Setiap zaman melahirkan figur mahasiswa yang menjadi simbol perlawanan. Dulu, di zaman saya masih kuliah, kita mengenal aktivis kampus yang bergerak di ruang-ruang diskusi, menyusun pernyataan sikap dengan mesin ketik, dan menyebarkan selebaran secara manual. Hari ini sungguh sudah sangat jauh berbeda, satu pernyataan aktivis mahasiswa bisa tersebar ke seluruh negeri dalam hitungan menit.
Suara Gen Z memang nyaring di kanal-kanal digital. Di tingkat global nama seperti Greta Thunberg, asal Swedia, menjadi simbol keberanian dalam menyuarakan masalah lingkungan. Malala Yousafzai, asal Pakistan, memperjuangkan hak pendidikan perempuan di seluruh dunia.
Di Indonesia juga muncul nama Gen Z yang aktif bersuara dan mengajak berpikir kritis di social media, sebut saja nama Ferry Irawan atau Jeromi Polin. Fenomena kenapa Gen Z lebih berani bersuara pernah saya tulis di link https://hasanuddinali.com/2025/09/15/gen-z-dan-gelombang-baru-perlawanan/
Tiyo Ardiyanto, Ketua BEM UGM menjadi figur yang belakangan menyita perhatian publik. Bukan hanya karena substansi yang ia sampaikan dalam mengkritik kebijakan pemerintah, tetapi juga karena gaya, ekspresi, dan keberaniannya berdiri di ruang publik. Banyak yang memuji. Tidak sedikit yang mengkritik.
Bagi saya, fenomena ini menarik bukan semata soal seorang individu Tiyo. Ia adalah cermin dari tipologi generasi yang dalam buku Tipologi Anak Muda Indonesia (https://anakmuda.alvara.id/) saya sebut sebagai The Social Butterfly atau “Si Paling Eksis”. Eksis sering disalahpahami sebagai hanya sebagai narsistik semata, seolah-olah keinginan tampil identik dengan pencarian sekadar validasi sosial. Padahal dalam konteks generasi hari ini, terutama Gen Z, eksistensi adalah sebuah kebutuhan mendasar.
Generasi muda Indonesia tumbuh dalam ekosistem digital yang menuntut visibilitas. Di era media sosial, suara yang tidak terlihat hampir dianggap tidak ada. Algoritma bekerja dengan logika atensi. Siapa yang mampu mengemas pesan dengan kuat, dialah yang didengar. Siapa yang ragu-ragu, ia tenggelam.
Tipologi “Si Paling Eksis” yang saya temukan dalam riset buku tersebut bukan hanya tentang suka tampil. Ia juga tentang kecenderungan memimpin, mengorganisasi, dan membangun jaringan. Mereka aktif di organisasi kampus, komunitas, atau gerakan sosial. Mereka percaya bahwa perubahan perlu suara. Dan suara perlu panggung.
Tiyo, dalam hal ini, adalah representasi tipikal dari anak muda dengan energi eksistensial tinggi. Ia tidak berbicara dalam ruang tertutup. Ia berbicara dengan kesadaran bahwa setiap kata akan direkam, dipotong, dikomentari, bahkan dipelintir. Ia tetap memilih bicara.
Pertanyaannya, apakah ini sekadar ambisi personal, atau refleksi kebutuhan generasi?
Saya cenderung melihatnya sebagai yang kedua.
Generasi muda hari ini tumbuh di tengah tekanan kehidupan yang tidak ringan. Kelas menengah tertekan, lapangan kerja semakin kompetitif, disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan mengubah berbagai profesi, dan masa depan terasa tidak pasti. Dalam situasi seperti ini, ruang partisipasi publik menjadi penting.
Bagi tipologi “Si Paling Eksis”, diam bukan pilihan. Mereka merasa perlu hadir. Perlu menyatakan sikap. Perlu menunjukkan posisi. Bukan semata-mata untuk diri sendiri, tetapi untuk komunitas yang mereka wakili.
