Ia menjadi “minuman default”, hadir tanpa disadari, tanpa dirayakan. Berbeda dengan kopi yang terus menemukan format baru seperti kopi susu, RTD, literan, cold brew, teh relatif bertahan pada bentuk lama.
Ada pengecualian, tentu saja. Bubble tea sempat mengangkat konsumsi teh di kalangan anak muda, tetapi lebih sebagai fenomena merek dan tren sesaat, bukan kebangkitan kategori. Teh premium dan teh kesehatan juga tumbuh, tetapi masih terbatas menyasar segmen pasar tertentu.
Urbanisasi, Anak Muda, Kelas Menengah, dan Ruang Konsumsi
Perbedaan nasib kopi dan teh tidak bisa dilepaskan dari perubahan struktural di Indonesia. Dalam 15 tahun terakhir, tingkat urbanisasi meningkat signifikan. Jika pada 2010 sekitar separuh penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan, kini angkanya mendekati 60 persen. Kota menciptakan kebutuhan akan ruang ketiga selain rumah dan kantor dan kopi mengisi ruang itu dengan sangat efektif.
Pertumbuhan kelas menengah juga memainkan peran penting. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir konsumsi rumah tangga cenderung lebih hati-hati, kopi justru diuntungkan oleh kondisi ini. Secangkir kopi menjadi bentuk “reward kecil” yang terjangkau. Di tengah gaya hidup frugal, kopi berfungsi sebagai substitusi hiburan mahal. Ia murah secara relatif, tetapi kaya secara simbolik.
Teh tidak memiliki peran simbolik yang sama. Ia jarang diasosiasikan dengan pencapaian, produktivitas, atau ekspresi diri. Akibatnya, meskipun volumenya stabil, nilainya cenderung datar. Teh pada akhirnya sudah terlanjur hanya menjadi kebiasaan sehingga menjadi kehilangan ”roh” nya.
Generasi muda menjadi kunci dalam membaca perubahan ini. Milenial dan Gen Z tumbuh dalam dunia yang sangat visual, cepat, dan berbasis pengalaman. Mereka mencari sesuatu yang bisa diceritakan, dibagikan, dan dipersonalisasi. Kopi menjawab kebutuhan itu dengan fleksibel. Teh, sejauh ini, belum sepenuhnya berhasil. Survei perilaku konsumsi menunjukkan bahwa generasi muda mengonsumsi kopi dengan frekuensi tinggi, terutama di luar rumah. Teh tetap diminum, tetapi lebih sebagai kebiasaan domestik, bukan bagian dari gaya hidup publik. Inilah paradoks penting, teh sering diminum, tetapi jarang “diingat”.
Perubahan pola konsumsi kopi dan teh ini juga menunjukkan bahwa selera bukan sekadar urusan lidah. Ia adalah cermin perubahan sosial. Dari meja makan ke coffee shop, dari rutinitas ke pengalaman, dari fungsi ke identitas. Masyarakat atau konsumen ketika menggunakan atau mengkonsumsi produk, yang mereka cari bukan hanya functional benefit tapi juga emotional benefit. Dan saat ini kopi lebih unggul dalam urusan emotional benefit dibanding teh.
Segmentasi Konsumen Kopi
Untuk memahami lebih mendalam konsumen peminum kopi kita perlu membedah segmentasi pasarnya. Saya membagi segmen pasar peminum kopi menggunakan dua dimensi besar yaitu makna konsumsi (fungsional – simbolik) dan orientasi gaya hidup (value oriented – experience oriented). Dengan membaca kopi bukan hanya sebagai produk, tetapi sebagai praktik sosial, segmentasi ini membantu memahami mengapa konsumsi kopi tumbuh cepat dan semakin menguat dalam satu dekade terakhir.

Dengan menggunakan dua dimensi tersebut, segmen pasar peminum kopi bisa di kategorikan menjadi 4 segmen, yaitu:
- Habitual Drinkers, peminum kopi yang menjadikan kopi sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari. Kopi diminum pagi hari sebelum berangkat kerja, sore di rumah, atau di warung dekat tempat tinggal. Mereka jarang membicarakan kopi, apalagi memaknainya sebagai gaya hidup. Namun justru segmen inilah yang selama bertahun-tahun menjaga stabilitas konsumsi kopi Indonesia.
- Sweet Lovers, peminum kopi yang tetap berangkat dari orientasi kepraktisan tetapi mulai memberi ruang pada kenikmatan. Kopi dipilih karena rasa yang mudah diterima, manis, dan menyenangkan, sering kali dalam bentuk kopi susu, RTD, atau minuman literan. Banyak di antara mereka sebelumnya bukan peminum kopi, namun masuk ke kategori kopi melalui pintu rasa dan kemudahan.
- Social Drinkers, peminum kopi yang menganggap kopi sebagai medium sosial, untuk bertemu, bekerja, berdiskusi, atau sekadar nongkrong. Nilai simbolik kopi sangat kuat di sini, kopi menjadi bagian dari identitas urban dan gaya hidup. Frekuensi minum tidak selalu paling tinggi, tetapi visibilitasnya besar. Segmen inilah yang membuat coffee shop menjamur dan kopi hadir sebagai bagian dari lanskap kota.
- Coffee Explorers, peminum kopi yang paling eksploratif. Mereka meminum kopi dengan kesadaran penuh terhadap rasa, asal biji, dan metode seduh. Jumlahnya relatif kecil, tetapi pengaruh kulturalnya besar. Dari merekalah lahir bahasa, standar, dan narasi baru tentang kopi.
Kisah kopi dan teh di Indonesia bukan sekadar cerita tentang naik-turunnya angka konsumsi semata, melainkan bagaimana sebuah produk bisa beradaptasi dengan pergeseran gaya hidup konsumennya. Kopi menang bukan karena rasanya semata, tetapi karena ia berhasil menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, memberi ruang bagi pengalaman, identitas, dan ekspresi diri. Teh, sebaliknya, terlalu lama merasa nyaman sebagai kebiasaan, hingga kehilangan narasi dan imajinasi. Dalam masyarakat yang semakin urban, visual, dan sadar makna, produk yang bertahan bukan hanya yang diminum, tetapi yang mampu diceritakan. Kopi telah menemukan caranya. Kita tunggu apakah teh nanti menemukan kembali rohnya dan kembali naik ke panggung gaya hidup Indonesia.


Leave a comment