Siapa sangka, band-band yang dulu sempat “menghilang” karena zaman berganti, kini kembali naik panggung. Bukan sekadar reuni biasa. Mereka kembali dengan gebrakan, dengan panggung penuh sesak, dan—yang membuat saya kaget—dengan penonton lintas generasi.
Saya melihat sendiri.
Tiga bulan lalu saya diajak anak saya nonton konser band 90an, dan itu bukan kali pertama. Bukan dia yang saya ajak, malah dia yang ngajak. Sebuah Sekolah di Jaksel mengadakan acara Pentas Seni di Istora Senayan, saya kaget band pengisinya Padi, ada juga Ari Lasso, dan BCL. Waktu band itu berjaya, dia bahkan belum lahir. Tapi ternyata, Spotify bisa menembus batas waktu. YouTube memutar ulang sejarah. Dan algoritma TikTok ternyata bisa lebih hebat dari radio.
Maka malam itu saya duduk di antara ribuan penonton. Banyak anak muda di sana. Bukan anak muda gaya tahun 90-an. Mereka ini Gen Z, yang katanya susah lepas dari gawai. Tapi malam itu, mereka ikut melompat, ikut berteriak, ikut bernyanyi. Mereka dengan lantang hapal semua lagu-lagu yang dibawakan.
Era 90an itu…
…adalah masa di mana musik masih terasa manusiawi. Gitar digenjreng betulan. Di kampus dulu seorang yang pandai main gitar akan menjadi bintang diantara teman-teman nongkrongnya. Drum ditabuh dengan tenaga, bukan program. Vokal kadang sumbang, tapi justru itu yang membekas. Ada roh dalam setiap lagu.
Dulu, nama seperti Dewa 19, Sheila on 7, Padi, Gigi, Slank, bahkan Element, menjadi bagian dari kehidupan remaja. Mereka bukan sekadar idola. Mereka itu sahabat batin. Lagu mereka menemani patah hati pertama, mimpi yang belum kesampaian, atau cinta yang hanya sampai di bangku SMA atau kuliah.
Disetiap forum seminar ketika membahas perbedaan antar generasi, saya selalu mengambil contoh kalau lirik lagu era 90an kebanyakan metaforis dan cenderung puitis, beda dengan musik hari ini yang cenderung dengan bahasa lugas. Tapi kenyataannya ternyata generasi sekarang juga suka lagu-lagu 90an.
Anak-anak generasi sekarang justru membuka kembali lembaran lama musik kita. Lagu-lagu lama didaur ulang, di-remix, atau cukup diputar ulang di sosial media. Lalu viral. Lalu meledak.
“Cinta Kan Membawamu Kembali” milik Dewa 19, dinyanyikan ulang di TikTok oleh ratusan anak muda. Tapi bukan dengan versi band. Melainkan versi akustik, kadang hanya gitar dan vokal serak-serak. Lagu itu—yang dulu jadi penutup acara televisi—kini jadi backsound anak-anak galau zaman sekarang.
Lalu muncul konser-konser reuni.
Konser Dewa 19 di berbagai kota penuh sesak. Ari Lasso, mantan vokalisnya, ikut kembali naik panggung. Kadang satu panggung berdua dengan Virsha atau Ello. Kadang bergantian. Tapi yang pasti: semua lirik dinyanyikan ribuan orang. Dari awal sampai akhir.
Saya pernah iseng menghitung: dalam satu konser Dewa 19, setidaknya ada tiga generasi di situ. Ada generasi 90-an (seperti saya), generasi milenial, dan generasi Z. Semuanya nyanyi bareng.
Aneh? Tidak juga. Karena ternyata, musik itu seperti kopi. Makin lama, makin nikmat.
Musik adalah kenangan yang bisa diwariskan.
Dan sekarang, itu sedang terjadi.
Anak-anak muda mendengarkan lagu lama bukan karena dipaksa. Tapi karena merasa cocok. Lirik-liriknya jujur. Nadanya sederhana, tapi membekas. Tidak seperti sebagian musik sekarang yang penuh gimmick. Penuh efek. Kadang, lebih banyak penampilan daripada isi.
Saya tanya ke anak saya: “Kenapa kamu suka lagu lama?”
Dia jawab singkat: “Asik aja, karena lagunya ngerti aku.”
