Setiap kali ekonomi melambat, satu pertanyaan sederhana selalu muncul di masyarakat kita adalah pengeluaran mana yang harus dikurangi, dan mana yang harus dipertahankan? Survei yang dilakukan oleh Alvara Research Center dan Inventure pada bulan Desember 2025 memberikan gambaran yang jelas tentang prioritas pengeluaran masyarakat Indonesia bila kondisi ekonomi menghadapi tekanan.
Hasil survei tersebut memetakan berbagai pos pengeluaran beberapa kategori produk berdasarkan indikator, yaitu sejauh mana mereka mempertahnaka kuantintas pengeluaranter, dan sejauh mana merekan mempertahankan frekwensi pengeluaran dalam situasi ekonomi sulit. Dari pemetaan ini, terlihat dengan jelas bahwa masyarakat tidak lagi membagi pengeluaran sekadar antara “primer” dan “sekunder”, tetapi antara yang menyentuh hajat hidup dan yang bisa ditunda.

Kebutuhan yang Tak Tersentuh Krisis
Di kuadran kanan atas terdapat kebutuhan yang nyaris “kebal krisis”. Energi, bahan pangan, internet, toilet dan sanitasi menempati posisi paling aman. Ini adalah wilayah pengeluaran yang bukan hanya dipertahankan, tetapi juga dianggap tidak bisa ditawar.
Makanan dan energi tentu tidak terlalu mengejutkan. Namun kehadiran internet dalam kelompok ini memberi sinyal perubahan besar. Internet kini bukan lagi barang pelengkap, melainkan infrastruktur kehidupan. Ini juga menjadi sinya bahwa internet sekarang ini tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Ia menyambung pekerjaan, pendidikan anak, layanan kesehatan, transaksi keuangan, hingga relasi sosial. Dalam situasi sulit, masyarakat lebih memilih menunda membeli baju baru ketimbang mematikan koneksi internet.
Sanitasi juga menunjukkan pergeseran kesadaran. Peralatan sanitasi, toilet, dan kebersihan tidak lagi dilihat sebagai kebutuhan sekunder. Pandemi Covid-19 mungkin telah meninggalkan jejak baik kita, kesadaran menjaga kesehatan meningkat dan menjadi prioritas yang tak bisa dikompromikan. Krisis ekonomi justru mempertebal kesadaran bahwa sakit adalah biaya paling mahal.
Zona Abu-Abu: Bertahan, Tapi Mulai Selektif
Di zona tengah terdapat pengeluaran yang masih dipertahankan, tetapi dengan selektivitas tinggi. Kesehatan, kecantikan, donasi dan bantuan sosial, serta langganan media digital berada di wilayah ini.
Menarik bahwa donasi dan bantuan sosial masih bertahan relatif tinggi. Ini menunjukkan bahwa dalam kesulitan, solidaritas sosial tidak sepenuhnya hilang. Masyarakat mungkin mengurangi nominal, tetapi tidak menghapus niat berbagi. Dalam budaya Indonesia, membantu orang lain bukan sekadar tindakan ekonomi, melainkan kewajiban moral dan identitas sosial.
Kesehatan juga berada di area yang relatif aman, meski tidak setinggi pangan dan energi. Ini mencerminkan logika pragmatis masyarakat, berobat tetap penting, tetapi biaya kesehatan sering kali diatur ulang, memilih fasilitas yang lebih murah, menunda perawatan non-darurat, atau beralih ke pengobatan preventif dan mungkin juga pengobatan alternatif.
Sementara itu, langganan media digital bertahan di batas bawah zona tengah. Masyarakat masih ingin terhubung dengan informasi dan hiburan, tetapi mulai pilih-pilih, berlangganan satu platform saja, berbagi akun, atau berpindah ke layanan gratis.
Yang Pertama Dikorbankan Saat Krisis
Kuadran kiri bawah memperlihatkan wajah paling nyata dari penyesuaian ekonomi. Wisata, otomotif, hiburan, makan di luar, pakaian, furnitur rumah tangga, perawatan kecantikan, hingga hobi dan game menjadi pengeluaran yang paling cepat dikurangi.
Ini adalah pengeluaran yang berhubungan dengan gaya hidup, simbol status, dan kesenangan personal. Saat tekanan meningkat, masyarakat secara kolektif sepakat bahwa pengeluaran semacam ini bisa ditunda tanpa mengancam kelangsungan hidup.
Namun menariknya, bukan berarti kebutuhan rekreasi dan hiburan sepenuhnya ditinggalkan. Polanya mungkin bukan menghilang, melainkan berubah bentuk. Makan di luar diganti masak di rumah, wisata diganti staycation murah atau hiburan digital, hobi mahal diganti aktivitas yang lebih sederhana.
Dalam konteks ini, krisis bukan hanya mengurangi daya beli, tetapi juga memaksa kreativitas konsumsi.
Krisis sebagai Cermin Nilai Sosial
Jika ditarik lebih dalam, pemetaan ini sesungguhnya bukan melulu tentang uang, melainkan tentang nilai. Saat sumber daya terbatas, masyarakat menunjukkan apa yang mereka anggap esensial. Kebutuhan dasar fisik, konektivitas digital, kesehatan, dan relasi sosial menempati posisi teratas.
Sebaliknya, konsumsi simbolik yang bertujuan menunjukkan status atau kesenangan sesaat menjadi korban pertama. Ini menandai pergeseran penting dalam perilaku kelas menengah Indonesia, yang selama satu dekade terakhir menjadi motor konsumsi nasional.
Kelas menengah yang dulu agresif berbelanja kini lebih berhati-hati, lebih rasional, dan lebih berorientasi fungsi. Konsumsi tidak lagi sekadar soal “ingin”, tetapi “perlu”.
Pada akhirnya, survei ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghadapi tekanan ekonomi dengan cara yang relatif lebih rasional. Mereka tidak panik, tidak serampangan, tetapi menata ulang prioritas. Mereka tahu apa yang bisa ditunda, dan apa yang tidak boleh disentuh.
Krisis memang menyempitkan pilihan, tetapi juga memperjelas nilai. Dalam kondisi sulit, masyarakat belajar bahwa hidup layak tidak selalu identik dengan konsumsi berlebihan. Yang terpenting adalah bertahan, tetap sehat, tetap terhubung, dan tetap saling membantu.

Leave a comment