Namun di sinilah tantangannya. Eksistensi di era digital tidak pernah dianggap netral. Ia selalu dibaca, dinilai, dan direspons dalam spektrum yang ekstrem. Apa pun yang diucapkan bisa menjadi viral. Apa pun yang dilakukan bisa menjadi bahan perdebatan ditengah masyarakat luas.
Generasi sebelumnya mungkin juga kritis. Tetapi kritik mereka tidak hidup dalam ekosistem algoritma seperti sekarang. Hari ini, satu potongan video bisa lebih berpengaruh daripada satu makalah berjilid-jilid.
Ketika Tiyo berbicara, sebagian publik menilai latar belakangnya dan juga penampilannya. Sebagian lain mempersoalkan keberaniannya. Tidak sedikit yang langsung menilai karakter generasinya terlalu berani, kurang sopan, ingin panggung.
Padahal mungkin yang sedang kita saksikan adalah ekspresi paling alami dari generasi yang dibesarkan dalam tempaan budaya digital yang berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya.
Tipologi “Si Paling Eksis” memang memiliki dua sisi. Di satu sisi, mereka menjadi motor perubahan. Mereka berani mengangkat isu, memobilisasi dukungan, dan memaksa publik berdialog. Di sisi lain, mereka rentan terjebak pada simbolisme, terlalu fokus pada momentum viral dibanding konsistensi substansi.
Jika kita membaca Tiyo semata-mata sebagai sosok individu saja, kita akan kehilangan gambaran besarnya. Ia adalah simbol pergeseran generasi. Ia adalah tanda bahwa ruang publik Indonesia sedang diisi oleh anak-anak muda yang terus merangsek mewarnai ruang publik kita.
Dalam buku saya, saya menegaskan bahwa generasi muda Indonesia tidak satu wajah. Ada yang eksis, ada yang sangat digital, ada yang memilih santuy. Tipologi ini tidak saling meniadakan. Justru mereka saling melengkapi.
Tanpa “Si Paling Eksis”, tidak ada yang berani memulai percakapan. Tanpa “Si Digital Banget”, tidak ada yang menguasai teknologi perubahan. Tanpa “Si Santuy”, tidak ada yang mengingatkan pentingnya keseimbangan dan kesehatan mental.
Masalahnya muncul ketika kita hanya melihat sisi Si Eksis sebagai ancaman, bukan sebagai energi. Indonesia sekarang ini sedang menikmati bonus demografi . Kita sering menyebut generasi muda sebagai mesin pertumbuhan. Tetapi ”mesin” tidak akan bekerja jika kita terus mematikan tombol suaranya.
Fenomena Tiyo dan teman-temannya mungkin menjadikan kita perlu bertanya apa yang membuat tipologi Si Eksis ini tumbuh kuat? Apa kebutuhan sosial yang mereka jawab? Apa ruang dialog yang belum tersedia sehingga mereka merasa perlu bersuara keras?
Sebagai peneliti, saya melihat Tiyo sebagai sebuah representasi. Representasi dari generasi yang tumbuh dalam budaya eksistensi, dalam tekanan digital, dalam ketidakpastian ekonomi, dan dalam harapan besar untuk masa depan. Kita boleh tidak setuju dengan setiap pernyataannya. Kita boleh mengkritik substansinya. Tetapi akan lebih produktif jika kita membaca fenomenanya sebagai bagian dari transformasi sosial yang lebih luas.
Karena pada akhirnya, generasi “Si Paling Eksis” tidak akan menghilang. Mereka akan semakin banyak. Semakin percaya diri. Semakin terhubung. Pertanyaannya bukan apakah kita menyukai gaya mereka atau tidak, tapi apakah kita siap berdialog dengan generasi yang tidak lagi takut tampil di panggungnya sendiri?





Leave a comment