Saya tertawa. Tapi juga merenung.
Bukan hanya di Indonesia.
Fenomena band 90an bangkit kembali juga terjadi di luar negeri. Nama-nama seperti Backstreet Boys, Westlife, Green Day, hingga Oasis ramai dibicarakan lagi. Tiket konser mereka terjual habis dalam hitungan menit.
Saat menulis ini saya sedang menonton YouTube konser reuni Oasis di Cardiff, Inggris, yang dipadati penonton dari bermacam-macam generasi, crowdnya luar biasa. Maklum konser terakhir Oasis tahun 2009. Mereka akan menjalani sejumlah konser di Inggris dan Irlandia hingga Agustus 2025
Tiket konser Coldplay di Jakarta tahun 2023 ludes dalam 30 menit. Tapi itu Coldplay, band yang masih aktif. Lebih mengejutkan adalah ketika konser Metallica di kota-kota Amerika Serikat juga penuh, mayoritas yang nonton Gen Z dan Milenial.
Bagi saya yang Gen X, konser band 90an bukan sekadar acara musik. Tapi ziarah emosional. Menziarahi masa muda. Menyentuh kembali bagian dari hidup yang pernah indah.
Ada energi yang tak bisa dijelaskan.
Seperti ketika Ariel menyanyikan lagu “Kukatakan Dengan Indah” dan penonton ikut menyahut: “Kau hancurkan aku…”
Atau ketika Sheila on 7 membawakan “Sephia”, dan semua orang tersihir. Waktu seperti berhenti.
Mungkin karena di masa mudanya, lagu-lagu itu pernah jadi soundtrack patah hatinya atau juga mengenang kala gairah jatuh cinta sedang tinggi-tingginya.
Yang menarik, para musisi 90an itu tidak mencoba menjadi anak muda.
Mereka tetap tampil apa adanya. Dengan tubuh yang mungkin tidak segesit dulu, kerut wajah yang terlihat menua, dengan suara yang tidak se-powerful masa muda. Tapi itu justru yang membuat mereka dicintai. Mereka tampil jujur.
Itu yang susah dicari sekarang.
Ternyata, zaman boleh berganti. Tapi kejujuran tetap relevan.
Saya jadi teringat satu kalimat lama:
“Musik yang jujur akan bertahan lebih lama daripada tren yang hanya sebentar.”
Maka wajar kalau kini band 90an kembali naik panggung. Mereka bukan nostalgia semata. Mereka adalah pembawa pesan lama yang tetap cocok untuk zaman baru.
Mereka tidak sedang menyaingi musisi muda. Mereka justru jadi jembatan—antara masa lalu yang manusiawi dan masa kini yang serba digital.
Dan anehnya, justru itulah kekuatan mereka.
Apakah trend ini akan berhenti? Saya rasa tidak, akan lebih banyak lagi konser reuni. Mungkin, bukan hanya band besar. Tapi juga band kecil yang dulu sempat punya satu lagu hits, lalu tenggelam. Sekarang, mereka punya peluang kedua.
Dan kita, para pendengarnya, punya alasan untuk menghidupkan kembali playlist lama.
Mungkin sambil membuka kembali album foto masa SMA. Atau sambil menyeduh kopi, lalu tersenyum sendiri mengingat nama yang dulu sering kita sebut dalam doa.
90an bukan sekadar tahun. Tapi perasaan.
Dan ketika perasaan itu bangkit kembali, kita akan terus mencari suara yang dulu menemani. Dalam bentuk konser, playlist, atau hanya nyanyian kecil di kamar mandi.
Maka jika hari ini Anda mendengar anak muda menyanyikan lagu “Kangen” Dewa 19 dengan penuh perasaan, jangan heran. Jangan bilang itu lagu lama.
Karena bisa jadi, lagu itu justru lebih mengerti zaman ini—daripada banyak lagu baru.
Dan saya pikir, itu bukan kebetulan. Itu pertanda. Bahwa yang tulus akan selalu kembali. Bahkan jika ia sempat menghilang selama puluhan tahun.
Seperti cinta pertama yang tak pernah benar-benar hilang.
Begitu juga musik 90an.
Ia hanya menunggu saat yang tepat—untuk kembali menggetarkan.
Dan saat itu, adalah sekarang.



Leave a comment