Kontestasi pemilihan presiden 2024 sejauh ini hanya menyisakan 3 kandidat yang akan bertarung yakni Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan. Menarik untuk dikaji persaingan ketiga kandidat ini dalam kacamata marketing politik.

Dalam marketing ada satu kata yang sangat penting untuk dipakai sebagai alat analisa yaitu poisitioning. Dalam dunia korporasi, menurut Kotler dan Keller positioning adalah aktivitas perusahaan dalam membuat citra agar mendapatkan kesan khusus di benak konsumen.

Bagaimana positioning dalam marketing politik? Menurut Firmansyah, Positioning adalah semua aktifitas untuk menanamkan kesan dibenak pemilih.

Begitu pentingnya positioning hingga ada semacam pepatah menyatakan bahwa pemilih sejatinya bukan memilih kandidat tapi sebetulnya memilih citra dari seorang kandidat tersebut.

Untuk memudahkan analisa positiong ketiga kandidat capres 2024 saya akan menggunakan 3 dimensi, yakni karakter, kebijakan, dan adicita/ideologi. Ketiga dimensi citra ini dipilih karena dari berbagai survei 3 dimensi inilah yang menjadi preferensi utama pemilih dalam memutuskan memilih seorang kandidat.

Pertama soal karakter, dalam berbagai survei selalu memunculkan dua citra karakter kepemimpinan yang sering muncul yaitu pemimpin yang kuat/tegas dan pemimpin yang dekat rakyat.

Kedua, soal kebijakan, narasi terkait kebijakan pemerintah paska Presiden Joko Widodo seringkali bermuara pada dua arus besar kebijakan yaitu melanjutkan atau mengubah kebijakan Presiden Joko Widodo.

Ketiga, soal adicita/ideologi, kontestasi wacana ideologi dalam setiap pemilu seringkali berkutat pada ideologi nasionalis dan islamis, dua simplifikasi ini kemudian oleh publik sering disematkan kepada kandidat tertentu.

Mari kita analisis positioning ketiga kandidat menggunakan 3 dimensi ini.

Ganjar Pranowo oleh publik dicitrakan sangat kuat sebagai capres yang dekat dengan rakyat, melanjutkan kebijakan Presiden Joko Widodo, dan berideologi nasionalis

Prabowo Subianto oleh publik dicitrakan sangat kuat sebagai pemimpin yang kuat/tegas, meski tidak sekuat Ganjar Pranowo, Prabowo juga dicitrakan akan melanjutkan kebijakan Presiden Joko Widodo, dan berideologi nasionalis

Anies Baswedan oleh Publik dicitrakan sangat kuat sebagai capres yang akan melakukan perubahan kebijakan Presiden Joko Widodo, dan berideologi islamis. Dari sisi kerakter kepemimpinan Anies Baswedan tidak memiliki citra baik capres yang tegas maupun capres yang dekat dengan rakyat.

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di lihat digambar.

Berkaca dari mapping positioning kandidat tersebut sejatinya pemilih sudah memiliki persepsi tersendiri pada masing-masing kandidat.

Positioning kandidat yang paling baik adalah positioning yang memiliki distingsi yang paling kuat, disini kita bisa melihat Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan terlihat memiliki distingsi yang paling kontras, terutama terkait ideologi dan kebijakan. Disisi lali Prabowo Subianto tidak memiliki distingsi yang cukup kuat baik dengan Ganjar Pranowo maupun Anies Baswedan.

Posisi Prabowo Subianto semacam ini sebetulnya tidak menguntungkan ketika pemilihan berlangsung satu putaran tapi menguntungkan bila pemilihan berlangsung dua putaran.

Maka masing-masing kandidat perlu menyiapkan strategi marketing politik yang berbeda untuk pemilu putaran pertama dan putaran kedua, kalau itu terjadi.

Selain itu mapping positioning kandidat capres tersebut juga menunjukkan posisi cawapres menjadi determinan yang sangat penting untuk mengisi kekosongan citra yang tidak dimiliki salah satu kandidat capres.

Leave a comment

Selamat datang bagi yang suka dengan data dan analisis seputar dunia pemasaran, sosial politik, dan digital

Let’s connect