Beberapa tahun belakangan, kita mulai akrab dengan pemandangan mal-mal yang lengang di berbagai kota besar di Indonesia. Tidak sedikit yang kaget saat mengunjungi pusat perbelanjaan yang dulu ramai, kini hanya dihuni oleh beberapa tenant, atau bahkan tampak nyaris kosong. Plaza Atrium di Jakarta Pusat, sebagian area ITC Permata Hijau, hingga beberapa pusat perbelanjaan di kota-kota besar seperti di Surabaya, Semarang, Bandung, hingga kota-kota diseputar Jakarta kini menghadapi nasib serupa: sepi pengunjung, banyak kios tutup, dan atmosfer yang tidak lagi hidup seperti dulu.
Menurut laporan Cushman & Wakefield Q1 2025, tingkat keterisian mal di Jakarta turun menjadi 77,1 %, turun sekitar 2,6 persen secara year-on-year. Apakah ini berarti industri mal di Indonesia tengah menuju masa senja? Ataukah ini justru sinyal bahwa dunia ritel tengah mengalami fase transformasi besar-besaran?
Perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi sepinya mal. Dalam lima tahun terakhir, e-commerce telah meroket secara signifikan. Berdasarkan data dari Google, Temasek, dan Bain & Company dalam laporan e-Conomy SEA 2023, nilai ekonomi digital Indonesia mencapai USD 82 miliar, dan diperkirakan akan tembus USD 109 miliar pada 2025. Dari jumlah tersebut, e-commerce menyumbang porsi terbesar. Masyarakat kini lebih nyaman berbelanja lewat gawai, tanpa harus menghadapi kemacetan, antrean parkir, dan biaya transportasi tambahan. Promo eksklusif, cashback, serta kemudahan pengembalian barang membuat belanja online menjadi pilihan yang semakin logis.
Namun, bukan hanya soal belanja. Fungsi sosial mal juga mulai bergeser. Jika dulu mal menjadi destinasi hiburan utama—bioskop, tempat nongkrong, hingga pusat makan keluarga—kini peran tersebut mulai digantikan oleh platform digital. Gen Z, Milenial, dan sekarang Gen X lebih sering mencari hiburan lewat media sosial, game online, atau sekadar nongkrong di kafe independen yang menawarkan pengalaman unik dan instagrammable.
Bukan hanya mal kelas menengah ke bawah yang terdampak. Bahkan pusat perbelanjaan kelas menengah atas pun mulai merasakan tekanan. Banyak tenant fashion dan elektronik memilih untuk mengurangi toko fisik mereka, dan lebih fokus ke kanal online. Biaya sewa yang tinggi dan biaya operasional yang terus meningkat membuat efisiensi menjadi kunci.
Indonesia mengalami ledakan pembangunan pusat perbelanjaan pada era 2000-an hingga pertengahan 2010-an. Di Jakarta saja, menurut data dari Colliers International Indonesia, terdapat lebih dari 180 pusat perbelanjaan aktif hingga 2023. Namun, dengan pertumbuhan e-commerce dan pergeseran gaya hidup, banyak dari pusat perbelanjaan ini akhirnya mengalami over-supply. Lokasi yang tidak strategis, konsep yang tidak relevan dengan generasi baru, serta kurangnya inovasi membuat mal-mal ini tertinggal.
Sebagian pihak menyebut ini sebagai bagian dari “retail apocalypse” versi Indonesia. Namun, alih-alih kiamat, mungkin ini lebih tepat disebut sebagai seleksi alam. Mal yang tidak mampu beradaptasi akan kalah, sementara yang mampu membaca tren justru tumbuh subur. Contohnya Grand Indonesia, PIK Avenue, dan Summarecon Mall Serpong. Ketiganya tetap ramai karena mampu bertransformasi: mereka tidak hanya menjual barang, tapi pengalaman. Dari food festival, event komunitas, instalasi seni, hingga spot-spot estetis yang ramah media sosial, mereka menjadikan mal sebagai tempat berkumpul dan berekspresi.
Bahkan beberapa mal mulai beralih fungsi. Di beberapa kota, mal yang dulunya sepi kini disulap menjadi coworking space, pusat logistik, bahkan studio konten kreator. Ini menunjukkan bahwa meski fungsi tradisionalnya melemah, potensi ruang dan infrastruktur mal tetap besar jika dikelola dengan cermat.
Konsumen Indonesia bukan tidak ingin ke mal—mereka hanya menginginkan sesuatu yang berbeda. Generasi milenial dan Gen Z, misalnya, lebih menyukai mal yang menyajikan pengalaman interaktif, tenant lokal yang unik, serta nuansa yang selaras dengan gaya hidup mereka. Data dari NielsenIQ pada 2024 juga menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen konsumen muda masih ingin datang ke mal jika ada event atau pengalaman baru yang tidak bisa mereka temui secara online.
Hasil survei Alvara Research Center pada 2023 turut menguatkan perubahan pola belanja generasi muda. Dalam laporan bertajuk “Gen Z: Millennial 2.0?”, Alvara mencatat bahwa generasi muda di Indonesia tidak hanya sangat akrab dengan teknologi, tetapi juga menjadikan internet sebagai bagian integral dari gaya hidup mereka. Penggunaan internet tidak lagi terbatas pada hiburan atau komunikasi, tetapi juga sebagai media berbelanja, menilai reputasi merek, hingga membentuk identitas personal. Fenomena ini berimplikasi langsung pada eksistensi mal sebagai ruang belanja. Ketika fungsi transaksional bisa dipenuhi secara daring, maka fungsi mal harus bertransformasi menjadi ruang sosial, ruang kreatif, dan ruang kolaboratif.
Fenomena ini bukan unik milik Indonesia. Amerika Serikat mengalami gelombang penutupan mal sejak 2010-an, yang dikenal sebagai “retail apocalypse”. Ribuan mal tutup karena meningkatnya dominasi e-commerce seperti Amazon, dan berubahnya perilaku konsumen yang lebih menghargai kecepatan dan efisiensi. Beberapa mal kemudian dikonversi menjadi gudang logistik, pusat kesehatan, bahkan kampus dan perumahan vertikal.
Di Tiongkok, mal-mal urban seperti di Shanghai atau Shenzhen bertahan hidup dengan menghadirkan pengalaman unik—pameran seni, zona interaktif, dan teknologi belanja hybrid yang menggabungkan fisik dan digital. Sementara di Korea Selatan, mal seperti COEX dan Starfield menjadi ruang pop culture yang menggabungkan K-pop, perpustakaan estetik, hingga food court artisanal. Ketiga negara ini menunjukkan bahwa kematian mal secara struktural bisa dihindari bila mal berani berubah.
Penting bagi pengelola mal untuk mulai berpikir ulang. Menghadirkan kembali mal sebagai pusat komunitas, tempat bertemunya seni, budaya, teknologi, dan gaya hidup modern bisa menjadi solusi. Kolaborasi dengan brand lokal, pop-up store, digital payment system, hingga menyatukan mal fisik dengan platform online adalah beberapa langkah yang bisa ditempuh.
Dengan demikian, mal tidak perlu dipaksakan untuk tetap hidup sebagai ruang ritel tradisional. Ia bisa menjadi kampus, studio kreator, gudang, atau pusat komunitas. Dunia ritel tengah bergerak menuju fase baru. Masa depan mal di Indonesia tidak akan ditentukan oleh besar kecilnya gedung, tapi oleh relevansi dan keberanian beradaptasi.



Leave a comment