Setiap akhir tahun, jalanan menuju destinasi wisata selalu penuh. Bandara sesak, rest area ramai, hotel-hotel penuh. Fenomena ini nyaris menjadi ritual tahunan. Menariknya, kepadatan wisata akhir tahun itu terus terjadi bahkan ketika situasi ekonomi sedang tidak sepenuhnya ramah. Meski kondisi paruh terakhir tahun 2025 kondisi makro ekonomi Indonesia lebih stabil tapi kondisi ekonomi masyarakat secara umum belum pulih dan narasi kehati-hatian konsumsi terus digaungkan. Namun, liburan tetap berlangsung.
Di sinilah wisata menarik untuk dibaca, bukan sekadar sebagai sektor ekonomi, melainkan sebagai cermin perilaku sosial dan psikologis masyarakat. Data Survei Alvara Research Center bulan September 2025 menunjukkan bahwa wisata bukan lagi aktivitas pelengkap, melainkan sudah menjadi bagian dari cara orang Indonesia lintas generasi menjaga keseimbangan hidupnya.

Survei tersebut menunjukkan bahwa 56,7 persen Gen Z dan 52 persen Milenial melakukan wisata setiap tahun. Angka ini menurun pada Gen X (41,1 persen) dan Baby Boomers (39,7 persen), tetapi tetap menunjukkan satu pesan penting, wisata belum pernah benar-benar ditinggalkan. Ia hanya berubah makna, frekuensi, dan bentuknya.
Fenomena wisata akhir tahun harus dibaca dalam konteks ini.
Wisata Bukan Lagi Soal Kemewahan
Di masa lalu, liburan sering diasosiasikan dengan kemewahan. Pergi jauh, menginap di hotel berbintang, menghabiskan anggaran besar. Kini, makna itu bergeser. Wisata menjadi kebutuhan emosional, cara sederhana untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang menumpuk.
Data Alvara menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia, dari Gen Z hingga Baby Boomers, melakukan wisata 2–3 kali dalam setahun. Pola ini konsisten di semua generasi, dengan proporsi lebih dari 50 persen responden berada di kategori tersebut. Artinya, wisata sudah menjadi aktivitas yang cukup rutin untuk direncanakan, tetapi tidak berlebihan.

Ini penting. Wisata tidak lagi dimaknai sebagai pelarian besar-besaran, melainkan sebagai ritme hidup. Akhir tahun menjadi salah satu titik ritme itu, momen jeda setelah satu tahun penuh tekanan kerja, target, dan ketidakpastian.
Generasi Muda dan Ritual Pelarian
Generasi muda, khususnya Gen Z, adalah kelompok yang paling konsisten melakukan wisata tahunan. Namun menariknya, mereka bukan yang paling ekstrem. Hanya 6,3 persen Gen Z yang berwisata lebih dari lima kali setahun. Mayoritas tetap berada di kategori moderat.
Ini menunjukkan karakter unik generasi muda hari ini. Mereka ingin bergerak, menjelajah, dan mengalami hal baru, tetapi tetap rasional dalam batasan anggaran. Wisata bagi mereka bukan kemewahan, melainkan cara mengatur emosi dan identitas. Tidak heran jika akhir tahun menjadi momen yang sangat dinantikan: bukan sekadar libur panjang, tetapi simbol “menutup satu bab dan membuka bab lain”.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang memaknai liburan sebagai istirahat fisik, generasi muda memaknainya sebagai pengalaman, sesuatu yang bisa dikenang, diceritakan, dan dibagikan.
Generasi Tua dan Wisata yang Selektif
Pada Gen X dan Baby Boomers, wisata tetap ada, tetapi lebih selektif. Hampir 30 persen Baby Boomers hanya berwisata satu kali setahun, tertinggi dibanding generasi lain. Ini menunjukkan perubahan orientasi dari eksplorasi ke kenyamanan.
Wisata bagi generasi ini bukan soal seberapa sering, tetapi seberapa bermakna. Akhir tahun sering dimanfaatkan untuk bertemu keluarga, pulang ke kampung halaman, atau berkumpul lintas generasi. Di sinilah wisata bertemu dengan tradisi sosial.
Akhir tahun, bagi banyak keluarga Indonesia, bukan hanya soal jalan-jalan, tetapi menyambung relasi yang renggang oleh kesibukan.
Alam sebagai Ruang Pelarian Kolektif
Satu temuan paling menarik dari data Alvara adalah dominasi wisata alam di semua generasi. Sebanyak 72,8 persen Gen Z, 64,3 persen Milenial, 57,1 persen Gen X, dan 58,3 persen Baby Boomers menyebut wisata alam sebagai aktivitas paling menarik.

Angka-angka ini bicara banyak. Di tengah kehidupan yang semakin digital, cepat, dan bising, alam menjadi ruang pemulihan kolektif. Pantai, gunung, dan desa wisata bukan hanya destinasi, tetapi tempat untuk bernapas.
Fenomena lonjakan wisata alam di akhir tahun memperkuat pesan ini. Ketika kalender mendekati Desember, kebutuhan akan ruang terbuka, udara segar, dan suasana hening meningkat drastis. Wisata alam bukan lagi soal petualangan, melainkan kesehatan mental.
Kuliner dan Budaya: Wisata yang Bertambah Usia
Menarik pula melihat pola wisata kuliner dan budaya. Minat terhadap wisata kuliner meningkat seiring usia: dari 17 persen pada Gen Z menjadi lebih dari 30 persen pada Gen X dan Baby Boomers. Ini menunjukkan pergeseran selera dari aktivitas fisik ke pengalaman yang lebih aman dan nyaman.
Wisata budaya memang masih kecil secara angka, tetapi meningkat signifikan pada generasi lebih tua. Ini menandakan bahwa wisata tidak bisa dipukul rata. Akhir tahun bagi sebagian orang adalah momen refleksi, bukan eksplorasi.
Akhir Tahun sebagai Cermin Sosial
Jika dirangkum, fenomena wisata akhir tahun menunjukkan satu hal penting: masyarakat Indonesia tidak berhenti bergerak, meski sedang berhati-hati. Mereka mungkin mengurangi belanja besar, menunda pembelian barang tahan lama, atau menekan konsumsi harian. Namun wisata dalam bentuk yang lebih sederhana, tetap dipertahankan.
Ini bukan kontradiksi. Ini adalah strategi bertahan.
Wisata akhir tahun menjadi cara masyarakat menjaga kewarasan di tengah tekanan ekonomi, sosial, dan psikologis. Ia menjadi bentuk konsumsi yang bermakna, bukan konsumsi impulsif.
Lebih dari Sekadar Sektor Ekonomi
Membaca data ini, kita perlu berhenti melihat wisata semata-mata sebagai sektor pendapatan daerah atau target kunjungan. Wisata adalah indikator kesejahteraan emosional masyarakat. Ketika orang masih mau dan mampu berwisata, itu menandakan masih ada ruang optimisme, meski terbatas.
Akhir tahun selalu akan ramai. Bukan karena orang lupa pada kesulitan, tetapi karena manusia membutuhkan jeda. Dan wisata, dalam berbagai bentuknya, telah menjadi jeda itu.
Di situlah maknanya.


Leave a comment