Berapa banyak keputusan yang kita ambil hari ini yang sebenarnya dipandu oleh data? Ketika kita memesan ojek online, memilih rute tercepat, menonton film yang direkomendasikan Netflix, membaca berita di linimasa yang dikurasi, musik yang kita dengar di Spotify, hingga lokasi restoran favorit temapat kita makan, semuanya bergerak didasarkan pada algoritma yang bahan bakarnya adalah data, dan data itu diproses dalam sebuah ekosistem data.

Istilah ekosistem bukan sekadar gaya bahasa. Ia menekankan bahwa data bukan benda yang berdiri sendiri, melainkan jaringan yang saling bergantung, ada sumber yang memasok, ada teknologi yang mengoperasikan, ada regulasi yang mengatur, ada kompetensi manusia yang mengolah, ada produk dan kebijakan yang memanfaatkan, dan ada masyarakat yang menjadi subjek sekaligus pengguna.
Untuk membahas sebuah ekosistem data, kita mulai dari hulu yaitu sumber data. Kita memiliki ragam sumber data yang luar biasa kaya, data administrasi kependudukan, kesehatan, pendidikan, keuangan, mobilitas, data sensor dari telematika dan perangkat IoT, data transaksi di platform digital, hingga data survei yang selama ini menjadi tulang punggung riset pasar dan riset sosial. Namun sumber yang banyak bukan jaminan menjadi keputusan yang baik. George Box, ahli statistik yang terkenal lugas, mengingatkan, all models are wrong, but some are useful. Kalimat sederhana ini menyentil dua hal sekaligus, kenyataan bahwa data bukan realitas itu sendiri dan tugas kita adalah membuatnya berguna, relevan, tepat waktu, dan berujung pada tindakan yang tepat untuk pengambilan keputusan.
Dari hulu kita masuk ke “pipa”, proses yang membawa data dari sumber menuju pemakai. Di sinilah peran Data Engineering, arsitektur cloud, integrasi API, kualitas data yang terdiri dari completeness, accuracy, timeliness, consistency, serta tata kelola (governance) memainkan peran. Pipa yang bocor, entah karena standar berbeda antar lembaga, karena penamaan variabel tidak seragam, atau karena hak akses semrawut akan menghasilkan “air keruh” yang sulit diminum. W. Edwards Deming, pernah menyindir, In God we trust; all others must bring data. Dalam praktiknya, “membawa” data berarti memastikan jejaknya dapat diaudit , keamanannya dijaga dan hak penggunanya dihormati.
Banyak orang masih mengira data berbicara sendiri. Sayangnya, data tidaklah berbicara, kitalah yang menafsirkannya. Dan di sinilah peran data science, statistik, dan analitik bekerja. John Tukey, pelopor eksplorasi data modern, pernah berkata bahwa nilai terbesar dari sebuah grafik adalah kemampuannya memaksa kita melihat hal yang tidak kita duga sebelumnya. Namun Tukey juga mengingatkan, lebih baik jawaban yang kira-kira benar untuk pertanyaan yang tepat, ketimbang jawaban yang sangat presisi untuk pertanyaan yang salah.
Di hilir, data harus bermakna dan bisa digunakan untuk membuat kebijakan, strategi produk dan layanan, kampanye, atau intervensi sosial. Kutipan Clive Humby yang sangat terkenal data is the new oil bisa menjadi kenyataan jika data sebagaimana minyak mentah, data perlu “dimurnikan” sebelum memberi nilai; dan seperti minyak, eksploitasi tanpa etika melahirkan polusi. Karena itu, ekosistem data yang sehat menempatkan etika dan kepercayaan sebagai prinsip yang utama.
Lalu bagaimana menjadikan sebuah ekosistem data yang sehat dan terpercaya? Pertama, tata kelola lintas sektor. Sistem informasi publik kita tumbuh cepat, tetapi tidak selalu tumbuh bersama. Standardisasi metadata, kamus data nasional, dan mekanisme pertukaran yang aman akan memangkas biaya integrasi dan mencegah “pendataan ulang” yang melelahkan.
Kedua, kualitas data. Banyak kebijakan canggih tidak berjalan sebagaimana mestinya karena data dasar (misalnya alamat, status pekerjaan, atau tingkat pendapatan) tidak mutakhir. Pembaharuan sekaligus audit data secara berkala adalah sebuah keharusan. Ketiga, kapasitas sumber daya manusia. Tanpa kemampuan data analitik yang memadai di birokrasi atau perusahaan, investasi infrastruktur hanya menjadi “mesin menganggur.” Kemampuan data analitik bukan sekadar coding semata, tapi juga kemampuan untuk bertanya dengan tepat, membaca grafik, memahami ketidakpastian, dan mengenali bias data.
Keempat, tata etika dan perlindungan. Privasi data sebenarnya tidak terkait langsung dengan teknis proses pengolahan data, tapi ia menjadi sangat penting karena menyangkut hal yang sangat prinsipil yaitu soal kepercayaan. Program yang mengumpulkan data besar harus lolos uji etika, apakah cakupan datanya proporsional sesuai dengan tujuan? Apakah ada dewan etik independen yang mengawasi?.
Pada prakteknya, ekosistem data yang tangguh lahir dari kolaborasi empat pihak, pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil. Pemerintah memegang mandat data administrasi dan kerangka regulasi. Dunia usaha memegang kumpulan data perilaku dan kemampuan eksekusi cepat. Kampus memasok metode ilmiah dan talenta. Masyarakat sipil menjaga agar etika, inklusi, dan akuntabilitas tidak tersisih oleh euforia teknologi.
Di dunia bisnis, logika serupa berlaku. Banyak perusahaan terjebak di dua kutub ekstrem, menimbun data tanpa rencana atau membeli alat teknologi canggih tanpa penggunaan yang jelas. Praktik yang lebih sehat adalah market oriented, mulai dari masalah pelanggan yang spesifik, tetapkan metrik sukses, baru desain alur data dari hulu ke hilir.
Tentu, dalam sebuah ekositem pasti pernah terjadi konflik. Kepentingan bisnis kadang bertabrakan dengan perlindungan privasi, dorongan inovasi bertemu dengan prinsip kehati-hatian regulasi, kemudahan akses mengundang risiko kebocoran. Justru di sinilah pentingnya trust by design, keputusan yang sulit harus dilandasi prinsip yang jelas, mekanisme keberatan yang efektif, dan audit yang independen.
Data bukan ramuan ajaib yang menyelesaikan semua persoalan, tetapi tanpa data, kita berjalan dalam kabut. Di satu sisi, kita pegang nasihat Box, model tak pernah sempurna, jadi jangan terpesona oleh angka yang tampak rapi. Dengan ekosistem data yang sehat, sumber yang inklusif, pipa yang rapi, tata kelola yang kokoh, teknologi yang tepat guna, dan talenta yang kompeten, kita bisa mengambil keputusan yang lebih cepat dan tepat.


Leave a comment