Hari rabu di minggu terakhir bulan Ramadlan ini saya di undang sahabat-sahabat PMII ITS di acara Future Talk yang mengambil tema tentang Penggunaan AI dalam Perpespektif Islam. Mengingat temanya yang begitu luas, saya akhirnya harus menengok jauh ke belakang, melihat awal mula benih pemikiran matematis yang berpengaruh hingga kini.
Harus diakui perbincangan tentang AI lebih banyak didominasi isu terkait disrupsi misal soal pekerjaan yang hilang, profesi yang tergantikan, hingga kecemasan tentang masa depan manusia di tengah dominasi mesin. Padahal lebih dari 1000 tahun lalu embrio AI sudah mulai tercipta.
AI bukanlah fenomena yang muncul secara tiba-tiba. Ia adalah hasil dari evolusi panjang cara manusia berpikir, khususnya dalam menyusun logika, memodelkan realitas, dan menyelesaikan persoalan secara sistematis. Dalam konteks ini, nama Al-Khwarizmi menjadi sosok yang sangat penting. Bukan sekadar sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai titik awal dari apa yang hari ini kita kenal sebagai cara berpikir algoritmik, fondasi utama dari seluruh sistem AI modern.
Abu Ja’far Muhammad ibn Musa Al-Khwarizmi hidup pada abad ke-9 di era keemasan peradaban Islam, khususnya di Baghdad, pusat intelektual dunia saat itu. Ia bekerja di Bayt al-Hikmah (House of Wisdom), sebuah institusi yang tidak hanya menerjemahkan teks Yunani, tetapi juga melahirkan pengetahuan baru.
Kontribusi terbesarnya adalah dalam bidang matematika, terutama melalui karya Al-Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabala. Kita mengenalnya sebagai al-jabr (algebra). Namun yang lebih relevan dengan dunia modern adalah metode sistematis yang ia gunakan untuk menyelesaikan persoalan matematika, sebuah pendekatan langkah demi langkah yang kelak dikenal sebagai algoritma.
Istilah “algorithm” sendiri berasal dari latinisasi nama Al-Khwarizmi: Algoritmi. Artinya, setiap kali kita berbicara tentang algoritma, baik dalam konteks Google Search, TikTok recommendation, atau ChatGPT, kita sebenarnya sedang mengulang jejak intelektual seorang ilmuwan abad ke-9.
Al-Khwarizmi memperkenalkan pendekatan sistematis dalam menyelesaikan persoalan dengan cara yang terstruktur, berurutan, dapat diuji ulang, dan dapat diterapkan dalam berbagai konteks. Karakter inilah yang kemudian menjadi DNA dari komputasi modern. Jadi kalau kita tarik garis lurus, maka algoritma bukanlah produk era digital. Justru era digital adalah ekstensi dari cara berpikir algoritmik yang telah dibangun lebih dari seribu tahun lalu.
Pada fase awal, algoritma bersifat deterministik, input tertentu akan menghasilkan output yang pasti. Namun dalam perkembangan AI, terjadi pergeseran menuju pendekatan yang lebih probabilistik. Machine learning tidak lagi bekerja dengan aturan tetap, tetapi dengan model yang belajar dari data. Output bukan lagi kepastian, melainkan probabilitas terbaik berdasarkan pola yang ditemukan dari data.
Di sinilah kita melihat evolusi cara berpikir. Jika algoritma klasik berfungsi untuk menyelesaikan masalah, maka algoritma di era modern dalam AI berfungsi untuk memetakan dan mempelajari pola dari masalah itu sendiri.
Dalam diskursus publik, kita sering salah paham mengangap AI sebagai sebuah “kecerdasan” yang setara dengan manusia. Padahal secara teknis, AI lebih tepat dipahami sebagai sistem prediktif. Ia bekerja dengan mengumpulkan data dalam skala besar, menemukan pola statistik, dan menghasilkan prediksi dengan tingkat kesalahan sekecil mungkin.
Meski demikian, justru karena kemampuannya dalam prediksi, AI menjadi sangat powerful. Ia mampu masuk ke berbagai domain kehidupan. Sebagai contoh dibidang ekonomi, melalui sistem pricing dan demand forecasting; politik, melalui micro-targeting pemilih; hingga sosial, melalui sistem rekomendasi konten. Dalam banyak kasus, AI tidak menggantikan manusia dalam berpikir, tetapi menggantikan manusia dalam mengambil keputusan berbasis data.
Dengan demikian algoritma tidak lagi berhenti sebagai sekadar alat. Ia mulai berfungsi sebagai infrastruktur sosial. Jika pada abad ke-20 infrastruktur utama adalah fisik seperti jalan, listrik, dan pelabuhan, maka abad ke-21 ditandai dengan munculnya infrastruktur digital, dengan algoritma sebagai inti. Algoritma menentukan informasi apa yang kita lihat, produk apa yang kita beli, bahkan opini apa yang kita bentuk. Kita hidup dalam masyarakat yang dimediasi oleh algoritma.
Konsekuensinya, algoritma tidak lagi netral. Ia menjadi arena kekuasaan. Siapa yang mengontrol algoritma, pada dasarnya mengontrol arus informasi, preferensi, dan dalam banyak kasus perilaku. AI tidak lagi sekadar isu teknologi, tetapi isu politik ekonomi dalam arti yang lebih luas.
Warisan terbesar Al-Khwarizmi sebenarnya bukan sekadar konsep algoritma, tetapi tradisi berpikir, bagaimana memecah masalah, menyusun logika, dan membangun model. Ini adalah kompetensi dasar dalam era AI. Tanpa itu, kita akan tetap berada pada posisi sebagai pengguna teknologi, bukan pencipta.
Karena itu, investasi pada AI tidak cukup hanya pada infrastruktur teknologi atau pengumpulan data. Yang lebih mendasar adalah membangun kapasitas berpikir algoritmik. Literasi data penting, tetapi tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk memahami bagaimana model bekerja, bagaimana asumsi dibangun, dan bagaimana keputusan dihasilkan.
Pada akhirnya, AI bukan sekadar isu teknologi. Ia adalah isu peradaban. Seperti halnya revolusi industri yang mengubah struktur ekonomi dan sosial, AI berpotensi mengubah cara manusia bekerja, berinteraksi, dan mengambil keputusan. Pertanyaannya bukan apakah AI akan berkembang, karena itu sudah pasti.
Pertanyaan yang lebih fundamental adalah siapa yang akan menjadi arsitek dalam sistem ini, dan siapa yang hanya menjadi pengguna.
Ketika kita berbicara tentang Al-Khwarizmi dan AI, kita tidak sekadar bercerita sejarah. Ini adalah cara untuk memahami bahwa apa yang kita hadapi hari ini adalah kelanjutan dari tradisi intelektual panjang. Bahwa algoritma bukan sekadar alat, tetapi bahasa baru dalam memahami dunia.
Dan dalam bahasa itulah, masa depan saya dan kita semua akan ditentukan.





Leave a comment