-
Continue reading →: “Si Eksis, Si Digital, Si Santuy: Potret Karakter Anak Muda IndonesiaSetiap generasi selalu punya cara unik mengekspresikan diri, berinteraksi, dan menghadapi tantangan zamannya. Namun, derasnya perubahan sosial, tuntutan ekonomi, dan perkembangan teknologi dalam satu dekade terakhir telah membawa perubahan pada peta karakter anak muda Indonesia yang jauh lebih beragam dibandingkan masa-masa sebelumnya. Survei nasional yang dilakukan Alvara Research Center pada…
-
Continue reading →: Senja Kala Mal: How Far Can You Go?Beberapa tahun belakangan, kita mulai akrab dengan pemandangan mal-mal yang lengang di berbagai kota besar di Indonesia. Tidak sedikit yang kaget saat mengunjungi pusat perbelanjaan yang dulu ramai, kini hanya dihuni oleh beberapa tenant, atau bahkan tampak nyaris kosong. Plaza Atrium di Jakarta Pusat, sebagian area ITC Permata Hijau, hingga…
-
Continue reading →: 90an Kembali Menggelegar: Lagu Lama, Nafas BaruSiapa sangka, band-band yang dulu sempat “menghilang” karena zaman berganti, kini kembali naik panggung. Bukan sekadar reuni biasa. Mereka kembali dengan gebrakan, dengan panggung penuh sesak, dan—yang membuat saya kaget—dengan penonton lintas generasi. Saya melihat sendiri. Tiga bulan lalu saya diajak anak saya nonton konser band 90an, dan itu bukan…
-
Continue reading →: Ekonomi Keringat: Bisnis Menggiurkan dari Tubuh yang BergerakBelakangan ini, terutama paska pandemi Covid-19, saya semakin sering melihat orang berlari pagi atau bersepeda. Tidak hanya di taman kota, tapi juga di pinggiran jalan. Car Free Day dimanapun selalu ramai. Mampirlah ke Kampus UI Depok hari Sabtu-Minggu, penuh orang olahraga. Sepeda lipat dan juga roadbike lalu lalang. Orang-orang duduk…
-
Continue reading →: Ketika Gen Z Terpikat Gaya Hidup 90-anDi tengah gemerlap dunia digital dan derasnya arus informasi, generasi muda masa kini, Gen Z, mereka yang berusia 18 – 27 tahun, justru menemukan daya tarik pada masa lalu. Tepatnya, era 1990-an. Meskipun sebagian besar dari mereka belum lahir atau masih balita saat era itu berlangsung, gaya hidup dan estetika…
-
Continue reading →: Jangan Pernah Jadi Komoditas!Saat Lebaran kemaren saya sempat ngobrol dengan seorang pemilik kedai kopi di Jawa Timur. Produknya enak, kualitasnya bagus. Tapi dia mengeluh, kedai kopinya dari waktu ke waktu semakin sepi, padahal dulu warkopnya selalu menjadi ”jujugan” banyak pecinta kopi, “Kenapa ya, mas, kopi saya susah bersaing? Orang malah mulai beralih beli…
-
Continue reading →: Membaca Ulang Kelas Menengah Bawah: Potensi Konsumen yang Sering DisalahpahamiSelama bertahun-tahun, narasi pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu menempatkan kelas menengah sebagai lokomotif pembangunan. Mereka diagungkan sebagai pendorong dan penyangga utama ekonomi. Namun, bila kita telaah lebih dalam, apa yang sering disebut sebagai kelas menengah di Indonesia sejatinya adalah kelompok masyarakat yang hidup di ambang batas rentan. Mereka bukan miskin, tapi…







