Indomie, Cinta Lama yang Tak Pernah Redup

Saya masih ingat betul, sekitar tahun 2001-2003, saat itu saya masih yunior researcher di MarkPlus. Secara reguler Indofood Sukses Makmur melakukan survei tahunan untuk produk Mie Instan. Kami turun survei ke beberapa kota, saya lupa persisnya, antara 9 atau 12 kota besar di Indonesia. Ribuan responden. Tanya beberapa pertanyaan, salah satunya pertanyaan: “merek Mi instan apa anda ingat?”

Jawabannya nyaris seragam: Indomie.
Dan itu terjadi sampai sekarang.

Tidak mengejutkan. Tapi tetap saja mencengaangkan ditengah persaingan yang semakin ketat. Indomie sudah bukan lagi sekadar produk. Ia semacam kebiasaan. Bahkan lebih: kebudayaan. Ia bukan hanya merek, ia adalah rasa. Rasa yang melekat dalam ingatan — dan perut — banyak orang.

Saya, salah satunya. Sampai sekarang.

Dari berkali-kali survei itu pula kemudian Indomie mengeluarkan varian Selera Nusantara. Ada Coto Makassar, Rendang Padang, Soto Banjar, hingga Soto Lamongan. Mereka percaya  bahwa mi, yang katanya instan itu, bisa menyentuh ruang paling dalam: identitas rasa.

Tahun berganti. Selera berubah. Tapi Indomie tetap ada. Tetap relevan. Bahkan makin menjadi-jadi.

Saya perhatikan, meski brand-brand baru bermunculan baik dari dalam maupun luar negeri terutama dari Korea dan Jepang dengan kemasan yang lebih trendi, atau janji rasa yang lebih kompleks. Tapi ketika badan meriang, atau hujan turun deras, tangan saya tetap mencari yang satu itu: Indomie, kadang goreng, kadang kuah. Kadang dua bungkus sekaligus ditambah telur rebus. Maknyus tiada tara..

Data dari World Instant Noodles Association menyebut: Indonesia adalah konsumen mi instan terbesar kedua dunia. Setelah Tiongkok. Lebih dari 14,5 miliar porsi per tahun. Dan siapa yang paling dominan? Sudah tahu jawabannya. Pangsa pasar Indomie di Indonesia dikisaran 70 – 75%.

Indomie, diam-diam, menyatukan generasi. Dari mahasiswa di kos-kosan, pekerja shift malam, sampai anak-anak sekolah yang pulang sore. Dari Gen X, milenial, sampai Gen Z. Semua kenal. Semua punya cara masing-masing menyajikannya. Ditambah keju? Sayur kornet, diseduh setengah matang? Semua sah.

Tapi cerita Indomie tidak berhenti di sini. Justru mulai berpetualang jauh. Ke Afrika. Tepatnya: Nigeria.

Di sana, Indomie bukan brand asing. Ia adalah bagian dari dapur, bahkan dikira produk asli Nigeria. Beberapa waktu lalu Pilpres disana kandidatnya bagi-bagi Indomie. Di sana, anak-anak menyebut semua mi instan dengan satu kata: Indomie. Seperti kita menyebut semua air mineral dengan Aqua. Luar biasa.

Di Nigeria, Indomie membangun pabrik sendiri. Dufil Prima Foods namanya. Mereka tidak hanya mengirim produk dari Indonesia. Mereka membangun ekosistemnya. Dari distribusi, logistik, sampai adaptasi rasa. Chicken Pepper Soup, Onion Chicken — rasa yang tidak kita kenal, tapi akrab di sana.

Itulah kekuatan Indomie. Ia tidak ngotot memaksakan produknya. Ia menyerap. Ia menyesuaikan. Tapi tetap membawa ruhnya.

Dan sekarang, di era TikTok, Indomie berubah lagi. Jadi tren. Jadi bahan meme. Jadi tantangan: siapa yang bisa bikin racikan Indomie paling unik? Anak-anak muda membuat Indomie sebagai pengalaman estetik. Video slow-motion telur jatuh ke kuah. Bubuk bumbu dituangkan dengan irama. Indomie bukan hanya dimakan. Ia dipertontonkan.

Saya jadi berpikir, Indomie ini masuk ke semua tipologi anak muda yang sering saya bahas.

Yang Si Paling Eksis? Mereka bikin konten Indomie. Dengan lighting dan musik latar. Yang Si Digital Banget? Mereka pakai Indomie sebagai solusi cepat. 3 menit, makan, kerja lagi. Yang Si Santuy Abis? Jelas. Indomie adalah peluk hangat di malam sunyi.

Karena itu, saya tak heran kalau pangsa pasarnya tak tergoyahkan. Bukan karena tak ada pesaing. Tapi karena tidak ada yang benar-benar bisa menggantikan rasa sudah menyatu dalam keseharian kita.

Saya menulis ini di malam hari. Ditemani hujan kecil. Dan di dapur, sudah saya siapkan satu panci kecil. Air mulai mendidih. Sebungkus Indomie Goreng sudah menunggu. Karena tidak semua cinta harus rumit. Ada yang cukup diseduh — dan dinikmati perlahan.

Leave a comment

Selamat datang bagi yang suka dengan data dan analisis seputar dunia pemasaran, sosial politik, dan digital

Let’s connect